Pendidikan Masa Kini Bukan Sekadar Transfer Ilmu

Empat buku karya Odemus Bei Witono, SJ, terbitan Penerbit Buku Kompas menyuguhkan potret pendidikan masa kini yang harus terus adaptif dengan perkembangan zaman.

14 Feb 2025 19:09 WIB · Humaniora

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Empat seri buku terbaru karya Odemus Bei Witono, SJ, menyuguhkan potret pendidikan masa kini tentang karakter murid yang berbeda dan guru yang harus terus adaptif. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan juga memberikan makna yang mendalam bagi kehidupan penerus bangsa.

Empat buku terbitan Penerbit Buku Kompas ini diluncurkan di Ruang Kompas Institute, Palmerah, Jakarta, Jumat (14/2/2025). Keempat buku ini bertajuk ”Pembelajaran Bermakna dalam Pendidikan”, ”Pendidikan Nilai: Merajut Masa Depan”, ”Pendidikan Berbudaya dan Modern”, dan ”Wajah Pendidikan Karakter”.

Setelah sesi peluncuran buku, digelar bincang buku dengan tiga narasumber. Yakni, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1993-1998) Wardiman Djojonegoro, Guru Besar Ilmu Sosiologi UI Francisia SS Ery Seda, dan peneliti CSIS Medelina K Hendytio.

Sebelum bincang buku, Ketua Pengurus Perkumpulan Strada Romo J Ageng Marwata, SJ, turut menyampaikan pandangan terkait dunia pendidikan.

Melalui empat buku yang ditulisnya, Odemus Bei ingin menggambarkan tentang betapa luar biasanya perjuangan dunia pendidikan nasional. Mulai dari mendidik intelegensi anak hingga membentuk karakter anak yang berbeda-beda dari setiap generasinya.

”Tantangannya memang luar biasa. Anak-anak kita, di satu sisi, mereka diberi banyak kemudahan dengan teknologi, tetapi di sisi lain, filternya agak kabur. Jadi, bagi mereka untuk mengumpulkan dan mengartikan informasi, bahkan untuk berpikir kritis, itu tidak mudah jika tidak didampingi oleh guru yang berkualitas,” kata Pater Odemus Bei.

Direktur Perkumpulan Strada ini mengatakan, keempat buku ini banyak berbicara tentang pembentukan karakter sebelum bisa menjalani pembelajaran yang bermakna dan berpikir kritis. Kemudian, ada panduan bagi pemangku kepentingan untuk bisa menyelenggarakan pendidikan yang terbaik.

Quote

Sistem yang menaungi sekolah itulah yang mungkin perlu diperbaiki.

Dia menekankan, pendidikan yang terbaik ialah pendidikan yang berbasis pada kekayaan Nusantara yang di dalamnya menggabungkan pola pendidikan klasik ditambah pendidikan modern. Ini perlu diperjuangkan oleh semua guru di Tanah Air.

Tak hanya menjadi tugas guru, dia menegaskan bahwa pendidikan karakter juga menjadi kewajiban bagi para orangtua. Kolaborasi antara pihak sekolah dan orangtua dalam mengawasi perkembangan karakter dan akademik anaknya sangat penting ditetapkan menjadi tersistematis sehingga pendidikan menjadi tanggung jawab bersama.

”Sebab, orangtua, bagaimanapun, adalah pendidik yang pertama dan yang utama dan bermitra dengan sekolah. Kalau tidak ada perjumpaan antara sekolah dan orangtua atau keluarga, distansi ini akan semakin jauh,” ucapnya.

Para peserta menyimak Direktur Perkumpulan Strada Odemus Bei Witono yang meluncurkan empat buku tentang Pendidikan Berkualitas Masa Kini di Kompas Institut, Palmerah, Jakarta, Jumat (14/2/2025).

Menurut Peneliti Senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Medelina K Hendytio, generasi sekarang bukan tidak mengerti bagaimana sebaiknya bersikap di masyarakat, tetapi mereka memiliki gaya tersendiri yang berbeda dengan generasi zaman dahulu. Belum lagi pengaruh lost learning akibat pandemi Covid-19 yang cukup banyak memengaruhi.

Kemudian, perkembangan teknologi yang cepat turut memengaruhi karakter anak zaman sekarang yang seringkali kurang berkenan oleh generasi senior. Oleh karena itu, perlu adaptasi di antara guru atau orangtua dan murid agar bisa maju bersama.

”Jadi, saya kira memang harus ada pelurusan nih, apa yang kita anggap sebagai karakter yang memang sesuai dengan tantangan zaman, dan karakter yang kita harapkan waktu kita mengatakan ini adalah moral atau etika yang baik,” ucap Medelina.

Anak-anak bersama orangtua asyik membaca buku saat berkunjung ke layanan koleksi anak Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Senin (30/12/2024). Saat musim libur sekolah seperti sekarang ini menjadi momentum puncak kunjungan di pustaka anak tersebut. Pengunjung ada yang datang bersama keluarga, rombongan hingga komunitas literasi. Jumlah pengunjung layanan koleksi anak pada musim liburan dapat mencapai lebih dari 1.000 dalam satu hari, sementara pada libur biasa sekitar 200 orang. Pengunjung ada yang datang dari luar kota seperti Bandung, Cianjur, Lampung hingga Padang. Layanan koleksi anak Perpusnas memiliki koleksi 41.657 eksemplar buku dengan 13.831 judul. Pengunjung dengan KTP Jabodetabek dapat membawa pulang buku yang dipinjam. Buku pinjaman yang dibawa pulang sejak tiga hari terakhir mencapai 521 eksemplar. Berlibur di perpustakaan menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat selain di tujuan-tujuan wisata. Melalui kunjungan ke perpustakaan, masyarakat dapat membangun minat baca anak-anak sejak dini serta menambah wawasan, pengetahuan dan imajinasi. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1993-1998) Wardiman Djojonegoro menambahkan, Indonesia merupakan negara yang sangat luas sehingga memiliki ragam karakter dan budaya anak-anak yang berbeda-beda. Karena itu, pemerintah harus membuat sistem pendidikan yang berdiferensiasi dan fokus pada pribadi tiap-tiap anak.

Selain itu, dia menyoroti beban administrasi guru sekarang yang terlalu besar sehingga guru tidak lagi fokus pada perkembangan murid, tetapi fokus menyelesaikan laporan untuk perkembangan kariernya sendiri.

”Jadi, di sini, sistem yang menaungi sekolah itulah yang mungkin perlu diperbaiki. Dari mana dimulai? Ya, dari atas tentunya, dari menterinya,” kata Wardiman.

Terkait ini, Wardiman mengapresiasi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang telah mengubah sistem pengelolaan kinerja guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah demi mengurangi beban administrasi guru. Para guru kini dituntut untuk lebih fokus mengajar dan membimbing peserta didik serta berperan aktif di masyarakat.

Direktur Perkumpulan Strada Odemus Bei Witono, SJ, yang meluncurkan empat buku di Kompas Institute, Palmerah, Jakarta, Jumat (14/2/2025), melakukan penandatangan buku yang ditulisnya.

Sementara itu, dalam bincang buku ini, dosen senior Ery Seda mengungkapkan sejumlah realitas dunia pendidikan. Dia menceritakan kembali pengalamannya saat mengajar di Universitas Indonesia.

Tantangan yang dihadapi para dosen sangat besar. Mulai dari urusan administrasi sampai karakter anak didik terutama dari kalangan Gen-Z yang memberikan tantangan berbeda bagi pengajar.

”Anak-anak ini terbiasa dibantu dalam hidupnya oleh orangtua mereka. Berbeda dengan kita yang dididik oleh para orangtua yang dulu belajar di era Belanda. Sedikit-sedikit, mereka ini nangis. Dapat nilai A- (minus) saja bisa menghadap dosen dan menangis. Dulu, saya lulus saja sudah bersyukur,” ujar Ery, memberi contoh.

Kemajuan teknologi, kata Ery, juga memberi tantangan berbeda. ”Mereka jadi tidak tahu apa-apa begitu laptop, HP, dan segala macamnya disingkirkan. Tapi itu kami lakukan, setidaknya di jurusan kami, agar mereka menjadi lebih paham dengan pelajaran yang diberikan,” katanya.

”Kami kembali ke cara lama. Ujian tanpa gadget, bahkan ujian lisan. Itu supaya setelah mereka belajar ilmu dari kami, dapat diyakinkan bahwa mereka memahami betul apa yang diajarkan,” ujar Ery.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Ichwan Susanto