Perusahaan terbuka cenderung berhati-hati menghabiskan pendapatan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global serta domestik.
11 Mei 2026 14:46 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Kinerja perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia pada triwulan I-2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif, terutama dari sisi pendapatan. Namun, laju ekspansi modal (capital expenditure) mulai melambat di banyak sektor sehingga dapat berdampak pada pertumbuhan tenaga kerja.
Berdasarkan data laporan keuangan emiten yang disusun BCA Economic Research, dikutip Senin (11/5/2026), mayoritas sektor industri masih mencatat pertumbuhan pendapatan positif secara tahunan pada tiga bulan pertama 2026.
Sektor komunikasi dan teknologi informasi menjadi salah satu yang paling menonjol dengan pertumbuhan revenue mencapai 18,2 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Belanja modal (capital expenditure/capex) sektor ini juga masih tumbuh tinggi sebesar 31,3 persen secara tahunan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/11/4bccc3ccafbbdeb45e1c76c593b460d6-IMG_20260508_WA0000.jpg)
Sektor kimia dan farmasi juga mencatat lonjakan pendapatan sebesar 171,6 persen secara tahunan meski pertumbuhan capex-nya mulai mengalami normalisasi menjadi 54,8 persen setelah melonjak sangat tinggi pada triwulan IV-2025.
Kinerja positif juga terlihat pada sektor tambang logam dan mineral yang membukukan pertumbuhan pendapatan triwulan I-2026 sebanyak 81,1 persen dibandingkan triwulan I-2025.
Sementara itu, sektor produk dan layanan agrikultur (CPO) mencatat pertumbuhan pendapatan 34,2 persen secara tahunan dengan tren kenaikan capex 9 persen. Adapun sektor kesehatan membukukan pertumbuhan pendapatan 9,7 persen dan capex yang meningkat 24 persen.
Namun, tidak semua sektor menunjukkan penguatan. Sektor industri kertas, plastik, dan material konstruksi hanya mencatat pertumbuhan pendapatan tipis 0,1 persen secara tahunan. Sementara itu, sektor real estat mengalami pelambatan signifikan dengan capex terkontraksi 68,2 persen. Sektor perbankan dan keuangan masih mencatat pertumbuhan pendapatan 7,8 persen, tetapi capex-nya turun 26,1 persen.
Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menjelaskan, positifnya pertumbuhan pendapatan perusahaan terbuka atau emiten selama tiga bulan pertama 2026 terjadi karena beberapa faktor. Antara lain, kinerja pendapatan di triwulan IV-2025 yang sudah positif di beberapa sektor, kemudian kenaikan harga komoditas, hingga faktor musiman yang meningkatkan daya beli masyarakat.
Namun, dalam kondisi pertumbuhan pendapatan yang positif, banyak perusahaan berfokus pada efisiensi biaya untuk menjaga profitabilitas. Hal itu terlihat dari pertumbuhan earnings per share (EPS) atau laba per saham yang tidak setinggi kenaikan revenue. Ini mengindikasikan, perusahaan menahan pembagian pendapatan ke pemegang saham.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/16/c3deba8263fc8faaa69f2c3746cb29e1-1000863454.jpg)
Secara umum, kenaikan pendapatan juga tidak menaikkan penyerapan tenaga kerja (workforce) di perusahaan terbuka terkait. ”Workforce jadi salah satu komponen efisiensi karena biaya gaji cukup besar. Banyak perusahaan memilih memangkas atau menahan biaya tertentu,” katanya.
Dari sisi tenaga kerja, sebagian besar sektor industri mencatatkan pertumbuhan tenaga kerja atau workforce yang terbatas. Sektor kesehatan menjadi salah satu yang masih agresif menambah tenaga kerja dengan pertumbuhan 12,3 persen di triwulan I-2026, disusul tambang logam dan mineral sebesar 8,8 persen.
Namun, sejumlah sektor padat karya mulai menunjukkan pelambatan perekrutan. Bahkan beberapa sektor seperti jasa industri serta kertas-plastik-material konstruksi mencatat kontraksi atau penurunan serapan tenaga kerja dari Januari sampai Maret 2026.
David menilai tren tersebut mencerminkan semakin kuatnya praktik efisiensi dan otomatisasi di sektor industri. David juga menyoroti tren deindustrialisasi yang terjadi dalam satu dekade terakhir.
Distribusi penyerapan tenaga kerja manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional kini hanya berkisar 17 persen hingga 18 persen, turun dibandingkan sekitar 30 persen pada masa sebelumnya.
Hal ini, menurut David, didukung oleh investasi besar yang belakangan lebih banyak mengalir ke sektor yang bersifat padat modal, seperti logam dan pertambangan, sehingga dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja relatif terbatas.
”Kalau sektor seperti kelapa sawit, makanan dan minuman, itu sebenarnya masih cukup menyerap tenaga kerja, tapi ekspansinya sekarang juga tidak sebesar dulu,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/05/1887640e3918762600254d3fe1c9326e-20260505_GKT_Laju_Pertumbuhan_Ekonomi_1_mumed.jpg)
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, dihubungi terpisah, mengatakan, performa keuangan emiten pada triwulan pertama ini menunjukkan adanya keselarasan antara pertumbuhan sektor industri dan kinerja emiten di pasar modal.
Menurut Faisal, secara agregat tren pertumbuhan triwulan I-2026 masih positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026.
Pertumbuhan tertinggi sejak 12 triwulan terakhir ini ditopang oleh kenaikan pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 21 persen secara tahunan, disusul pertumbuhan investasi (5,96 persen) dan belanja rumah tangga (5,52 persen).
Namun, pertumbuhan ini dinilai tidak akan berlanjut positif di triwulan kedua nanti sebagai imbas meningkatnya tensi geopolitik global. ”Kalau secara tren memang ada pelemahan mulai Maret karena tensi geopolitik Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang di luar perkiraan,” kata Faisal.
Ia memperkirakan sektor-sektor padat karya menjadi yang paling rentan mengalami tekanan pada triwulan II-2026. Menurut Faisal, kenaikan biaya logistik, harga energi, pelemahan rupiah, dan gangguan rantai pasok global mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk menahan perekrutan tenaga kerja dan ekspansi modal.
”Ketika biaya produksi meningkat, biasanya perusahaan melakukan penghematan tenaga kerja atau menahan rekrutmen baru,” katanya.
Ia juga menilai perlambatan belanja pemerintah pada triwulan berikutnya dapat berdampak lanjutan terhadap perusahaan swasta ataupun BUMN yang bergantung pada proyek dan pengeluaran pemerintah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/04/77777a0ab5573ed6c87ae8684690467c-20260504_H01_PMI_Manufaktur_mumed.png)
Senada, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menanggapi kondisi global sepanjang 2026 cukup berat karena dibayangi ketegangan Timur Tengah, ketidakpastian perang dagang, arah suku bunga global yang sulit diprediksi, dan pemulihan China yang lebih lambat.
Tekanan tersebut masuk ke perusahaan melalui pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, kenaikan biaya logistik, risiko pasokan bahan baku, dan pasar ekspor yang lebih tidak pasti.
Hal ini sudah terbaca dari laporan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur April 2026 yang turun ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret. Ini menandakan pelemahan kondisi manufaktur di awal triwulan II tahun ini.
Momentum Ramadhan dan Idulfitri akan memudar, sementara tekanan biaya dari rupiah, minyak, bahan baku, dan logistik mulai lebih terasa.
Output produksi turun paling cepat sejak Mei 2025, biaya input atau biaya produksi naik paling tinggi sejak April 2022, harga jual naik paling tajam dalam 12,5 tahun, dan perusahaan mulai menurunkan pembelian serta tenaga kerja.
”Saya memperkirakan kinerja perusahaan swasta masih tumbuh, tetapi lebih selektif dan lebih menantang dibandingkan triwulan I. Momentum Ramadhan dan Idul Fitri akan memudar, sementara tekanan biaya dari rupiah, minyak, bahan baku, dan logistik mulai lebih terasa,” ujar Josua.
Sektor padat karya, manufaktur ekspor, properti, konstruksi, kertas, plastik, serta sektor dengan bahan baku impor besar akan menghadapi tekanan laba lebih tinggi. Sementara, emiten konsumsi kebutuhan pokok, telekomunikasi, kesehatan, logistik tertentu, dan jasa yang berbasis permintaan domestik masih relatif lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.
”Untuk perusahaan swasta, fokus utama triwulan II bukan hanya mengejar pertumbuhan pendapatan, tetapi menjaga laba, arus kas, dan efisiensi biaya,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/03/a77ab91d-9f98-4972-bbf4-25bd17a5269b.jpg)
Untuk BUMN, ia menilai prospeknya relatif lebih ditopang oleh belanja pemerintah, proyek strategis, energi, infrastruktur, dan pembiayaan. Namun, BUMN tertentu juga tidak kebal, seperti BUMN energi yang menghadapi risiko kenaikan beban kompensasi dan kebutuhan modal kerja apabila harga energi global tinggi, tetapi harga domestik ditahan.
BUMN konstruksi dan karya masih akan terbantu proyek pemerintah. Namun, mereka tetap harus selektif karena tekanan arus kas, utang, dan beban bunga. BUMN perbankan masih memiliki likuiditas yang kuat, tetapi pertumbuhan kredit perlu ditopang permintaan yang layak, bukan hanya dorongan likuiditas.
Survei Perbankan BI menunjukkan, kredit baru triwulan I tetap tumbuh, tetapi lebih rendah daripada triwulan IV-2025, sementara triwulan II-2026 diperkirakan membaik. ”Ini mendukung pandangan bahwa ekspansi korporasi ke depan ada, tetapi tidak merata,” ujarnya.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Nur Adji