Pemeriksaan Kesehatan Gratis, Kado Ulang Tahun Mengesankan dari Negara

Mulai 10 Februari 2025, pemerintah meluncurkan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis. Warga bisa memeriksa kondisi kesehatan hingga konsultasi kesehatan di puskemas.

10 Feb 2025 14:14 WIB · Nusantara

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Tahun ini mungkin bukan ulang tahun terbaik bagi Hery Harjono (74). Namun, sejauh ini, tahun 2025 adalah yang paling mengejutkan untuknya. Hery mendapat kado dari negara berupa pemeriksaan kesehatan gratis.

Hery menutup satu mata dengan tangan lalu membaca huruf dari poster snellen yang terpasang di salah satu dinding Puskemas Puter, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (10/2/2025). Snellen berisi bagan huruf yang digunakan untuk pemeriksaan ketajaman penglihatan.

Diah Ernawati, bidan di puskemas itu, lantas meminta Hery membaca bagan huruf berbagai ukuran, dari atas ke bawah. Namun, dari jarak sekitar enam meter, tidak semua huruf bisa dibaca Hery.

Dari 11 baris, ia hanya dapat membaca tiga bagian paling atas. Hanya sedikit huruf di bagian keempat yang tertangkap tajam oleh mata Hery.

”L... eee... eee… sudah tidak kelihatan, Bu,” kata Hery, warga Ligar, Cimenyan, Bandung ini.

Selepas itu, Hery menjalani tes kebugaran. Selama enam menit, ia harus berjalan di trek yang sudah disediakan di puskemas. Tidak seperti tes penglihatan, Hery percaya diri meniti langkahnya satu per satu.

”Masih aman, Pak?” kata Diah dan dijawab dengan anggukan oleh Hery.

Heri Harjono (berpeci), peserta pemeriksaan kesehatan gratis menjalani tes kebugaran di Puskesmas Puter Bandung, Senin (10/2/2025). Layanan ini diberikan negara untuk warga yang berulang tahun.

Selama kurang lebih 30 menit, ada 20 jenis pemeriksaan yang harus dilakoni Hery pagi itu. Ada praktik seperti tes tajam penglihatan dan pendengaran. Ada juga pengisian kuesioner seperti skrining TBC.

Hasil tes dan rekomendasi dari dokter keluar tidak lama. Sekitar lima menit setelah pemeriksaan terakhir, Hery diminta masuk ke ruang dokter untuk mendengarkan hasil pemeriksaan.   

Nurul Wafa, dokter di Puskemas Puter, mengatakan, tidak banyak catatan bagi Hery. Sejauh ini, yang harus menjadi catatan bagi Hery adalah pendengaran dan penglihatan.

”Apakah Bapak pakai kacamata?” kata Nurul.

”Kebetulan tidak. Kalau melihat handphone atau layar, biasanya hurufnya saya perbesar,” kata Hery.

”Sebaiknya Bapak memakai kacamata supaya aktivitasnya lebih lancar. Kalau kebugaran, relatif baik Pak. Tadi juga kuat, ya, jalannya,” ujar Nurul.

”Oh iya, itu mungkin kuat jalan karena hasil latihan ikut senam kesehatan empat bulan terakhir. Mungkin ada yang lainnya dokter?” kata Hery lagi.

”Ini saya buatkan pengantar untuk fasilitas kesehatan pertama, Pak. Silakan bila ingin melanjutkan pemeriksaan,” ujar Nurul.

Jenis pemeriksaan pada program pemeriksaan kesehatan gratis

Mitigasi

Pagi itu, Hery adalah warga pertama di Puskesmas Puter yang memanfaatkan program baru pemerintah, Pemeriksaan Kesehatan Gratis. Program ini menyasar masyarakat berusia 1-6 tahun dan lebih dari 18 tahun yang berulang tahun hingga H+1 bulan. Hery kebetulan tepat lahir pada 10 Februari.

Quote

Negara sudah menyediakan anggaran dan sumber daya manusianya. Giliran kita menggunakannya.

Selain diperiksa, warga seperti Hery bebas bertanya tentang masalah kesehatan yang dialami. ”Luar biasa. Tahun ini saya dapat kado dari pemerintah,” kata Hery.

Di luar itu semua, Hery terkesan dengan program anyar ini. Sebagai eks peneliti gempa bumi, dia paham benar arti mitigasi. Segala persiapan mesti dilakukan sejak dini untuk menghindari dampak buruk di kemudian hari.

Selain itu, dia juga tidak menyangka bahwa prosesnya bakal semulus ini. Hery menyebut layanan pemeriksaan itu sesuai dengan brosur dan kabar yang ia dapatkan.

Heri Harjono (berpeci) menjadi peserta pemeriksaan kesehatan gratis di Puskesmas Puter Bandung, Senin (10/2/2025). Lewat program ini, warga bisa berkonsultasi terkait kondisi kesehatannya.

Dia, misalnya, dibantu tenaga kesehatan Puskemas Puter saat mendaftar di Satusehat mobile hingga mengisi kuesioner skrining mandiri. ”Awalnya saya kira akan repot karena program ini baru pertama dilakukan, tapi ternyata mudah dan cepat. Semoga ke depan selalu semudah ini,” katanya.

Ke depan, Hery berharap akan semakin banyak warga yang menerima manfaat ini. Dia menyebut, sangat disayangkan jika warga tidak menggunakannya.

”Negara sudah menyediakan anggaran dan sumber daya manusianya. Giliran kita menggunakannya,” kata Hery.

Stigma

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Anhar Hadian mengatakan, program ini dipastikan akan berjalan di 80 puskesmas di Kota Bandung. Waktunya setiap Selasa dan Kamis. Setiap hari diperiksa 20 orang.

Dia mengatakan, secara teknis, semua puskesmas siap memeriksa warga yang datang. Alat-alat pemeriksaan dan sumber daya manusianya sejauh ini sudah ideal

”Yang masih harus ditingkatkan adalah sosialisasi ke warga. Kami minta semua puskesmas gencar berpromosi di media sosial masing- masing,” katanya.

Promosi ini, kata Anhar bukan perkara mudah. Masih ada stigma dan ketakutan di masyarakat jika memeriksakan kesehatan hanya akan menambah masalah. Mulai dari mesti mengikuti pengobatan lanjutan hingga dilarang menyantap makanan tertentu.

Heri Harjono (berpeci), peserta pemeriksaan kesehatan gratis mendapatkan beberapa pertanyaan dari petugas kesehatan di Puskesmas Puter Bandung, Senin (10/2/2025). Lewat program ini, warga bisa berkonsultasi terkait kondisi kesehatannya.

Anggapan itu, kata Anhar, harus dikikis. Pemeriksaan kesehatan sebenarnya adalah investasi. Jangan sampai karena alpa memeriksa kesehatan, warga akan mendapat kesakitan yang tidak terduga sehingga bakal menghabiskan tenaga dan biaya.

Saat ini, kata Anhar, setidaknya ada dua penyakit tidak menular yang sangat berbahaya. Diabetes dan hipertensi menjadi dua ancaman besar di Kota Bandung.

Quote

Diabetes-hipertensi adalah ibu-bapaknya penyakit berbahaya. Keduanya jadi pintu gerbang bagi datangnya penyakit lainnya.

Akan tetapi, dampak buruknya, ujar Anhar, bisa dikurangi jika keduanya terdeteksi sejak dini. Apalagi, warga juga berperan membantu negara menghemat biaya pengobatan penyakit berbahaya apabila penyakit yang diderita sudah terdeteksi dini.

”Diabetes-hipertensi adalah ibu-bapaknya penyakit berbahaya. Keduanya jadi pintu gerbang bagi datangnya penyakit lainnya,” ujar Anhar.

Memberi kabar

Tidak hanya Hery yang bahagia pada hari ulang tahunnya. Ratnaningsih juga semringah. Dua hari lalu, ia baru merayakan ulang tahun yang ke-56.

”Baru kali ini kado ulang tahunnya pemeriksaan kesehatan. Lebih senang hasilnya bilang saya sehat,” kata Ratnaningsih yang berulang tahun pada 8 Februari.

Ratnaningsih mengatakan, sebagai kader posyandu, dia harus menjadi contoh hidup sehat. Mulai dari menjaga makanan hingga berolahraga. Hasilnya, dia masih merasa bugar saat usia bertambah tua.

Meski begitu, pemeriksaan kesehatan, katanya, tetap wajib dilakukan. Hanya dengan pemeriksaan medis, dia tahu kondisi tubuh yang sebenarnya.

”Apa pun hasilnya, pemeriksaan kesehatan penting bagi siapa saja. Ada atau tidak penyakit yang kita derita, memang sebaiknya dilakukan semuanya,” katanya.

Oleh karena itu, dia tidak akan segan untuk mempromosikan layanan itu kepada warga yang didampinginya. Harapannya, semakin banyak warga bisa tahu kondisi kesehatannya sejak dini.

”Ini hadiah dari negara setahun sekali. Manfaatkan, jangan dilepaskan begitu saja,” ujar Ratnaningsih.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji