Pencarian puluhan korban terdampak bencana tanah longsor di Banjarnegara, Jateng, dilanjutkan. Rekolasi warga ke hunian sementara bakal dimulai dalam tiga hari.
18 Nov 2025 11:07 WIB · Lingkungan
DOKUMENTASI BPBD BANJARNEGARA
SEMARANG, KOMPAS — Penanganan bencana tanah longsor yang melanda Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terus dilakukan hingga Selasa (18/11/2025). Selain melanjutkan pencarian dan penanganan korban di titik-titik pengungsian, pemerintah juga akan memulai relokasi warga ke hunian sementara.
Bencana tanah longsor melanda Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, pada Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 16.00 WIB. Akibat bencana tesebut, dua orang meninggal dan 10 orang luka-luka.
Sebanyak 41 orang yang menyelamatkan diri ke hutan saat bencana terjadi juga sudah dievakuasi. Hingga Selasa (18/11/2025), sebanyak 823 orang yang terdampak bencana itu mengungsi ke sejumlah lokasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/18/61b62e9e5062fe60f411e9ac93837e77-cropped_image.jpg)
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyebut ada 26 warga yang belum diketahui keberadaannya. Pencarian terhadap warga itu sudah dilakukan sejak Minggu dan masih terus dilakukan hingga Selasa.
”Ada 26 warga yang masih belum ketemu, ini menjadi prioritas untuk ditemukan. Besok (Selasa) pagi 500 personel kami kerahkan untuk melanjutkan pencarian,” kata Luthfi dalam keterangannya, Senin (17/11/2025).
Dalam bencana itu, sebanyak 195 rumah dilaporkan terdampak dan 30 di antaranya roboh. Luthfi menyebutkan, pemerintah bakal menyiapkan hunian sementara bagi mereka. Para korban ditargetkan mulai direlokasi ke hunian sementara dalam tiga hari ke depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/17/69331086ac282073ffa55a75cba6d92d-20251117_GKT_Peta_Longsor_Pandanarum_Banjarnegara_Jateng_mumed.png)
”Hunian sementara sudah kami siapkan. Setelah itu baru hunian tetap karena satu dusun terdampak. Ini bukan sekadar tempat tinggal. Kebutuhan sandang, pangan, papan, dan pekerjaan warga harus dipikirkan bersama,” tutur Luthfi.
Pemerintah Provinsi Jateng, lanjutnya, telah mengalokasikan anggaran belanja tidak terduga sebesar Rp 450 juta. Anggaran itu, antara lain, untuk penanganan rumah warga yang tertimbun atau musnah.
Luthfi mengimbau warga di Dusun Situkung untuk tidak kembali ke rumah masing-masing karena kondisi tanah di kawasan itu masih labil. Berdasarkan kajian petugas, ditemukan adanya area longsoran yang masih berpotensi bergerak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/17/f0d5cee7098288031cb62a6e79708181-cropped_image.jpg)
Pemprov Jateng membagi penanganan bencana di wilayahnya menjadi empat kluster. Kluster pengungsian untuk memastikan kebutuhan dasar warga, kluster logistik untuk mengatur alur pasokan makanan dan kebutuhan pokok, kluster kesehatan untuk memberikan layanan kesehatan darurat, serta kluster pendidikan untuk memastikan aktivitas belajar anak-anak korban bencana bisa tetap berjalan.
Selain itu, rapat-rapat disebut Luthfi dilakukan bersama dengan pemerintah kabupaten/kota, terutama yang wilayahnya rawan bencana longsor. Dalam rapat itu, Luthfi mengimbau para bupati dan wali kota agar memperkuat mitigasi bencana.
”Jateng ini minimarket bencana. Ada daerah-daerah tertentu yang harus diantisipasi, seperti Batang, Kendal, Wonosobo, Banjarnegara, Brebes, Magelang, dan Temanggung. Potensi gerakan tanah (di wilayah-wilayah itu) tinggi, harus ada pencegahan dini,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/18/d1215b9ba37703a00ca719904e4ebb82-WhatsApp_Image_2025_11_18_at_10.38.29.jpeg)
Wastinah, salah satu korban bencana tanah longsor di Desa Pandanarum, mengaku bersyukur bisa selamat. Pada Minggu petang, ia bersama puluhan warga lain langsung berlari ke hutan untuk menyelamatkan diri. Setelah itu, mereka dievakuasi oleh petugas ke puskesmas untuk dicek kondisi kesehatannya kemudian diantar ke pengungsian.
Wastinah yang kini masih berada di pengungsian berharap pemerintah bisa memberikan solusi bagi warga yang rumahnya terdampak bencana. ”Harapannya bisa punya rumah lagi, tetapi bukan di situ,” kata Wastinah.
Sementara itu, Kepala Desa Pandanarum Misrod menyebutkan, selain merenggut korban jiwa dan menyebabkan sejumlah warga terluka, bencana tanah longsor di wilayahnya juga menyebabkan ratusan hewan ternak milik warga diduga tertimbun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/17/58d7415a577f6f4836007459bc9a0a3e-cropped_image.jpg)
”Berdasarkan pendataan, diperkirakan ada 30 sapi dan 250 kambing yang tertimbun material longsor. Total kerugiannya mencapai Rp 640 juta,” ucap Misrod.
Selain itu, bencana tersebut juga merusak lahan pertanian warga. Berbagai tanaman warga, seperti padi, cabai, tomat, dan kapulaga, rusak. Misrod memperkirakan kerugian di sektor pertanian mencapai Rp 2,9 miliar.
Adapun material longsor merusak saluran irigasi. Kerugian yang ditanggung akibat kerusakan irigasi ditaksir mencapai Rp 50 juta.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul