Megawati Soekarnoputri menyatakan dukungan terhadap gerakan kemanusiaan yang bertujuan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak penyintas perang.
03 Feb 2025 09:43 WIB · Politik & Hukum
Semua hadirin di dalam Museum Gereja San Salvatore, Roma, Italia, Minggu (2/2/2025) petang, terdiam. Mereka menyaksikan film berjudul Romchyk yang diputar dalam acara yang digelar oleh aliansi lembaga-lembaga filantropi untuk korban dan penyintas perang, Unbroken Kids Alliance. Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang hadir bersama putra dan putrinya juga menyimak dengan saksama film pendek yang dibuat oleh Kostiantyn Bidneko itu.
Film Romchyk diangkat dari kisah nyata seorang anak penyintas perang Rusia-Ukraina, Roman Oleksiv. Film ini mengisahkan kehidupan seorang anak Ukraina berusia 8 tahun yang gemar berdansa tiba-tiba berubah drastis lantaran perang.
Serangan rudal menyebabkan hampir separuh tubuh anak kecil itu terbakar. Pada saat yang sama, ia juga harus kehilangan ibunya. Rhomchyk juga harus mengenakan topeng untuk menutup kepala dan wajahnya setelah sembuh dan pulang dari rumah sakit. Topeng itu hanya terbuka di bagian mata, mulut, dan telinga, mirip topeng yang dikenakan para superhero.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/e3928c47-dee7-4549-af5b-90a0267a22e1_jpeg.jpg)
Kehidupan Romchyk menjadi tidak mudah setelah serangan rudal itu. Ia trauma pada suara ledakan, bahkan saat mendengarkan suara balon meletus. Ia juga tidak mau langsung kembali berlatih balet bersama dengan teman-temannya seperti sebelum perang terjadi. Butuh waktu berbulan-bulan hingga ia kembali bangkit, menerima kondisinya dan kembali berlatih balet.
Suasana berubah sendu ketika Roman Oleksiv diminta untuk mengenalkan diri setelah film selesai diputar. Ditemani ayahnya, Yaroslav Oleksiv, Roman berdiri dan berbicara di depan deretan kursi yang diduduki Megawati, Ketua DPR RI Puan Maharani, Wakil Menteri Tenaga Kerja dan Kebijakan Sosial Italia Maria Teresa Belluci, dan salah satu pendiri 5P Global Movement Arsjad Rasjid.
Megawati menyempatkan diri menyapa Roman dan ayahnya selepas acara. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu beberapa kali memeluk dan menepuk hangat pundak Roman.
Kepada Roman, Megawati bercerita bahwa dirinya pun bisa berdansa, tetapi dansa ala Indonesia. Tak lupa, Megawati memberikan dukungan dan semangat untuk Roman.
”Be strong, be carefull,” kata Megawati. Dalam acara itu, Megawati juga menerima sebuah lukisan wajah seorang anak kecil.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/b9f79dd7-639b-47da-b9e6-176fdd0fa576_jpeg.jpg)
Puan dan putra Megawati, M Rizki Pratama, turut mendekati bocah penyintas perang Rusia-Ukraina itu. Mereka lantas berfoto bersama.
Megawati tengah berada di Roma untuk menjalankan sejumlah agenda. Selain bertemu dengan sukarelawan dan anak-anak penyintas perang di Roma, ia juga akan hadir dan berbicara dalam World Leaders Summit on Children’s Rights serta dijadwalkan kembali bertemu secara khusus dengan Paus Fransiskus.
Tidak hanya Roman Oleksiv, dalam kesempatan itu Megawati juga bertemu dengan para sukarelawan perang. Bersama dengan sejumlah tokoh yang hadir, Megawati membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan-gerakan kemanusiaan untuk memberikan harapan dan perubahan bagi anak-anak dan keluarga korban perang. Mereka yang membubuhkan tanda tangan di antaranya adalah Puan, Teresa Maria Belluci, dan Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan Michael Trias Kuncahyono.
”Saya sangat bangga dan merasa terhormat berada dalam forum yang sangat luar biasa ini. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga masa depan anak-anak di belahan dunia mana pun mereka berada karena mereka adalah harapan masa depan bagi peradaban dunia,” kata Megawati saat memberikan sambutan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/ca0a9a85-5c71-4625-b9b0-33e4093cc5df_jpg.jpg)
Aliansi Unbroken Kids dibentuk oleh tiga lembaga kemanusiaan, yakni Unbroken Foundation, National Confederation lf Misericordie of Italy, dan 5P Global Movement. Aliansi ini diumumkan pada 29 Januari 2025 di Roma, Italia, di sela-sela pertemuan internasional tentang hak anak. Aliansi ini dibentuk untuk memberikan bantuan, baik medis dan psikologis hingga rehabilitasi berkelanjutan, bagi korban perang.
Salah satu pendiri 5P Global Movement, Arsjad Rasjid, dalam sambutannya menyampaikan, Aliansi Unbroken Kids dibentuk dengan tujuan memberikan harapan baru bagi anak-anak korban perang. Tidak hanya merehabilitasi, tetapi juga mengupayakan pemenuhan hak-hak mereka.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga masa depan anak-anak di belahan dunia mana pun mereka berada karena mereka adalah harapan masa depan bagi peradaban dunia.
Megawati menyampaikan, apa yang dilakukan lembaga-lembaga kemanusiaan yang tergabung dalam Aliansi Unbroken Kids ini merupakan perbuatan mulia. Para sukarelawan dan pejuang kemanusiaan yang tergabung di dalamnya telah berjuang menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban perang. Artinya, mereka telah menyelamatkan masa depan peradaban dunia.
”Kalian semua telah menyelamatkan dunia. Kalian telah melaksanakan langkah besar karena anak-anak korban perang adalah permaga untuk masa depan peradaban yang lebih baik,” tuturnya.
Karena itu, atas nama bangsa Indonesia, Megawati menyampaikan apresiasi tinggi terhadap para pejuang kemanusiaan. Seusai acara, ia sempat pula berdialog dengan para sukarelawan dari Konfederasi Nasional Misericordia Italia yang banyak menjalankan tugas-tugas kemanusiaan di Palestina dan Ukraina. Para sukarelawan itu lantas mengantar Megawati menuju kendaraan yang akan membawanya kembali ke hotel tempatnya menginap di Roma.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/1d3ea8e8-eb6f-4871-a0b7-9042e3361de0_jpg.jpg)
Dukungan bagi inisiatif ini juga datang dari otoritas Italia. Dalam sambutan singkatnya, Maria Teresa Belluci menyampaikan bahwa Italia berkomitmen untuk terus membantu masyarakat korban perang, terutama kelompok yang paling rentan, seperti anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas. ”Kami, Pemerintah Italia, akan selalu membantu mereka yang berada dalam kesulitan,” tuturnya.
Menteri Tenaga Kerja dan Kebijakan Sosial Italia itu menyampaikan keprihatinannya atas perang yang menyebabkan banyak korban. Saat ini setidaknya terdapat lebih dari 470 juta orang yang menjadi korban perang di 59 negara di seluruh dunia. Sebagian besar korban perang, baik di Timur Tengah, Afrika, maupun Eropa, khususnya Ukraina, merupakan anak-anak.
”Angka-angka itu menyedihkan sehingga kita harus memperkuat komitmen kemanusiaan dan tanpa henti membela perdamaian serta hak-hak anak,” tuturnya.
Penulis:
Anita Yossihara dari Roma, ItaliaEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .