Hunian di sisi kali yang kian masif membuat aliran sungai di kawasan Puncak Bogor semakin sempit. Warga diimbau tidak lagi tinggal di sana.
04 Mar 2025 17:36 WIB · Metro
BOGOR, KOMPAS — Sebanyak 346 warga masih mengungsi dan 204 rumah terdampak akibat banjir yang dipicu hujan lebat di kawasan Puncak Bogor, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/3/2025). Bencana ditengarai terjadi akibat sungai yang menyempit karena pembangunan hunian warga yang kian masif. Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat hingga Senin (17/3/2025).
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, per Selasa, 346 warga masih mengungsi di gedung Majelis Talim Miftahul Ghina Al Idris dan salah satu rumah di RT 003 RW 001 Desa Tugu Selatan, Cisarua.
Banjir di kawasan ini terjadi pada Minggu (2/3/2025) malam. Hujan deras di kawasan Puncak menjadi salah satu pemicunya. Akibatnya, Kali Ciliwung yang tidak mampu menampung debit air pun meluap sehingga merendam rumah warga di bantaran kali.
Akibat peristiwa ini, 204 rumah warga terdampak. BNPB mencatat, 16 rumah rusak berat, 24 rumah rusak ringan, dan 1 rumah rusak sedang.
”Seiring dengan perkembangan bencana di sejumlah daerah, BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/f30c948a14679ffd5d74a4f3f993450c-Puncakx.jpg)
Banjir di kawasan Puncak terjadi berulang kali. Perubahan tata ruang menjadi salah satu penyebabnya. Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti mengatakan, dari pengamatannya, sungai yang mengalir di kawasan tersebut dulunya lebar.
Namun, rumah-rumah warga yang mulai dibangun di bantaran sungai membuat sungai menyempit. Dampaknya, setiap hujan turun deras, air berpotensi masuk ke permukiman warga. Warga diimbau tidak lagi tinggal di bantaran kali karena berbahaya. Langkah-langkah penanganan perlu dilakukan segera, termasuk rencana relokasi warga dari bantaran sungai.
”Saya melihat sungai ini dulunya lebar, sekarang sempit karena banyak rumah di bantaran. Air itu akan mencari jalannya sendiri. Harapan saya daerah tersebut jangan dihuni,” ucap Diana.
Selain rumah, beberapa jembatan yang menjadi penghubung antardesa juga putus. Sebanyak enam jembatan putus. Dalam pembangunan jembatan, Diana meminta agar sesuai rekomendasi teknis dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU.
Seusai meninjau lokasi terdampak, Diana juga meninjau bendungan kering (dry dam) Ciawi yang berada di hilir lokasi banjir. Bendungan ini berkapasitas 6,05 juta meter kubik, dengan luas genangan 39,40 hektar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/344ba269d8e8b9c0e8b7bed00a25409b-Puncak_XX.jpg)
Bendungan ini mencegah banjir dengan mengurangi debit air dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango, sebelum sampai ke Bendungan Katulampa, yang selanjutnya mengalir ke Sungai Ciliwung. Debit air yang bisa ditekan melalui bendungan ini 111,75 meter kubik per detik.
Warga diimbau tidak lagi tinggal di bantaran kali karena berbahaya. Langkah-langkah penanganan perlu dilakukan segera, termasuk rencana relokasi warga dari bantaran sungai.
Pemerintah Kabupaten Bogor sendiri telah menetapkan status tanggap darurat untuk 20 kecamatan hingga Senin (17/3/2025). Bupati Bogor Rudy Susmanto menyebut, penetapan dilakukan berdasarkan laporan dan hasil evaluasi yang menyatakan telah terjadi bencana alam banjir, longsor, dan angin kencang di sejumlah kecamatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/664bce1891c1917e00a474cb367a1fe6-Bnpx.jpg)
Bencana-bencana tersebut berpotensi menimbulkan korban jiwa, materi, dan kerusakan infrastruktur sehingga mengganggu kehidupan masyarakat. Status tanggap darurat ini tertuang dalam Keputusan Nomor 300.2/2/KEP-TD/BPBD tentang penetapan status tanggap darurat.
Adapun kecamatan yang dilanda bencana hidrometeorologi tersebut ialah Cibinong, Citeureup, Cigudeg, Jonggol, Bojonggede, Sukamakmur, dan Tenjolaya. Bencana juga terjadi di Jasinga, Caringin, Cigombong, Ciomas, Cijeruk, Megamendung, Cisarua, Rumpin, Sukajaya, Dramaga, Ciawi, Cibungbulang, dan Parung Panjang.
”Penetapan status ini merupakan langkah penting untuk meminimalkan dampak yang lebih luas,” ujarnya.
Penulis:
Raynard Kristian Bonanio PardedeEditor:
Rini Kustiasih