Penantian Tak Bertepi pada Liga Sepak Bola Putri

Perhelatan liga sepak bola putri yang terus ditunda menimbulkan pesimisme di kalangan pemain. Enam tahun sudah mereka menunggu. Penantian itu seolah tak bertepi.

09 Mar 2025 15:58 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Tia Darti Septiawati hanya bisa menghela napas panjang ketika mengetahui kabar bahwa Liga Putri akan dilaksanakan pada 2027. Artinya, kompetisi sepak bola putri Indonesia ini ditunda lagi.

Mantan pemain timnas sepak bola putri ini jelas kecewa, tetapi tidak terkejut. Maklum, ini bukan kali pertama perhelatan Liga Putri ditunda. Ini juga bukan kali pertama harapan Tia kembali berlaga pada kompetisi Tanah Air pupus.

”Sedih, kecewa, dan seperti enggak ada harapan. Apalagi, liga berkali-kali diundur, sekarang diundur lagi jadi 2027, itu pun enggak ada jaminan bakal benar-benar terlaksana,” ujar Tia yang mengantarkan Persib Putri juara kompetisi sepak bola putri pertama bertajuk Liga 1 Putri 2019.

Sejak Liga 1 Putri 2019 rampung digelar, kompetisi sepak bola putri Tanah Air mati suri. Ketua Umum PSSI saat itu yang juga mewujudkan Liga 1 Putri untuk pertama kalinya, Mochamad Iriawan, menargetkan kompetisi tersebut digelar kembali selambat-lambatnya pada April 2020. Namun, target itu tak terpenuhi karena pandemi.

Pada 2021, ketika tiga kasta kompetisi sepak bola putra dan kompetisi yunior telah dijalankan, Liga Putri tetap tidak bergulir. Kepala Departemen Sepak Bola Wanita PSSI saat itu, Papat Yunisal, mengatakan, pihaknya menghargai keputusan bahwa Liga Putri belum bisa digelar. Pertimbangannya, klub-klub baru bangkit kembali setelah terdampak pandemi dan mengawali kebangkitan dengan mempersiapkan kompetisi putra.

Tim putri Persib Bandung bersukacita seusai menerima piala yang diserahkan Ketua Umum PSSI Mochammad Iriawan saat menjuarai kompetisi sepakbola nasional Liga 1 Putri di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Sabtu (28/12/2019). Dalam laga final tim ini mengalahkan tim putri Tira Persikabo dengan skor 3-1. Liga 1 Putri ini merupakan liga sepakbola putri yang pertama kali digelar di Indonesia.Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)28-12-2019

Apabila Liga Putri dipaksakan digelar pada 2021, Papat khawatir tidak bisa maksimal dan minim peserta. Walakin, Papat memastikan pihaknya memantapkan rencana agar Liga Putri bisa dilaksanakan pada 2022. Namun, saat 2022 tiba, liga kembali tidak bergulir.

Padahal, saat itu, PSSI mendorong tim putra peserta Liga 1 untuk memiliki AFC Club Licensing Regulation. Lisensi didapat jika memenuhi kriteria yang ditetapkan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Salah satu syarat mendapatkan lisensi adalah memiliki tim putri berbadan hukum.

Ini sebenarnya titik terang bagi pengembangan sepak bola putri. Sebab, AFC Club Licensing Regulation akan menambah klub Liga 1 yang memiliki tim putri. Otomatis, peserta Liga Putri akan bertambah karena kompetisi masih diprioritaskan bagi klub-klub Liga 1.

Klub seperti Persis Solo yang waktu itu baru naik kasta berusaha memenuhi persyaratan itu dengan membentuk Persis Women. Mereka bahkan telah menggelar latihan selama lebih dari setahun hingga akhirnya tim dibubarkan pada awal Oktober 2023.

Persis Solo Women menjuarai turnamen level amatir, Ratanika Cup II, di Semarang, Jawa Tengah, Juni 2023. Kini, Persis memutuskan untuk membubarkan tim putrinya karena tak ada kejelasan soal kompetisi. Nasib para pemain seperti Hanipa kembali tak pasti.

Persis Women dibubarkan sementara karena ”hilal” kompetisi masih tidak tampak. Tia, yang hijrah ke Persis Women setelah mengantarkan Persib Putri juara Liga 1 Putri 2019, menjadi salah satu pemain yang terdampak.

Padahal, Tia rela melepaskan pekerjaannya di sebuah bank demi bergabung dengan ”Srikandi Sambernyawa” dengan kontrak selama dua tahun hingga 2024. Namun, harapan itu pupus.

Sebulan sebelumnya, Ketua Komite Sepak Bola Wanita PSSI Vivin Cahyani sebenarnya pernah menyampaikan rencana Liga Putri digelar kembali pada 2024. Dalam rencana itu, peserta Liga Putri adalah 10 tim yang bertarung di Liga 1 dan pelaksanaan kompetisi difokuskan di Pulau Jawa.

Seperti yang terjadi sebelumnya, ketika waktunya tiba, kompetisi juga tidak bergulir. Ketua Umum PSSI Erick Thohir saat ditemui di Bali ketika perhelatan Piala Asia Putri U-17, Mei 2024, memastikan liga sepak bola putri akan bergulir pada 2026. Selama dua tahun menuju 2026, PSSI memilih membangun timnas lebih dahulu.

”Nah, kalau timnas sudah konsisten dalam 2-3 tahun, baru kita gelar liga putri tahun 2026. Liganya pun tidak mungkin seperti liga putra yang ada promosi degradasi. Saya kebayangnya seperti di Amerika atau di Australia. Liga ini ada 6 klub dan bersifat tertutup,” ujar Erick.

Infografik Momen Penting Sepak Bola Putri Indonesia

Erick menilai talenta pemain belum cukup untuk bisa digelar kompetisi dalam waktu dekat. Erick menargetkan Liga Putri sudah diputuskan secara resmi pada Kongres Biasa PSSI 2025.

Namun, pada 20 Februari lalu, hanya berselang beberapa jam sebelum timnas putri menang 1-0 dalam laga resmi FIFA melawan Arab Saudi, Erick mengumumkan hal lain. Erick mengatakan bahwa pihaknya baru menggelar rapat untuk perencanaan Liga 1 Putri yang akan bergulir pada 2027.

Pada kesempatan lain, Erick mengatakan bahwa pada 2027 ketersediaan pemain sudah cukup. ”Kalau bisa 2026 liga bisa digelar, tetapi saya tidak mau terlalu agresif karena ingin memastikan agar pemain bisa sesuai dengan kebutuhan delapan tim,” kata Erick (Kompas.id, 22/2/2025).

Tia mengatakan, sejak 2019, para pemain telah menanti selama hampir enam tahun untuk kembali merasakan kompetisi. Selama ini, pesepak bola putri terbantu dengan kehadiran PON dan turnamen-turnamen lain, seperti Piala Pertiwi. Selain karena formatnya adalah turnamen, PON juga bergulir empat tahun sekali.

Pesepak bola putri DKI Jakarta Risa Afriyani (kanan) mencoba merebut bola dari pesepak bola Jawa Barat Reva Oktaviani (kiri) saat pertandingan final sepak bola putri PON XXI Aceh-Sumut di Stadion Mini Pancing, Deli Serdang, Sumatera Utara, Sabtu (14/9/2024). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/nz

Adapun Piala Pertiwi tidak konsisten digelar. Piala Pertiwi putaran nasional baru digelar kembali tahun 2024 setelah pada 2023 batal terlaksana. Pada 2023, beberapa daerah sebenarnya sudah menggelar Piala Pertiwi tingkat regional. Namun, lantaran putaran nasional tidak bergulir, langkah para pemenang dari tiap daerah pun hanya berhenti di tingkat regional.

”Kalau bicara kolam talenta, apakah pemain-pemain yang bermain di PON, Piala Pertiwi, atau turnamen-turnamen di daerah tidak cukup? Kalau harus menanti lagi sampai 2027, berarti kami harus menunggu selama 8 tahun sejak terakhir bermain di liga dan itu bukan waktu yang sebentar,” ucap Tia.

Di PON, misalnya, cabor sepak bola putri diikuti sembilan tim. Dari PON dan Piala Pertiwi, pelatih timnas, Satoru Mochizuki, bisa mendapatkan pemain potensial untuk Kejuaraan ASEAN Putri dan Piala AFF Putri kendati kondisinya tidak ideal.

”Jika ada kompetisi yang rutin digelar, tentu mencari bibit-bibit untuk timnas pun akan lebih mudah. Ini juga kan bagian dari pembinaan, tolok ukurnya di kompetisi,” ujar Tia.

Gelandang tim putri Persib Bandung Tia Darti Septiawati (kanan) berebut bola dengan striker tim putri Tira Persikabo Jesella Arifya Sari (kiri) pada laga final kompetisi sepakbola nasional Liga 1 Putri di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Sabtu (28/12/2019). Dalam laga final, tim putri Persib Bandung mengalahkan tim putri Tira Persikabo dengan skor 3-1. Liga 1 Putri ini merupakan liga sepakbola putri yang pertama kali digelar di Indonesia.Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)28-12-2019
Quote

Jauh di lubuk hati terdalam, tentu tidak ingin meninggalkan sepak bola dan tidak akan benar-benar lepas dari sepak bola. Cuma, kalau berharap terus kok kecewa terus juga.

Harapan akan bergulirnya liga juga perlahan menghilang dari dalam hati mantan pemain timnas putri lainnya, Hanipa Halimatusyadiah. Pada usianya yang baru menginjak 20 tahun, Hanipa mulai terpikir untuk fokus pada bisnisnya ketimbang menanti sesuatu yang tak pasti datangnya.

Menurut Hanipa, berharap pada kehadiran liga seperti menjebloskan diri pada kekecewaan yang tiada ujung. Hanipa berkali-kali berharap, berkali-kali pula kecewa karena harapannya tak kunjung terwujud.

”Jauh di lubuk hati terdalam, tentu tidak ingin meninggalkan sepak bola dan tidak akan benar-benar lepas dari sepak bola. Cuma, kalau berharap terus kok kecewa terus juga,” ucap Hanipa.

”Aku beruntung karena ada usaha lain, tapi tidak sedikit teman-teman yang benar-benar menggantungkan hidupnya dari sepak bola, menanti liga karena selain bisa berkompetisi, juga bisa berkarier seperti profesional. Semakin lama menunggu, semakin lama juga hanya mengandalkan turnamen-turnamen di daerah atau turnamen antarkampung (tarkam),” ujarnya lagi.

Belajar dari liga futsal putri

Pesepak bola putri lainnya, Risda Yulianti, turut mengutarakan kekecewaan dan pesimisme lantaran liga kembali ditunda. Risda juga heran, mengapa kompetisi sepak bola putri sulit digelar kembali. ”Apakah tidak semenarik itu untuk digelar?” kata Risda.

Pemain Rocket FC yang mewakili DKI Jakarta, Hanipa Halimatusyadiah Suandi (merah), menguasai bola dalam laga perebutan peringkat ketiga melawan Adhyaksa FC dari Kalimantan Tengah pada Piala Pertiwi 2024 di Kingkong Arena, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (19/12/2024). Rocket FC meraih kemenangan 1-0 atas Adhyaksa FC.

Risda pun membandingkan dengan liga futsal putri. Bagi Risda, liga futsal putri tidak hanya menjadi penyelamat bagi para pesepak bola yang tidak bisa berkompetisi, tetapi juga menjadi contoh akan konsistensi.

Liga futsal putri konsisten digelar sejak 2012 dengan nama Indonesia Women’s Professional Futsal League (WPFL). Setelah pada edisi perdana melahirkan juara Putri Mataram FC Sleman, WPFL digelar secara reguler setiap tahun mulai 2015. Jenjangnya pun masih terjaga dengan ada Liga Futsal Nusantara Putri sebagai kasta kedua kompetisi.

Menurut Risda, liga sepak bola putri bisa mencontohkan liga futsal yang konsisten digelar dan berjenjang. Baru setelah itu, perlahan memperbaiki kualitas liganya dari tahun ke tahun.

Risda menambahkan, para pemain yang terus menyuarakan kehadiran liga putri tak semata-mata karena memikirkan karier sendiri. Mereka adalah bukti bahwa totalitas dan kecintaan pada sepak bola putri Indonesia sangat besar.

”Kami sudah pernah menunggu lebih lama sebelum akhirnya ada Liga 1 Putri. Lalu, sekarang kami sudah menunggu lebih dari lima tahun untuk ada liga lagi. Namun, sampai kapan kami harus menunggu?” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari