Ada enam paket insentif untuk masyarakat. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2025.
26 Mei 2025 19:21 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah berencana memberikan enam paket insentif untuk masyarakat. Rencana ini akan dibahas dengan kementerian terkait dan ditargetkan selesai pada awal Juni 2025.
Hal itu dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-46 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (26/5/2025).
Paket yang dimaksud adalah, pertama, diskon transportasi yang mencakup diskon tiket kereta api, diskon tiket pesawat, serta diskon tarif angkutan laut selama masa libur sekolah. Kedua, diskon tarif tol untuk sekitar 110 juta pengendara.
Ketiga, pemerintah akan memberikan diskon tarif listrik sebesar 50 persen bagi 79,3 juta rumah tangga dengan daya listrik di bawah 1.300 volt ampere.
Keempat, menambah alokasi bantuan sosial berupa kartu sembako dan bantuan pangan dengan target 18,3 juta keluarga penerima manfaat untuk bulan Juni-Juli 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/22/7dc5090a-5b4f-4547-9257-891edab95ef8.jpg)
Kelima, memberikan bantuan berupa bantuan subsidi upah (BSU) bagi pekerja dengan gaji di bawah Rp 3,5 juta atau upah minimum provinsi serta guru honorer.
Keenam, perpanjangan program diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja bagi pekerja di sektor padat karya. ”Kami masih akan ada pembahasan lagi sebelum tanggal 5 (Juni),” katanya.
Airlangga menjelaskan, regulasi untuk pemberian insentif tersebut mesti disiapkan karena melibatkan beberapa kementerian/lembaga. Beberapa di antaranya Kementerian Sosial untuk bantuan sosial, Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Badan Pangan Nasional untuk insentif pangan, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk tarif listrik.
Sebagai contoh, BSU masih perlu dibahas dengan Kementerian Ketenagakerjaan. ”Besarannya Rp 150.000 per bulan untuk jangka waktu dua bulan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/18/d57ff20c-37c0-4ae8-a0cc-e71a84dea323_jpg.jpg)
Sebelumnya, di Jakarta, Airlangga menyampaikan, stimulus tersebut diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2025.
Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia pada triwulan I-2025 hanya 4,87 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan 5,02 persen pada triwulan sebelumnya. Pencapaian terakhir juga terendah sejak triwulan III-2021.
Airlangga juga menjelaskan rencana diskon listrik sebagai salah satu paket insentif yang akan disiapkan. Diskon itu direncanakan sebesar 50 persen untuk pengguna daya listrik maksimal sampai 1.300 volt ampere.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui di kantornya mengatakan belum mengetahui rencana tersebut. Insentif semacam ini, menurut dia, membutuhkan pembahasan antarkementerian terlebih dahulu, termasuk Kementerian ESDM.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/dfee25e30cb254ceddf13e213e6358bb-20250526_152558.jpg)
Jika akan direncanakan, Bahlil mengatakan, mereka akan ikut mengkajinya secara menyeluruh dengan koordinasi lintas kementerian. Hal ini untuk memastikan fiskal negara tetap aman.
”Kami pelajari semuanya, untuk rakyat sudah pasti kami pelajari. Tapi, kami harus perhatikan juga negara. Kalau bicara subsidi, harus ada komunikasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan,” tuturnya.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti