Pembicaraan Telepon Trump-Putin Dinilai Abaikan Eropa

Isu yang dibicarakan ialah niat mereka untuk bertemu dan mendiskusikan upaya mengakhiri perang di Ukraina. Eropa menegaskan, Kyiv dan Eropa harus dilibatkan.

13 Feb 2025 18:30 WIB · Internasional

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

JAKARTA, KOMPAS — Kehadiran Donald Trump di kursi kepresidenan Amerika Serikat terus memicu keterkejutan dan membawa perubahan cepat. Setelah membuat teperangah dunia dengan tarif dan tekanan agar warga Palestina keluar dari Gaza, kini Trump memulai aksinya untuk menuntaskan perang di Ukraina.

Merujuk pernyataan Kepala Intelijen Luar Negeri Rusia, Sergei Naryskin kepada kantor berita RIA, Kamis (13/2/2025), Trump telah menelepon mitranya, Presiden Rusia Vladimir Putin. Pembicaraan itu disebutkan berlangsung secara mendalam, bermakna, dan produktif.

Trump dan Putin berbicara selama kurang lebih 1 jam. Salah satu isu penting yang mereka bicarakan ialah keinginan untuk bertemu dan segera memulai diskusi untuk mengakhiri perang di Ukraina. Perkembangan siknifikan itu ditanggapi beragam oleh sejumlah pihak, termasuk sekutu Rusia dan AS.

Eropa gelisah

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan, kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina tidak boleh dipaksakan pada Kyiv. ”Yang perlu dipastikan ialah tidak ada perdamaian yang dipaksakan,” kata Scholz kepada kantor berita Politico.

Seorang pria berjalan melewati mobil-mobil yang terbakar di halaman sebuah perumahan setelah serangan rudal terjadi di Odesa, Ukraina, pada Selasa (28/1/2025).

Dengan prihatin, ia mengatakan, seharusnya kesatuan transatlantik harus selalu dijaga teguh. ”Sangat jelas bagi saya bahwa tidak akan ada solusi yang tidak melibatkan AS,” kata Scholz.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Perancis Sebastien Lecornu mengatakan, pembicaraan antara Trump dan Putin membuat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menghadapi moment of truth atau ”momen kebenaran yang krusial”. Dari perspektif NATO, Amerika Serikat dan Rusia secara bilateral telah memasuki fase penting tentang bagaimana mengakhiri perang di Ukraina.  

”Publik menyebut NATO sebagai aliansi militer yang paling penting dan terkuat dalam sejarah. Itu benar secara historis, tetapi pertanyaannya adalah, apakah itu akan tetap benar 10 atau 15 tahun mendatang,” kata Lecornu.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyesalkan langkah Trump. Menurut dia, Trump telah memberi ”konsesi” kepada Rusia, bahkan sebelum perundingan damai mengenai Ukraina dimulai.

”Menurut saya, akan lebih baik untuk berbicara mengenai kemungkinan keanggotaan NATO bagi Ukraina atau kemungkinan hilangnya wilayah di meja perundingan,” kata Pistorius menjelang pertemuan NATO di Brussels.

Germany's Defense Minister Boris Pistorius speaks with the media as he arrives for a meeting of NATO defense ministers at NATO headquarters in Brussels, Thursday, Feb. 13, 2025. (AP Photo/Harry Nakos)

Eropa layak khawatir, pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina akan bersifat sepihak dan merugikan Kyiv. Sebagaimana Jerman dan Perancis, Polandia dan Inggris juga memiliki sikap serupa. Mereka menegaskan, tidak ada perundingan damai tanpa melibatkan Ukraina.

London menegaskan, Ukraina dan Eropa harus menjadi bagian dari setiap perundingan damai. ”Tidak akan ada perundingan tentang Ukraina tanpa Ukraina, dan suara Ukraina harus menjadi inti dari setiap perundingan,” kata Menteri Pertahanan Inggris John Healey.

”Eropa harus menjadi bagian dari negosiasi ini,” kata Menteri Pertahanan Estonia Hanno Pevkur. ”Eropa berinvestasi dalam pertahanan Ukraina, dan Eropa membangun kembali Ukraina dengan uang Uni Eropa, dengan bantuan bilateral kami. Jadi, kami harus ada di sana.”

Menanggapi kegelisahan mitranya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, niat Trump untuk mengakhiri perang Ukraina bukan pengkhianatan terhadap Kyiv. ”Tidak ada pengkhianatan di sana. Ada pengakuan bahwa seluruh dunia dan Amerika Serikat berinvestasi dan tertarik pada perdamaian,” kata Hegseth.

Selain itu, menurut dia, tidak realistis bagi Ukraina untuk mendapatkan kembali semua wilayahnya atau menjadi anggota NATO.

United States Secretary of Defense Pete Hegseth, center, speaks with Germany's Defense Minister Boris Pistorius, right, and Finland's Defense Minister Antti Hakkanen, left, during a meeting of the North Atlantic Council in defense ministers format at NATO headquarters in Brussels, Thursday, Feb. 13, 2025. (AP Photo/Geert Vanden Wijngaert)

Tanggapan Rusia-China

Tanggapan sebaliknya muncul dari Moskwa. Menurut Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev, Eropa cemburu atas pembicaraan Trump-Putin. Dari perspektif Moskwa, pembicaraan kedua pemimpin negara itu memperlihatkan bahwa kekuatan Eropa, dalam hal ini NATO, di panggung global telah melemah. ”Perawan tua yang dingin di Eropa marah karena cemburu dan marah,” tulis Medvedev di Telegram.

Menurut dia, Eropa tidak diajak berdialog atau diberi tahu mengenai pembicaraan Trump dan Putin. ”Itu menunjukkan perannya yang sebenarnya di dunia,” kata Medvedev. ”Era Eropa sudah berakhir.”

Lebih jauh ia mengatakan, harapan Barat untuk bisa mengalahkan Rusia tidak akan tercapai.

Mitra dekat Rusia, China, mengapresiasi pembicaraan Trump-Putin. ”Baik Rusia maupun Amerika Serikat adalah negara yang memiliki pengaruh besar. China senang melihat Rusia dan AS memperkuat komunikasi dan dialog mengenai serangkaian isu internasional,” kata juru bicara kementerian luar negeri Guo Jiakun dalam jumpa pers di Beijing.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W