Masih banyak bagian Jakarta yang belum mendapatkan perhatian serius terkait keberadaan kabel-kabel yang menjuntai atau semrawut di trotoar dan jalanan.
24 Apr 2025 16:22 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS – Pembangunan sarana jaringan utilitas terpadu atau SJUT di 10 ruas jalan utama di Jakarta Selatan disebut telah mencapai 82 persen. Hal ini memberi harapan bahwa kota menjadi lebih tertata dan aman.
Akan tetapi, meski proyek ini berjalan, tak sedikit wilayah di Jakarta yang masih menghadapi tantangan besar terkait penataan kabel dan saluran utilitas. Tidak sedikit yang masih semrawut.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, dalam kunjungannya ke salah satu lokasi proyek di Jalan Senopati, Jakarta Selatan, pada Kamis (24/4/2025), menyampaikan perkembangan itu.
”Sekitar 25 kilometer SJUT telah diselesaikan di 10 ruas jalan dan pengerjaan kabel udara di ruas-ruas jalan ini telah mencapai 82 persen. Hasil ini cukup baik,” kata Rano.
Penataan SJUT di 10 ruas jalan di Jakarta Selatan dimulai tahun 2023. Tujuannya, memindahkan kabel-kabel udara yang semrawut ke saluran bawah tanah.
Proyek ini mencakup ruas jalan utama yang padat aktivitas, seperti Jalan Mampang Prapatan, Jalan Tendean, Jalan Senopati, Jalan Suryo, Jalan Wolter Monginsidi, Jalan Cikajang, Jalan Gunawarman, Jalan Pattimura, Jalan Trunojoyo, dan Jalan Sultan Hasanuddin.
Pemasangan SJUT dimulai dengan penggalian trotoar untuk memasang saluran bawah tanah (ducting) yang akan menampung kabel utilitas. Petugas menggunakan alat berat untuk menggali tanah hingga kedalaman sekitar 1,5 meter.
Setelah saluran terpasang, petugas menata kabel. Kabel-kabel ini dimasukkan ke daam saluran. Setelah kabel tertata, petugas menyambung kabel sesuai kebutuhan jaringan.
Melalui proyek ini, Jakarta diharapkan lebih tertata, aman, dan siap menghadapi perkembangan digital di masa depan. Pemindahan kabel dari udara ke bawah tanah ini diharapkan mempermudah pemeliharaan dan memberikan kenyamanan bagi masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/99a699a44173d012f00785120ec3fe05-WhatsApp_Image_2025_04_24_at_14.05.42.jpeg)
Sebagai bagian dari pengelolaan jangka panjang, perusahaan milik DKI Jakarta, PT Jakarta Propertindo (Jakpro), akan bertanggung jawab atas pemeliharaan jalur ini setiap hari dan memastikan bahwa jalan utama yang tercakup dalam proyek ini dipelihara secara rutin setiap tiga bulan sekali.
Rano menjelaskan bahwa demi kelancaran proyek ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan hampir 64 operator yang memiliki serat optik yang kini dipindahkan dari udara ke bawah tanah.
”Serat optik yang selama ini ada di atas tentu milik beberapa operator. Kini, mereka telah bekerja sama dengan kami untuk memindahkannya ke bawah tanah. Dengan cara ini, pemeliharaan akan jauh lebih baik,” jelas Rano.
Ia menambahkan, proyek ini bukan hanya pekerjaan ’kosmetik” semata, melainkan langkah dalam mempercantik kota Jakarta serta memberikan kenyamanan dan pelayanan lebih baik bagi warga.
”Kabel memang tidak terlalu banyak, tetapi serat optik yang terpasang luar biasa jumlahnya. Kami akan membenahinya di seluruh Jakarta,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Iwan Takwin, menambahkan bahwa fokus utama pembangunan SJUT saat ini adalah di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, yang dikenal sebagai area dengan aktivitas masyarakat yang padat.
”Kami mulai di wilayah selatan yang memang sangat padat dan memiliki tingkat aktivitas yang tinggi. Selanjutnya, kami akan melanjutkan proyek ini di Jakarta Timur, terutama di area-area distrik pusat kegiatan,” kata Iwan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/13/eaaab0e4-d632-4f50-a1e8-705d769f1d9c_jpg.jpg)
Jakarta Selatan dan Jakarta Timur juga memiliki infrastruktur yang lebih siap untuk mendukung pembangunan SJUT, termasuk ketersediaan ruang di bawah tanah dan aksesibilitas untuk pekerjaan konstruksi. Hal ini mempermudah pelaksanaan proyek dan mengurangi gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
Untuk di Jakarta Timur, pihaknya menargetkan pembangunan SJUT sepanjang 30 kilometer hingga akhir 2025. Iwan menambahkan, proyek pembangunan SJUT sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta unuk mengatasi masalah kabel semrawut yang kerap mengganggu pemandangan dan berpotensi membahayakan keselamatan warga.
Bagi warga, penataan kabel yang semrawut di udara ini adalah secercah harapan untuk masa depan Jakarta. Mereka percaya bahwa kota yang lebih rapi dan terorganisir akan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan aman.
Salah satu warga Jakarta Selatan, Anisha (38), mengatakan, dengan adanya pembangunan SJUT ini, ia berharap Jakarta bisa lebih tertata dan aman.
Sudah bertahun-tahun Anisha terbiasa dengan pemandangan kabel-kabel yang menggantung di udara, memenuhi jalanan, dan tiang-tiang listrik. Baginya, pemandangan ini bukan hanya merusak estetika, tetapi juga menjadi potensi bahaya.
”Kabel yang terkelupas, terputus, atau melintang di jalanan kerap kali menjadi penyebab kecelakaan,” katanya.
Kabel yang terkelupas atau putus juga berisiko mengalirkan listrik yang bisa menyebabkan kejadian yang lebih fatal.
Beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden serius akibat kabel udara yang semrawut dan menjuntai terjadi di Jakarta. Kecelakaan-kecelakaan ini menyoroti pentingnya penataan SJUT untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan warga.
Pada 5 Januari 2023, misalnya, Sultan Rif’at Alfatih (20) mengalami kecelakaan di Jalan Pangeran Antasari saat mengendarai sepeda motor. Lehernya terjerat kabel serat optik yang menjuntai, menyebabkan tenggorokannya rusak parah. Ia juga kesulitan berbicara dan menelan. Sultan juga memerlukan alat bantu pernapasan untuk bertahan hidup.
Pada 28 Juli 2023, insiden serupa terjadi di Jalan Brigjen Katamso, Palmerah. Vadim (38) meninggal dunia setelah berusaha menghindari kabel yang melintang di jalan. Dalam upayanya untuk menghindari kabel, ia terjatuh dan terperosok ke trotoar, mengalami luka parah di bagian kepala.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/04/8e0460ef-f459-30b9-98a1-57ea1178f02f_jpg.jpg)
Akan tetapi, meski pemerintah mulai menata jaringan utilitas di beberapa ruas jalan melalui proyek SJUT, masih ada banyak bagian Jakarta yang belum mendapatkan perhatian serius.
Secara keseluruhan, progres pembangunan SJUT di Jakarta masih lambat. Dalam lima tahun terakhir, menurut Anggota Komisi D DPRD Jakarta yang juga Wakil Ketua Pansus Raperda Jaringan Utilitas, Husen, hanya sekitar 3 persen dari target 109 kilometer SJUT yang terbangun di Jakarta.
”Lima tahun terakhir hanya tiga persen (terbangun), persoalan Jakarta itu 100 persen. Mau berapa ratus tahun? Ini yang kita tidak tahu,” ujarnya.
Sejumlah lokasi di Jakarta dengan banyak kabel menjuntai antara lain di Jalan Kuningan Barat Raya, Jaksel, dan Jalan Ciledug Raya, Jaksel.
Husen berharap semua hambatan membangun SJUT Jakarta diatasi. Pansus akan mencari tahu secara pasti apa kendala yang dihadapi oleh dua Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang ditugaskan untuk menangani SJUT.
”Kami akan bongkar. Apa kendalanya, persoalannya apa, karena hanya bisa (membangun) tiga persen,” kata Husen.
Husen menilai bahwa SJUT perlu diterapkan di seluruh wilayah di Jakarta, tak hanya di jalan-jalan protokol saja. Selain itu, ia berharap pada rancangan peraturan daerah tentang SJUT nanti diatur sanksi pidana bagi pemilik kabel yang tidak menaati aturan terkait SJUT.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Mukhamad Kurniawan