Cuaca mendung dengan gelombang laut yang mencapai 1,6 meter turut memengaruhi efektivitas pencarian di laut lepas.
25 Des 2025 10:14 WIB · Lingkungan
Dokumentasi Kantor SAR Lampung
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Operasi pencarian terhadap delapan anak buah kapal kapal nelayan Maulana-30 yang hilang di perairan Lampung terus dilanjutkan. Memasuki hari keenam pencarian pada Kamis (25/12/2025), petugas memperluas area pencarian dengan mengerahkan armada laut dan udara.
Sebelumnya diberitakan, kapal nelayan Maulana-30 yang mengangkut 33 anak buah kapal (ABK) terbakar di perairan Lampung, tepatnya di sekitar selatan Belimbing, Kabupaten Tanggamus, Sabtu (20/12/2025) pagi. Sebanyak 25 nelayan dievakuasi dengan selamat, sementara delapan orang sisanya masih dalam pencarian.
Dari delapan orang yang masih hilang, tujuh orang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Mereka adalah M Rifky Isna (22), Fattahillah (30), Syaiful Parno Majid (46), M Yusron Muttaqo (33), Rasmat (46), Agus Ramadlon (47), dan Mujahidin (39). Adapun satu nelayan yang hilang berasal dari Depok, yakni Syahrudin Dirwanto (22).
Kepala Kantor SAR Lampung Deden Ridwansah mengatakan, perluasan area pencarian dilakukan mengikuti pergerakan arus dan angin. Pada awal pencarian, petugas gabungan telah menyisir di sekitar lokasi kapal terbakar dan wilayah perairan barat Lampung. Namun, petugas belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/22/ce56303d0556fb55928874dd82ffb355-WhatsApp_Image_2025_12_21_at_18.55.06.jpeg)
”Kami memperluas area pencarian secara signifikan berdasarkan prediksi pergerakan korban. Seluruh unsur tetap berupaya maksimal meski kondisi cuaca masih cukup menantang,” kata Deden.
Pada hari kelima pencarian atau Rabu (24/12/2025), tim SAR gabungan memperluas area pencarian hingga lebih dari 7.700 mil laut. Pencarian dilakukan menggunakan KN SAR Basudewa dengan menyisir perairan Ujung Kulon, Pulau Panaitan, hingga perairan Gunung Anak Krakatau. Selain petugas Basarnas Lampung, pencarian juga melibatkan petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Polairud Polda Lampung, dan aparat TNI AL.
Sebelumnya, tim SAR gabungan telah mengerahkan satu pesawat udara jenis ATR 62-500 milik KKP untuk memantau dari udara. Pesawat terbang selama sekitar empat jam untuk mencari dengan ketinggian sekitar 500 kaki. Pesawat akhirnya kembali ke Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dengan hasil nihil.
Deden mengungkapkan, cuaca mendung dengan gelombang laut yang mencapai 1,6 meter turut memengaruhi efektivitas pencarian di laut lepas. Pihaknya tetap memprioriotaskan keselamatan semua personel selama menjalani misi pencarian tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/20/4909c70eea3f87700395b51a555605f5-WhatsApp_Image_2025_12_20_at_15.01.49.jpeg)
”Angin kencang dan gelombang laut yang cukup tinggi memengaruhi jangkauan dan efektivitas pencarian. Namun, upaya maksimal tetap kami lakukan dengan mengutamakan keselamatan semua personel,” katanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Lampung. Hujan deras disertai angin kencang masih berpotensi mengguyur sebagian wilayah Lampung selama beberapa hari ke depan.
Pada Desember 2025, Lampung juga sudah memasuki musim hujan. Dinamika atmosfer, kelembaban udara yang cukup tinggi, dan hangatnya suhu permukaan air laut memicu terjadinya hujan.
Di wilayah perairan Lampung, gelombang dengan ketinggian 1,25 meter sampai 2,5 meter berpotensi terjadi di perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, dan perairan Teluk Lampung bagian selatan.
Direktur Pengendalian Operasi Armada Kementerian Keluatan dan Perikanan Saiful Umam mengatakan, kapal Maulana-30 diketahui berlayar dari Pelabuhan Muara Angke sejak Rabu (17/12/2025). Kapal itu mencari ikan menuju daerah penangkapan ikan (fishing ground) WPP NRI 572. 573. Saat berlayar dari Pelabuhan Muara Angke, kondisi kapal dinyatakan laik berlayar. Kapal juga melengkapi seluruh dokumen persyaratan untuk bisa berlayar dan mencari ikan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/89712bbcfb067af3f3ed38cd1fc514f1-WhatsApp_Image_2025_07_10_at_20.30.04.jpeg)
Namun, setelah tiga hari berlayar, kapal dilaporkan terbakar di perairan Lampung pada Sabtu (20/12/2025) sekitar pukul 08.00 WIB. Tim pun langsung memantau melalui sistem untuk melacak posisi kapal tersebut.
Dari hasil pelacakan, kapal yang terbakar diketahui berada pada koordinat 6°17'23.16"LS 104°16'9.48"BT, tepatnya di wilayah perairan sekitar selatan Belimbing, Kabupaten Tanggamus. Selanjutnya, KKP menghubungi kapal nelayan terdekat agar membantu penyelamatan anak buah kapal.
KKP juga menerjukan Kapal Pengawas (KP) Orca 05 untuk membantu evakuasi korban. Saat ini, sebanyak 25 korban yang selamat sudah dibawa kembali ke Jakarta.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kebakaran kapal nelayan itu dipicu oleh adanya gangguan teknis di dalam kapal. Kendati begitu, KKP akan menunggu hasil investigasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran kapal.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nur Adji