Pemerintah Kaji Opsi Relokasi Warga Terdampak Banjir Puncak Bogor

Bila disetujui warga, relokasi tidak hanya bagi rumah rusak berat, tetapi semua rumah terdampak. Masalah alih fungsi lahan juga jadi perhatian.

03 Mar 2025 18:54 WIB · Metro

Oleh Raynard Kristian Bonanio Pardede

BOGOR, KOMPAS — Pemerintah menawarkan pilihan relokasi bagi warga yang terdampak banjir di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (2/3/2025). Rencana ini diharapkan menjadi solusi permanen untuk membantu warga yang berulang kali terkena bencana banjir ini. Permasalahan alih fungsi lahan di hulu Puncak Bogor yang diduga memicu bencana juga jadi perhatian.

Dalam kunjungannya di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, dari hasil tinjauan sementara, ada 19 rumah yang rusak berat akibat bencana hidrometeorologi tersebut. Namun, jumlah rumah terdampak bisa lebih dari itu.

Curah hujan tinggi di kawasan Puncak Bogor menyebabkan sejumlah daerah terkena banjir seperti di kawasan Megamendung dan Cisarua. Dari keterangan warga, banjir akibat curah hujan yang tinggi seperti ini sudah sering terjadi.

Untuk menyelesaikan masalah menahun tersebut, Suharyanto mengungkapkan, opsi merelokasi warga muncul. Tanah yang sesuai untuk relokasi di daerah Puncak mungkin akan sulit. Namun, pihak desa menyebut ada tanah milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang bisa dipakai sebagai tujuan relokasi.

Pihaknya kini berfokus pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Bila nantinya warga dan pemerintah daerah setuju relokasi, proses pemindahan bisa segera terwujud.

”Bila telaksana, yang akan direlokasi tidak hanya warga yang rumahnya rusak berat, tetapi juga yang terdampak. Ditakutkan rumah-rumah yang rusak ringan hanya menunggu waktu saja sampai terkena bencana di tahun-tahun berikutnya,” ucapnya di Bogor, Senin.

Penampakan jembatan putus akibat banjir yang menghubungkan ruas jalan di Desa Tugu Selatan menuju Jalan Puncak Raya, Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025).

Alih fungsi lahan

Suharyanto mengatakan, alih fungsi lahan menjadi salah satu pemicu bencana ini terjadi. Jumlah masyarakat yang bertambah membuat pembangunan hunian kian masif.

Tidak hanya hunian, kehadiran bangunan-bangunan lain membuat daerah resapan air kian terkikis. Hujan yang awalnya dapat ditampung oleh daerah resapan air di hulu, kini turun menerjang rumah warga di hilir.

Suharyanto mengatakan, warga yang terdampak akan diberikan berbagai bantuan saat mengungsi. Dari pantauan di lokasi, terdapat tiga lokasi pengungsian di Desa Tugu Selatan, yakni di tenda darurat dan dua masjid.

Namun, pengungsian terlihat lengang. Sebagian besar warga lebih memilih mengungsi di rumah keluarganya. ”Perlu solusi yang terpadu semua pihak agar warga tidak kena bencana setiap tahun,” ucapnya.

Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi mengatakan, dari data yang ia terima, ada delapan jembatan yang putus akibat banjir. Sebanyak dua ruas yang putus sudah dibangunkan jembatan sementara. Adapun enam sisanya akan segera diperbaiki. Perbaikan perlu dikebut mengingat Puncak Bogor diprediksi tetap menjadi destinasi wisata libur Lebaran, beberapa minggu ke depan.

Situasi macet di akses keluar tol Jagorawi menuju Puncak di Gadog, Kabupaten Bogor, saat diberlakukan akses satu arah dari arah Puncak menuju Jakarta, Sabtu (6/6/2020). Animo warga untuk berrekreasi ke arah Puncak kembali meningkat setelag Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) lalu. Hasrat warga untuk berwisata, khususnya di wilayah Jabodetabek, sulit dibendung meski hingga kini pandemi Covid-19 belum usai dan perpanjangan PSBB transisi menuju normal baru di sejumlah wilayah Jabodetabek, termasuk Kabupaten Bogor, masih berlaku.Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)6-6-2020

Terkait relokasi, Ade menambahkan, pihaknya segera melakukan kajian geologis untuk menentukan kondisi dari kawasan-kawasan yang berpotensi dilanda banjir. Hasil kajian ini nantinya menjadi acuan bila keputusan relokasi jadi diambil.  

Ia juga menyinggung arahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menyebut alih fungsi lahan sebagai salah satu pemicu banjir di Puncak Bogor. Nantinya, pemerintah daerah berjanji akan menertibkan bangunan-bangunan yang bermasalah, yang dianggap memicu bencana banjir di wilayah hilir.

Quote

BNPB mengimbau warga Bogor untuk waspada terhadap potensi banjir susulan dan cuaca ekstrem yang diprediksi masih terjadi hingga tiga hari ke depan.

Ade mengaku, pertumbuhan penduduk di kawasan Puncak Bogor cukup pesat yang membuat kebutuhan masyarakat akan tanah ikut naik. Penataan jalur dan ruang di Puncak Bogor akan dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

”Kebutuhan membuat rumah semakin besar, dan sulit dihentikan. Namun, kita akan tetap evaluasi, baik jalan maupun bangunan, yang bermasalah secara administrasi,” ucapnya.

Kepala BNPB Suharyanto (kiri) dan Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi (kanan) meninjau salah satu rumah di tepi Kali Ciliwung yang terdampak banjir di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025).

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang terjadi sejak Minggu membuat banjir dan longsor melanda sebanyak 16 kecamatan. Mayoritas titik berada di sekitar atau menuju kawasan wisata Puncak.

Adapun titik lokasi bencana tanah longsor tersebar di Kecamatan Cijeruk, Sukaraja, Megamendung, Sukamakmur, dan Ciawi. Lalu ada pula di Kecamatan Sukajaya, Leuwisadang, dan Babakan Madang. Lalu titik banjir terdapat di Kecamatan Parungpanjang, Cisarua, Bojong Gede, Cigudeg, Tenjo, Dramaga, dan Rumpin.

Selanjutnya, ada angin kencang di Kecamatan Jasinga. Adapun korban hilang akibat hanyut dibawa arus yakni Asep Mulyana (59) di Desa Citeko, Cisarua.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, akibat bencana tersebut, ratusan rumah terendam. Di Tugu Selatan, ada 119 rumah terendam dan di Bojong Gede ada 137 rumah terdampak. Adapun di Desa Rawa Panjang, Kecamatan Rumpin, ada satu rumah dan satu pesantren yang terendam.

BNPB mengimbau warga Bogor untuk waspada terhadap potensi banjir susulan dan cuaca ekstrem yang diprediksi masih terjadi hingga tiga hari ke depan.

”Warga di daerah rawan diminta segera mengungsi jika debit air meningkat serta menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, obat-obatan, dan kebutuhan darurat lainnya,” ucap Aam (Kompas, 3/2/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Raynard Kristian Bonanio Pardede
 | 

Editor:

Rini Kustiasih