Kudus di Jateng mewakili Indonesia dalam survei keterampilan sosial dan emosional oleh OECD. Hasil survei bakal dipertimbangkan dalam penyusunan peta jalan.
07 Des 2024 21:26 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
KUDUS, KOMPAS — Pembelajaran mengenai keterampilan sosial dan emosional untuk pelajar pendidikan dasar dan menengah di Kudus, Jawa Tengah, memperoleh nilai baik dalam survei terbaru dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Pengajaran keterampilan sosial dan emosional di wilayah itu bakal jadi salah satu acuan penyusunan peta jalan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher mengatakan, dirinya terkesan dengan Kudus yang dalam survei tersebut mendapatkan nilai paling tinggi pada pola pikir bersama tentang dampak keterampilan sosial dan emosional. Survei itu menyebutkan, para siswa dan guru yang disurvei setuju bahwa keterampilan sosial dan emosional berdampak pada kesetaraan sosial sebesar 40 persen serta peningkatan lapangan kerja dan keberhasilan ekonomi sebesar lebih dari 50 persen.
”Hasil survei itu sangat menonjol sehingga saya datang ke sekolah-sekolah di Kudus untuk melihat langsung bagaimana keterampilan sosial dan emosional diajarkan. Di sebagian besar lokasi (yang disurvei), guru merasa tidak mampu mengajarkan keterampilan sosial dan emosional. Namun, di Kudus, hanya 3 persen guru yang merasa tidak mampu membantu siswanya mengembangkan keterampilan sosial dan emosional. Ini angka yang luar biasa,” tutur Andreas di sela-sela pemaparan hasil survei OECD di Kudus, Sabtu (7/12/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/07/ef32cb4671a44ceef635f0e6c8927003-IMG_9566.JPG)
OECD menyurvei pembelajaran keterampilan sosial dan emosional tersebut pada 16 lokasi di dunia tahun 2023. Di Kudus, 3.400 siswa berusia 10 tahun dan 3.500 siswa berusia 15 tahun mengikuti survei tersebut. Kendati tak disebutkan angkanya, para guru di Kudus juga turut disurvei.
Menurut Andreas, dari survei itu juga diketahui, pendidikan sosial dan emosional terintegrasi di hampir semua (99 persen) mata pelajaran. Angka itu jauh lebih tinggi dari angka rata-rata, yakni 83 persen.
Meskipun pendidikan sosial dan emosional terintegrasi secara luas di seluruh mata pelajaran, masih ada sekitar 12 persen siswa di Kudus yang bersekolah di sekolah yang tidak semua guru dan kepala sekolahnya sepakat bahwa mereka bertanggung jawab atas pembelajaran keterampilan sosial dan emosional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/11/a6966852-e9f9-433a-8f36-ede3e71810d4_jpg.jpg)
Dalam survei tersebut, Andreas juga menyoroti masih adanya perundungan di lingkungan pendidikan di Kudus. Sebanyak 14 persen siswa yang disurvei menyatakan menjadi korban dan pelaku perundungan, sebanyak 20 persen menjadi korban saja, dan sebanyak 6 persen menjadi pelaku.
”Temuan-temuan dalam penelitian ini membuat kita tahu secara spesifik tetang masalah atau hambatan yang terjadi sehingga (kita) bisa melakukan perbaikan-perbaikan. Persoalan yang terjadi merupakan sesuatu yang bisa dihilangkan melalui sosialisasi dan edukasi,” ucap Andreas.
Koordinator Nasional Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan Kemendikdasmen Ananto Kusuma Seta mengaku cukup puas dengan hasil survei OECD. Ananto juga mengaku terkesan dengan bagaimana budaya di Kudus dirawat dalam konteks hubungan antara guru dengan siswa, orangtua siswa dengan guru, hingga guru dengan guru.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/07/44c805ccb5707e89b42a0026dac7810f-IMG_9564.JPG)
Menurut Ananto, salah satu hal yang berkesan untuk OECD dari Kudus adalah adanya program guru berbagi. Dalam program itu, guru membagikan praktik baik, tidak hanya kepada siswa, tetapi juga antarguru.
”Tadi disebutkan Pak Andreas bahwa di Dubai itu hubungannya transaksional. Sekolah sebagai penyedia dan orangtua sebagai klien. Guru dan datang untuk mengajar, dibayar, lalu selesai. Kalau di Kudus bukan transaksional, tapi kolegial. Ini anak kita, kita bantu dan tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Sementara itu, terkait masih ditemukannya adanya perundungan di lingkungan sekolah, Ananto menyebut hal itu masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia berkomitmen, pihaknya bakal berupaya maksimal untuk menekan perundungan di sekolah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/08/a22302ae-8a7d-40e0-bd03-5aa178c05224_jpg.jpg)
Survei OECD di Kudus itu dinilai Ananto keluar di waktu yang tepat. Hal itu karena pekan depan Kemendikdasmen akan menyusun peta jalan selama lima tahun ke depan. Temuan baik di Kudus dalam survei itu akan menjadi salah satu acuan. Adapun hasil yang kurang baik pada survei itu juga akan dibahas untuk menentukan langkah-langkah penanganannya.
”Dalam lima tahun ke depan, kami akan berfokus pada penguatan pendidikan karakter. Selain itu, kami juga akan meningkatkan kompetensi guru karena guru merupakan kunci sukses membentuk anak didik berkualitas,” tutur Ananto.
Deputi Direktur Bakti Pendidikan Djarum Foundation Felicia Hanitio mengatakan, pihaknya turut membantu meningkatkan kemampuan guru dan kepala sekolah di Kudus dalam mengajarkan keterampilan sosial dan emosional. Upaya itu dilakukan dengan mengadakan sejumlah pelatihan bagi guru dan kepala sekolah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/07/60fb0c0545adc35c65ddbee0f98c923c-IMG_9575.JPG)
”Sejauh ini, pelatihan yang kami lakukan sudah menjangkau 42 sekolah di Kudus, dari jenjang SD dan MI hingga SMP/MTS. Di samping itu, kami juga mengadakan program lain di jenjang lain dan ini akan terus berlanjut. Kami bekerja sama dengan pusat data guru, yang sudah dibangun bersama Pemerintah Kabupaten Kudus agar mereka yang telah dilatih bisa berbagi antarsekolah, termasuk yang belum jadi mitra,” ucap Felicia.
Ia menambahkan, pencegahan perundungan di sekolah juga menjadi salah satu perhatian Bakti Pendidikan Djarum Foundation di Kudus. Menurut dia, pihaknya bakal melakukan riset lebih dalam agar bisa mengintegrasikan materi penanganan perundungan dalam pelatihan yang mereka gelar ke depan.
”Kita perlu menangani perundungan ini dari akar masalahnya, termasuk menjangkau orangtua siswa karena pendidikan harus berkelanjutan antara yang terjadi di rumah dan di sekolah,” kata Felicia.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Irma Tambunan