Arsip Foto ”Kompas”: Penanda Zaman yang Berubah di Lebak Bulus

Terminal dan Stadion Lebak Bulus berubah wajah karena tuntutan zaman. Kini lokasi tersebut berdiri depo MRT yang menjadi transportasi massal masa kini.

30 Apr 2025 10:00 WIB · Foto

Oleh Priyombodo .

Perubahan fungsi dari terminal dan Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, menjadi depo MRT dilakukan untuk mewujudkan transportasi massal bagi masyarakat. Proses perubahan fungsi lahan tidak mudah dilakukan. Selama tahun 2014 hingga 2019, Harian Kompas merekam semua proses tersebut yang dituangkan dalam berbagai artikel dan foto.

Penggalan berita yang dimuat  di Harian Kompas tanggal 6 Januari 2014 tersebut menjadi pengingat awal mula proyek MRT fase 1 dimulai.

Berikut petikan berita berjudul ”Senin Malam, Terminal Lebak Bulus Ditutup”: Mulai Senin (6/1) tengah malam ini, Terminal Bus Antarkota Antarprovinsi Lebak Bulus ditutup untuk pembangunan depo sistem transportasi cepat massal (MRT). Bus AKAP dipindahkan ke terminal bus AKAP lain di Jakarta. Calon penumpang dari Jakarta ataupun penumpang bus dari daerah lain yang biasanya naik turun bus di terminal ini diharapkan bisa mengatur ulang perjalanannya.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meminta para pedagang dan pihak yang terkena dampak pembangunan depo MRT agar tidak mengeluh. Untuk merealisasikan sebuah kebijakan, kata Jokowi, ada kelebihan dan kekurangan yang harus diterima semua pihak.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami, ada tiga pekerjaan utama yang akan dilaksanakan di kawasan Lebak Bulus. Pekerjaan itu yaitu pembangunan depo MRT, stasiun layang, dan viaduct atau struktur jembatan layang. Lokasinya berada di Jalan Pasar Jumat, area Stadion Lebak Bulus, dan Terminal Lebak Bulus.

Dan, mulai 7 Januari, PT MRT akan memagari area stadion dan terminal, membongkar bangunan terminal untuk jalur pengalihan lalu lintas, dan membongkar bangunan stadion.

Tahap persiapan awal dilakukan dengan cepat dan terkesan terburu-buru. Tentu saja kegiatan itu menuai protes dari berbagai kalangan, seperti agen bus, pedagang, dan penyedia jasa di terminal tersebut. Petugas polisi bersenjata dan mobil water canon sempat disiagakan di kawasan terminal.

Kondisi yang  tidak kondusif membuat rencana awal penutupan terminal Lebak Bulus ditunda oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hingga waktu yang belum ditentukan. Bahkan, untuk pembebasan Stadion Lebak Bulus seluas 4,5 hektar, Pemprov DKI Jakarta terganjal aturan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga yang saat itu Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dijabat oleh Roy Suryo. Sebagai kompensasinya, disiapkan lahan pengganti di Stadion Bersih, Manusiawi, Berwibawa (BMW) seluas 12 hektar dan anggaran untuk pembangunan stadion.  Stadion itu kini megah berdiri dengan nama Jakarta International Stadium (JIS).

Tak hanya itu, Pemprov DKI juga akan membangun stadion sepak bola baru di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, seluas 8,1 hektar. Artinya, setelah  hilang satu stadion, Pemprov DKI menggantinya dengan dua stadion.

Suasana di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Puluhan bus antar kota antar provinsi menunggu keberangkatan di terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu (5/1/2014). Mulai hari ini, pemerintah DKI Jakarta menutup operasional terminal ini untuk proyek pembangunan MRT.
Suasana Stadion Lebak Bulus, Jakarta yang selama ini menjadi markas tim Persija Jakarta, Kamis (25/12/2014). Stadion ini rencananya akan segera dibongkar untuk pembangunan  proyek mass rapid transit (MRT).
Awak dan pekerja dari sejumlah bus antar kota antar propinsi (AKAP), petugas tiket dan pedagang di terminal lebak bulus berunjuk rasa di hari terminal tersebut telah dinyatakan ditutup, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (6/1/2014). Terminal ditutup untuk rencana pembangunan salah satu terminal utama pada proyek mass rapid transportation (MRT).
Suasana Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (4/6/2014). Lokasi terminal yang terkena pembangunan megaproyek mass rapid transit itu hingga kini belum bebas dan menunggu proses lelang. Lokasi terminal masih digunakan sebagai tempat penjualan tiket oleh sejumlah armada bus.
Eskavator meratakan bangunan di kawasan Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Jumat (22/7/2016). Pembongkaran tersebut merupakan bagian dari proyek pembangunan depo kereta massal cepat (MRT) Lebak Bulus yang saat ini tengah berlangsung.
Water cannon dan polisi bersenjata diturunkan untuk mengamankan rencana penutupan Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (6/1/2014). Terminal ditutup untuk rencana pembangunan salah satu terminal utama MRT.
Warga menyelamatkan puing-puing bangunan saat penertiban bangunan liar di kawasan Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (19/6/2014). Di lahan tersebut akan dilaksanakan pembangunan megaproyek sistem transportasi cepat massal (MRT).

 

Robohnya stadion dan pembangunan depo MRT

Suara deru alat berat meruntuhkan dinding memecah kesunyian di Stadion Lebak Bulus pada Oktober 2014. Peristiwa ini menjadi akhir cerita dari stadion berkapasitas 12.000 penonton yang dibangun pada tahun 1987 itu. Dari arsip foto Kompas, terlihat tumpukan kursi stadion bewarna biru. Huruf-huruf dari papan nama stadion berserakan di tanah yang kering. Sementara itu, material bongkaran menumpuk di salah satu sudut stadion  dekat lampu sorot yang masih berdiri angkuh.

Cerita visual itu terbit di Harian Kompas pada 10 Oktober 2015. Pemprov DKI melelang Stadion Lebak Bulus yang nilainya saat  itu diperkirakan mencapai harga di atas Rp 4,6 miliar, sedangkan aset terminal Lebak Bulus berupa gedung perkantoran dan emplasemen  laku  senilai Rp 420 juta. Pembongkaran dilakukan oleh pemenang lelang.

Arsip Koran ”Kompas” yang memuat foto cerita perihal proses pembongkaran Stadion Lebak Bulus menjadi depo MRT.

Pembebasan lahan dan penertiban juga dilakukan di sekitar  stadion dan Terminal Lebak Bulus. Meskipun sudah dibebaskan, tetap saja masih banyak hunian warga yang tetap berdiri. Sebagian besar merupakan hunian liar dan kios-kios pedagang yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup di kawasan Terminal Lebak Bulus. Proses penertiban melibatkan petugas satuan polisi pamong praja (satpol PP) yang didukung aparat kepolisian dari Kepolisian Sektor (Polsek) Cilandak dan Polda Metro Jaya.

Di tengah  berbagai kendala khususnya terkait pembebasan lahan, sepanjang tahun 2017 pembangunan depo MRT dilakukan dengan sangat masif. Melalui dokumen arsif foto yang diabadikan oleh pewarta foto Kompas, terlihat proses pengerjaan bangunan depo hingga fasilitas pendukungnya, seperti rel dan Stasiun Layang MRT Lebak Bulus. Pada Agustus 2017, selain penyelesaian konstruksi layang dan bawah tanah, kontraktor juga mulai memasuki tahap pemasangan rel di Depo Lebak Bulus. Dari total 36.000 meter rel yang akan dipasang di fase I, sebanyak 6.000 meter di antaranya ada di depo.

Penanda Zaman Yang Berubah Di Lebak Bulus
Penanda Zaman Yang Berubah Di Lebak Bulus
Penanda Zaman Yang Berubah Di Lebak Bulus

”Teknologi rel terbaru yang dipergunakan di depo adalah bantalan dari fiber yang disebut FFU. Itu lebih tahan lama dan teknologi terbaru,” ujar Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim.

Untuk di depo, lanjut Silvia, pemasangan rel sudah 10 persen. Secara keseluruhan, jalur rel selesai dipasang pada Maret 2018, bersamaan dengan kedatangan kereta pertama di Depo Lebak Bulus. ”Kereta akan langsung dites pada Maret 2018,” ujarnya.

Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Sumarsono optimistis, pada Februari 2019 konstruksi MRT rampung 100 persen. Dan operasionalisasi pertama MRT maju dari target semula, yakni pada Juni 2019 menjadi Maret 2019.

Depo MRT Lebak Bulus memegang peranan cukup penting bagi operasionalisasi MRT. Di  balik kelancaran perjalanan MRT yang dinikmati saat ini, ada proses perawatan yang tak terlihat dan tak pernah berhenti. Di lahan bekas terminal dan stadion itu, setiap kereta diperiksa dan dirawat untuk memastikan setiap unit beroperasi aman dan nyaman bagi jutaan penumpang.

Penanda Zaman Yang Berubah Di Lebak Bulus
Penanda Zaman Yang Berubah Di Lebak Bulus
Penanda Zaman Yang Berubah Di Lebak Bulus

Pembangunan MRT dimulai pada masa Gubernur DKI Jakarta yang dijabat oleh Joko Widodo, kemudian berlanjut pada masa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama dan diresmikan oleh Gubernur Anies Baswedan. Sebagai penandanya, Anies memberi nama pada rangkaian kereta MRT Jakarta alias moda raya terpadu dengan nama Ratangga.

MRT Jakarta, yang  berusia 6 tahun pada Maret lalu, menjadi  kebanggaan warga Jakarta. Bahkan, proyek transportasi massal ini berlanjut ke fase II dengan rute Bundaran Hotel Indonesia-Stasiun Kota.

Jakarta terus berubah mengikuti tuntutan zaman. Perubahan stadion menjadi Depo MRT Lebak Bulus merupakan satu penanda zaman yang  berubah di selatan Jakarta.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Priyombodo .
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto