Pembunuhan Direktur RS Indonesia di Gaza, Bukti Israel Sasar Tenaga Kesehatan

Sekitar 1.400 tenaga kesehatan tewas oleh serangan Israel sejak Oktober 2023. Serangan ke fasilitas dan tenaga kesehatan melanggar hukum internasional.

03 Jul 2025 10:30 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

GAZA, KAMIS — Pembunuhan terstruktur kepada pekerja kesehatan di Gaza terus dilancarkan Israel. Marwan Al-Sultan, Direktur RS Indonesia di Gaza, hanya salah satu dari korban.

Dalam pernyataan pada Kamis (3/7/2025), Kementerian Luar Negeri RI mengecam pembunuhan terhadap dokter Al-Sultan. ”Indonesia mengapresiasi jasa, komitmen, dan perjuangan beliau bagi kemanusiaan serta bagi perdamaian di Palestina,” demikian pernyataan Kemenlu RI.

Kolega Dokter Al-Sultan menyebut pembunuhan itu menimbulkan duka mendalam. ”Dia tidak tergantikan. Dia terkenal dan satu dari dua dokter jantung yang tersisa di Gaza. Ada ribuan pasien jantung akan menderita akibat pembunuhan ini,” kata Direktur RS Al-Shifa, Mohammed Abu Selmia.

Dokter Al-Sultan dan sebagian keluarganya tewas dalam serangan Israel ke rumah keluarga Al-Sultan pada Rabu (2/7/2025). Dokter spesialis jantung itu menjadi tenaga medis ke-70 yang dibunuh Israel dalam 50 hari terakhir.

”Semua ruang di rumah tersambung. Hanya kamar beliau yang tidak. Kamar itu yang disasar,” kata Lubna Al-Sultan, anak dokter Al-Sultan, soal serangan ke mendiang ayahnya.

Serangan dilancarkan kala dokter Al-Sultan sedang di kamar itu. Rudal Israel menyasar dokter yang terus melayani pasien di Gaza utara tersebut.

”Pembunuhan dokter Marwan al-Sultan oleh militer Israel adalah kehilangan mahabesar bagi Gaza dan seluruh komunitas medis. Akan ada dampak besar pada sistem kesehatan Gaza. Ini bagian kekejian panjang dan sistematis menyasar pekerja kesehatan yang seharusnya mendapat perlindungan,” kata Muath Nasser, Direktur Healthcare Workers Watch (HWW) kepada The Guardian.

TOPSHOT - Palestinian civil defence try to extinguish a fire at a building hit by an Israeli strike in Gaza City in the central Gaza Strip, on July 2, 2025, amid the ongoing conflict between Israel and the Palestinian Hamas militant group. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

HWW mencatat, Israel membunuh 70 tenaga medis di Gaza dalam 50 hari terakhir saja. Sebelum dokter Al-Sultan, Israel juga membunuh perawat kepala di RS Indonesia di Gaza dan perawat kepala pada RS Anak Al-Nasser. Mereka merupakan perawat dan bidan paling senior di Gaza.

Tempat tinggal pada dokter, perawat, hingga teknisi kesehatan di Gaza terus disasar Israel. Tempat kerja mereka, rumah sakit dan klinik, juga menjadi sasaran pokok Israel.

Quote

Buktinya melimpah dan polanya amat jelas: sistem kesehatan Gaza sedang dihancurkan.

RS Indonesia dan berbagai rumah sakit lain di Gaza jadi sasaran utama sejak Israel menyerang Gaza pada Oktober 2023. Bolak-balik berbagai rumah sakit dan klinik dibom Israel.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut, tak ada lagi RS berfungsi normal di Gaza. Hanya tersisa bagian rumah sakit yang berfungsi sebagian.

Banyak korban

Medical Aid for Palestinian (MAP) menyebut setidaknya 1.400 tenaga kesehatan tewas oleh serangan Israel sejak Oktober 2023. Para pakar PBB, merujuk ke berbagai hukum internasional, menyebut serangan ke fasilitas dan tenaga medis mengarah pada kejahatan perang. Apalagi, berulang kali terdapat bukti amat kuat bahwa serangan disengaja.

”Setelah 19 bulan, saya merasakan tak ada pertolongan. Semua terus berlangsung dan kami hanya bisa melihat pasien tanpa bisa menyelamatkan mereka dari kematian. Hidup kami terus terancam. Kapan pun, kami disasar,” kata Khaled Al-Shawa, salah seorang dokter bedah di Gaza.

Direktur Kampanye MAP Rohan Talbot mengatakan, hukum internasional sebenarnya melindungi pekerja medis. Walakin, pekerja medis di Gaza terus dibantai dan dunia diam saja. ”Buktinya melimpah dan polanya amat jelas: sistem kesehatan Gaza sedang dihancurkan, membuatnya sulit mempertahankan nyawa warga Gaza,” katanya.

Serangan Israel membuat 30 persen rumah sakit di Gaza sama sekali tidak berfungsi. Sisanya cuma bisa berfungsi sebagian dan kerap kali tak bisa beroperasi karena serangan Israel tak kunjung berhenti.

Pasien di dalam bangsal perawatan kerap kali diminta keluar oleh tentara Israel. Perintah berlaku pula pada anak-anak dan orang tua yang sedang sakit parah.

Sementara risiko pada pekerja medis di Gaza amat besar. Mereka rawan ditangkap dan diculik tentara Israel. Kerap kali pula mereka dibunuh Israel.

Krisis kemanusiaan

Perkembangan di Gaza jadi salah satu bahasan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman. Prabowo ke Arab Saudi pada 1-3 Juli 2025.

Dalam pernyataan bersama, mereka menyambut rencana gencatan senjata di Gaza. ”Dalam hal ini, kedua belah pihak menyambut baik pengumuman kesepakatan gencatan senjata kedua pihak yang terlibat dalam konflik yang semakin meningkat di daerah tersebut dan mengungkapkan apresiasi mereka terhadap semua upaya yang dilakukan untuk meredakan situasi serta berharap agar gencatan senjata tersebut berkelanjutan,” dikutip dari pernyataan bersama tersebut.

Indonesia dan Arab Saudi juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan di Gaza. RI-Saudi menegaskan komitmen mereka untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.

Sasana pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman Al-Saud di Istana Al-Salam, Jeddah, Arab Saudi, Rabu (2/7/2025).

Indonesia dan Arab Saudi menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera bertindak menghentikan penderitaan rakyat Gaza. Komunitas internasional juga harus terus mengecam penggunaan blokade dan kelaparan sebagai senjata perang, serta menolak segala bentuk pemindahan paksa warga Palestina.

”Kedua pihak juga mengecam kebijakan Israel yang menggunakan blokade dan kelaparan sebagai senjata terhadap warga sipil di Jalur Gaza, serta menolak sepenuhnya pemindahan paksa warga Palestina di dalam dan luar tanah air mereka,” tulis pernyataan bersama tersebut. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan