Peringatan 50 tahun unjuk rasa pelajar dan mahasiswa yang membangkitkan perlawanan diskriminasi di Afrika Selatan.
17 Jun 2026 12:15 WIB · Internasional
AP/Themba Hadebe
Foto seorang bocah berusia 12 tahun yang sekarat digendong pria paruh baya itu mengejutkan dunia. Wajah pria itu menyiratkan kepanikan yang tiada terkira. Mulutnya menganga seakan tak tau harus berkata apa.
Sementara di sebelahnya, seorang gadis seumuran bocah yang sekarat, terlihat menangis, meraung mengikuti pria itu. Di belakangnya, ratusan pasang mata tertuju pada kejadian itu. Peristiwa ini terjadi di Soweto, Afrika Selatan, 16 Juni 1976, 50 tahun lalu.
Bocah sekarat itu bernama Hector Pieterson. Sementara pria yang menggendongnya bernama Mbuyisa Makhuba, seorang aktivis antiapartheid dan bocah perempuan yang menangis itu bernama Antoinete Sithole, kakak Pieterson.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/4c3f67b0-7d38-4a2d-8ac3-48f7d4f254b6.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/efeb9a90-db83-4090-9974-e7bb1c1fdd1a.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/8306f973-21fe-45f2-bb53-ba2377f07d62.jpg)
Anak-anak sekolah berlari menaiki bukit yang mengarah lokasi pawai peringatan 50 tahun Pemberontakan Soweto, 16 Juni 1976, di Soweto dekat Johannesburg, pada Selasa (16/6/2026).
AFP/EMMANUEL CROSET
Peserta berjalan sambil membawa poster selama pawai yang menandai peringatan 50 tahun Pemberontakan Soweto Selasa (16/6/2026). AFP/EMMANUEL CROSET
Murid-murid melihat mengikuti pawai yang menandai peringatan 50 tahun Pemberontakan Soweto 16 Juni 1976, di Soweto dekat Johannesburg, pada Selasa (16/6/2026).
AFP/EMMANUEL CROSET
Peristiwanya berawal dari unjuk rasa ribuan pelajar dan mahasiswa yang menolak diberlakukannya bahasa Afrikaans sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah. Bahasa Afrikaans dikenal secara luas oleh siswa berkulit hitam sebagai bahasa para penindas mereka.
Rombongan besar ribuan pengunjuk rasa itu berjalan kaki menuju Stadion Orlando di Soweto, jantung kota di Johannesberg. Polisi yang telah memblokade jalanan, segera mengarahkan moncong senapan ke arah kerumunan dan langsung menembakinya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/56da807b-674b-4f02-9a8b-bd38b006da1d.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/06/17/944411fe-9baf-44e5-aaf0-9cc279481f82_jpg.jpg)
Pieterson yang saat itu berada di barisan paling depan, menjadi salah satu korban pertama. Tak berapa lama, Makhuba yang melihat peristiwa itu segera menggendong Pieterson, dan membawanya menjauh dari kerumunan. Seorang jurnalis bernama Sam Nzima mengabadikan peristiwa itu dan memuatnya di surat kabar tempatnya bekerja.
Foto itu segera mengejutkan dunia dan menjadi simbol kebrutalan apartheid. Foto yang sama lantas dicetak di surat kabar di seluruh dunia. Penembakan tersebut memicu pemberontakan luas terhadap pemerintah di seluruh negeri selama berbulan-bulan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/cf73c5e2-cd6e-4043-8df1-3ca62a58d849.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/2419f148-9e35-47dc-b633-d3a7d69ccb65.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/deb58cb1-0d3a-4158-82d4-70cad89e4e3c.jpg)
Tragedi ini juga menjadi titik balik besar dalam perjuangan melawan apartheid. Setidaknya 176 orang tewas, meskipun beberapa perkiraan menyebutkan jumlah korban tewas mencapai ratusan dalam beberapa minggu berikutnya.
50 tahun berlalu
Setengah abad setelah pemberontakan yang membantu menjatuhkan apartheid di Afrika Selatan, hanya sedikit yang tersisa di jalan-jalan Soweto. Tempat ini adalah lokasi pertumpahan darah yang terjadi di sana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/6db8dcee-dde7-4963-b12b-3ba5c03645e1.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/e6d38388-453e-434f-a94e-0ae3024a7840.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/9608cc43-31f0-4c75-980f-601ce98f7182.jpg)
Suasana latihan drama penggambaran peristiwa penembakan di Soweto, Afrika Selatan, Senin (15/6/2026).
AP/Themba Hadebe
Warga berjalan melewati tanda yang menggambarkan gambar yang diambil selama Pemberontakan Soweto pada 16 Juni 1976 di Johannesburg pada Kamis (21/6/2026).
AFP/EMMANUEL CROSET
Warga berkumpul di tempat penembakan saat unjukrasa Pemberontakan Soweto pada 16 Juni 1976 di Johannesburg pada Kamis (21/6/2026).,
AFP/EMMANUEL CROSET
Cat merah tua yang dulunya dimaksudkan untuk mengenang pembantaian 16 Juni 1976 di permukiman kumuh di luar Johannesburg telah lama menghilang. Trotoar menuju tempat polisi menembaki anak-anak sekolah kulit hitam yang berunjuk rasa yang akhirnya menjadi sebuah titik balik dalam perjuangan melawan pemerintahan minoritas kulit putih, kini makin kusam.
Setelah berakhirnya apartheid pada 1994, pemerintah demokratis yang baru menetapkan tanggal 16 Juni sebagai Hari Pemuda Nasional, hari libur nasional yang dimaksudkan untuk menghormati pemberontakan pelajar dan mahasiswa tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/10c964cb-18e2-44dc-b21f-8063d540af8b.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/ddf502dd-51c6-4ac7-b9cd-a084e8fb6cb5.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/78117cd8-e746-4f48-b7ac-445e4ab155ae.jpg)
Harapan yang tinggi
Seperti banyak kerabat korban lainnya, Sithole tetap menyimpan rasa pahit atas kurangnya keadilan untuk kejahatan era apartheid. ”Beberapa keluarga, bahkan saat ini, belum menemukan ketenangan batin,” katanya.
Kesedihan yang belum terselesaikan diperparah oleh realitas Afrika Selatan saat ini. Lebih dari tiga dekade setelah pemilihan demokratis pertama negara itu membawa Mandela ke tampuk kekuasaan, kehidupan belum sepenuhnya membaik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/49f68654-bb89-4ca4-93af-0a2cc890ade8.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/26e1a735-a322-45d6-b9df-b5de111f2d86.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/06/17/41b9e2a6-c1aa-4543-baaa-597bf7e3fb7f.jpg)
Tingkat pengangguran mencapai lebih dari 32 persen, sementara kejahatan kekerasan tetap menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, dengan rata-rata lebih dari 60 pembunuhan per hari. Dalam banyak kejadian masih banyak kesenjangan antara janji-janji yang ingkar saat ini dan pengorbanan pada 1976.
Para pemuda yang kini terbaring di kuburan mereka, seharusnya terguncang dan berkata, ”Bukan untuk inilah kami mati.” (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase