Di Davos, Pemimpin Dunia Lantang Gugat Hegemoni AS

Tata kelola global yang dipimpin AS terancam retak. Hal itu antara lain dipicu langkah AS menjalankan perang dagang dan ambisi mengakuisisi Greenland.

21 Jan 2026 10:55 WIB · Internasional

AP

Oleh Helena Fransisca Nababan

DAVOS, RABU — Para pemimpin dunia kini mulai berbondong-bondong menggugat hegemoni Amerika Serikat. Dominasi AS sebagai kekuatan besar dunia saat ini justru membuat tata kelola global retak. Langkah AS juga dinilai mengancam persekutuan negara-negara Atlantik Utara seiring kebijakan tarif tinggi Presiden AS Donald Trump dan ambisinya mencaplok wilayah Greenland.

Para pemimpin dari berbagai negara menyerukan perlunya beradaptasi atas perubahan saat ini dan bertindak bersama menghadapinya. Eropa juga menyerukan hal yang sama.

Hal itu terungkap dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, yang berlangsung pekan ini. Perdana Menteri Kanada Mark Carney dalam pidatonya di forum itu, Selasa (20/1/2026), memperingatkan tentang keretakan tata kelola global yang dipimpin AS.

Canada's Prime Minister Mark Carney speaks during the Annual Meeting of the World Economic Forum in Davos, Switzerland, Tuesday, Jan. 20, 2026. (AP Photo/Markus Schreiber)

Ia menyatakan, jika ada yang mengatakan tatanan internasional berbasis aturan masih ada, itu adalah ilusi. ”Kita berada di tengah-tengah perpecahan, bukan transisi,” kata Carney menegaskan.

Carney mendefinisikan era saat ini sebagai persaingan kekuatan besar. Dalam pidatonya Carney menyatakan, ”Kekuatan-kekuatan besar mulai menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata. Tarif sebagai daya tawar. Infrastruktur keuangan sebagai paksaan. Rantai pasokan sebagai kerentanan yang harus dieksploitasi.”

Carney menambahkan, ”Negara-negara kekuatan besar saat ini mampu bertindak sendiri. Mereka memiliki ukuran pasar, kapasitas militer, dan pengaruh untuk mendikte persyaratan. Negara-negara kekuatan menengah tidak memilikinya.”

Untuk itu, Carney mengajak negara-negara kekuatan menengah untuk bukan hanya beradaptasi dengan perubahan, melainkan juga bertindak bersama. ”Negara-negara kekuatan menengah harus bertindak bersama. Sebab, jika tidak berada di meja perundingan, kita akan menjadi santapan,” kata Carney.

Ia sama sekali tidak menyebut negara atau pemimpin negara. Walakin, deskripsinya secara tak langsung menyasar ke AS, China, dan Rusia.

Trump memaksa berbagai negara dengan tarif bea masuk. Mulai dari urusan perdagangan sampai ambisi AS pun mencaplok Greenland dari Denmark dikaitkan dengan tarif.

AS juga selama bertahun-tahun menjadikan sistem pemrosesan kliring dolar AS sebagai alat sanksi. Negara atau pihak di luar AS diancam tak bisa mengakses sistem kliring itu kalau tidak mau menuruti Washington.

Sementara Rusia sedang menyerbu Ukraina. Adapun China, yang baru meneken kesepakatan dagang dengan Kanada, membanjiri dunia dengan aneka barang murah.

China juga mengancam dunia dengan larangan ekspor logam tanah jarang. Pasokan sebagian LTJ global praktis dikendalikan China.

Kajian Bank Sentral Eropa (ECB) menemukan China menerapkan praktik dumping atau mengekspor dengan harga di bawah biaya produksi ke berbagai negara. Indonesia sampai anggota Uni Eropa jadi sasaran praktik itu.

Dunia dibanjiri China dengan produk yang tidak laku di pasar domestik. Sebab, permintaan domestik China tetap lemah selepas Covid-19.

Hasilnya, China mencatat surplus perdagangan lebih dari 1 triliun dolar AS pada 2025. “Kami tidak pernah mengupayakan surplus perdagangan. “Selain menjadi pabrik dunia, kami berharap juga menjadi pasar dunia," kata Wakil PM China He Lifeng di WEF.

Namun, rangkaian kebijakan China berkebalikan dengan pernyataan He. Selama bertahun-tahun, Beijing mengucurkan subsidi miliaran dolar AS agar China bisa membuat sendiri aneka hal. China juga menerapkan aneka hambatan non tarif.

Bendera Greenland berkibar di Desa Igaliku, Greenland, pada 5 Juli 2024. Desa kecil ini terletak di Semenanjung Qaqortoq di wilayah Greenland selatan tempat kapal-kapal viking tiba lebih dari 1000 tahun yang lalu. *** Local Caption *** Bendera Greenland berkibar di Desa Igaliku, Greenland, pada 5 Juli 2024. Desa kecil ini terletak di Semenanjung Qaqortoq di wilayah Greenland selatan tempat kapal-kapal viking tiba lebih dari 1000 tahun yang lalu.

Ketegangan

Setelah penerapan kebijakan tarif tinggi, AS membuat manuver baru. Trump berambisi mengambil alih Greenland, wilayah semiotonom di bawah Kerajaan Denmark.

Trump mengatakan, AS membutuhkan Greenland untuk mencegah kemungkinan ancaman dari China dan Rusia. Ambisi Trump menimbulkan ketegangan antara AS dan sekutu Eropa yang mendukung kedaulatan Greenland.

Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen dalam konferensi pers di Nuuk, ibu kota Greenland, mengatakan, ”Kita perlu menghormati hukum internasional dan integritas teritorial.”

Nielsen mengatakan prinsip-prinsip tersebut harus menyatukan negara-negara demokrasi Barat. Ia juga menyatakan rasa terima kasih atas dukungan sekutu Uni Eropa. ”Hukum internasional bukanlah permainan,” ujarnya menegaskan.

”Kami bersedia untuk lebih banyak bekerja sama, tetapi tentu saja dengan saling menghormati dan, jika kita tidak dapat melihat hal itu, akan sangat sulit untuk memiliki kemitraan yang baik dan dapat diandalkan,” tuturnya.

Untuk menghadapi ambisi Trump dan meningkatkan keamanan, beberapa negara Eropa yang juga sekutu AS dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengirimkan tentara ke Greenland. Sejumlah negara Eropa mendukung Denmark dan Greenland mempertahankan wilayahnya.

Trump kemudian mengancam akan menerapkan tarif tinggi kepada delapan negara Eropa yang mendukung Denmark dan Greenland. Pengenaan tarif ini dimaksudkan Trump sebagai alat tawar-menawar dengan Denmark.

Langkah Trump ini memicu kemarahan para sekutu Eropa. Banyak sekutu dekat AS memperingatkan keretakan Eropa dengan Washington berpotensi menghancurkan NATO.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menolak pernyataan Trump bahwa, mulai Februari, pajak impor 10 persen akan dikenakan terhadap barang-barang dari delapan negara Eropa yang bersatu mendukung Denmark.

”Uni Eropa dan AS sudah menyepakati kesepakatan perdagangan Juli lalu,” kata Von der Leyen di Davos.

”Dan, dalam politik ataupun bisnis, kesepakatan adalah kesepakatan. Ketika teman-teman berjabat tangan, itu pasti berarti sesuatu,” ucap Von der Leyen.

Ia menambahkan, Uni Eropa akan teguh, bersatu, dan proporsional menghadapi langkah-langkah Trump. Negara sekutu mengancam untuk membalas Trump.

France's President Emmanuel Macron speaks to business leaders at the Business France event during the World Economic Forum (WEF) annual meeting in Davos on January 20, 2026. The World Economic Forum takes place in Davos from January 19 to January 23, 2026. (Photo by Ludovic MARIN / AFP)

Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan, Uni Eropa dapat membalas dengan mengenakan tarif balasan dan menggunakan instrumen antikoersi Uni Eropa yang secara tidak resmi dikenal sebagai ”bazoka perdagangan”.

Instrumen tersebut memungkinkan Uni Eropa memberikan sanksi kepada individu atau lembaga yang terbukti memberikan tekanan yang tidak semestinya kepada Uni Eropa. Selain instrumen itu, Uni Eropa memiliki dua alat ekonomi utama lainnya yang dapat digunakan untuk menekan Washington, yaitu tarif baru atau penangguhan kesepakatan perdagangan AS-Uni Eropa.

Trump dijadwalkan hadir di Davos pada Rabu ini. Ia diharapkan menggunakan kehadirannya untuk meredakan ketegangan di antara sekutu NATO. Akan tetapi, Trump bisa saja akan menghadapi sikap keras para pemimpin Eropa.

Dalam diskusi panel di Davos yang bertema mendefinisikan kembali tempat Eropa di dunia, Perdana Menteri Belgia Bart De Wever mengatakan, dengan provokasi Trump terkait Greenland, ”begitu banyak garis merah telah dilanggar” di Eropa.

”Menjadi bawahan yang bahagia adalah satu hal. Menjadi budak yang sengsara adalah hal lain. Jika mundur sekarang, Anda akan kehilangan martabat,” katanya.

De Wever menambahkan, ia dan Raja Philippe dari Belgia akan bertemu dengan Trump pada Rabu. Mereka berencana mendesak kembalinya aliansi militer lama antara Brussels dan Washington.

”Kita harus bersatu atau kita akan terpecah. Jika kita terpecah, berakhirlah sebuah era, 80 tahun Atlantisisme, benar-benar akan segera berakhir,” katanya.

Ursula von der Leyen menambahkan, Eropa berkewajiban untuk menanggapi tekanan internasional. ”Intinya adalah jika perubahan ini bersifat permanen, Eropa juga harus berubah secara permanen. Sudah saatnya untuk memanfaatkan kesempatan ini dan membangun Eropa baru yang independen,” tutur Von der Leyen.

Carney menambahkan, ”Sistem tata kelola global yang dipimpin AS tidak akan kembali ke keadaan normal sebelum Trump.”

(AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra