Indonesia mengusung Literasi Keagamaan Lintas Budaya di forum G20 untuk membentuk generasi toleran, melatih 10.000 guru lintas agama.
15 Agt 2025 11:16 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
JAKARTA, KOMPAS – Dalam masyarakat multikultural dan multiagama, Literasi Keagamaan Lintas Budaya atau LKLB yang dikembangkan di Indonesia dapat menjadi pilar vital dari pendidikan karakter. Pendidikan karakter dalam LKLB sejalan dengan nilai-nilai pluralisme positif, toleransi otentik, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Program LKLB yang menguatkan kompetensi karakter para guru dan siswa untuk mampu berkolaborasi dalam keberagamaan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dalam sambutan kunci Sesi Pleno Forum Lintas Agama G20 atau G20 Interfaith Forum (IF20) bertajuk ”Education: Leading Human Development Imperatives”, di Cape Town, Afrika Selatan, yang berlangsung pada Senin hingga Kamis (14/8/2025).
Informasi yang dihimpun pada Jumat (15/8/2025) menyebutkan, sejak berdiri pada 2014, IF20 menjadi wadah jejaring interfaith yang mempertemukan pemimpin agama, masyarakat, akademisi, dan organisasi. Forum ini bertujuan mempromosikan dialog antar-agama dan kerja sama internasional untuk merumuskan rekomendasi kebijakan di tingkat G20.
Melalui siaran pers, Mu’ti mengatakan, pendidikan berperan penting untuk pengembangan karakter generasi muda. Salah satu inisiatif Indonesia lewat program LKLB terbukti membantu peserta didik menemukan identitas diri, memahami orang lain, dan berkolaborasi untuk membangun masyarakat yang damai, bahagia, dan sejahtera.
Dari Indonesia, hadir sebagai panelis Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho dan anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Amin Abdullah. Keduanya menyampaikan program LKLB yang telah melatih lebih dari 10.000 guru berbagai agama dari seluruh Indonesia.
Mu’ti menjelaskan, dalam kebijakan pendidikan dasar dan menengah, Indonesia memprioritaskan pendidikan karakter generasi muda melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, penguatan peran guru, dan pembelajaran mendalam. Selaras dengan itu, LKLB bisa memperkuat Kebiasaan Anak Indonesia Hebat khususnya dalam bermasyarakat karena mengajarkan nilai-nilai toleransi, menghapus perilaku dan sikap memusuhi penganut agama lain, termasuk pelabelan karena perbedaan interpretasi keagamaan.
Menurut Mu'ti, LKLB menyerukan kerja sama di antara berbagai kelompok agama dan kepercayaan, ras, etnis, serta jender untuk menyelesaikan isu-isu global kemanusiaan, seperti perusakan lingkungan, pemanasan global, perubahan iklim, dan menemukan solusi untuk mengakhiri perang antarnegara.
”Melalui kolaborasi lintas negara, lintas budaya, dan lintas agama, kita dapat membesarkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga bijaksana dalam kehidupan sosial,” ujar Mu’ti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/14/0e0db37eaeb56d375eadd9f4ba5979a8-Leimena_Afrika.jpg)
Mu’ti mengatakan, seluruh pihak harus berkolaborasi untuk menghadapi tantangan global. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil yang konsisten dan didukung oleh sekolah, keluarga, komunitas, dan media.
”Melalui persatuan lintas budaya dan lintas iman, kita dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya berilmu, tetapi juga bijaksana dalam kehidupan sosial. Pendidikan yang inklusif adalah kunci membangun bangsa yang tangguh dan berkarakter,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, yang dihubungi pada Kamis (14/8/2025), mengatakan, UNESCO dalam visi pendidikan 2050 ”Reimagining Our Futures Together” yang diluncurkan pada 10 November 2021 menegaskan pentingnya pedagogi yang mempromosikan kerja sama dan solidaritas di tengah dunia yang semakin terpecah dan terpolarisasi.
”Sebagaimana kita lihat apa yang terjadi di dunia saat ini, saya pikir menjadi semakin mendesak dan penting bagaimana kita mengajarkan generasi masa depan untuk menjangkau orang-orang di luar kelompok mereka sendiri, baik kelompok etnis maupun agama. Kita berusaha tidak hanya membangun relasi, tetapi juga kolaborasi,” kata Matius.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/01/20210601-H25-ANU-tingkat-toleransi-mumed-01_1622565635.jpg)
Matius mengatakan, program LKLB di Indonesia yang sudah berjalan empat tahun adalah contoh nyata kolaborasi lintas agama karena melibatkan lebih dari 40 lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan. Program LKLB dimulai dengan ide sederhana, yaitu pelatihan guru untuk menumbuhkan rasa saling percaya sebagai modal sosial masyarakat majemuk.
”Indonesia, sebagai contoh, telah melakukan dialog lintas agama selama beberapa dekade, namun dialog kerap hanya langkah awal, dialog stop pada dialog. Kita perlu melangkah lebih konkret untuk berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda agama dengan kita,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/10/383a7c5a-1ee3-4005-a7b9-30e6cc36a380_jpg.jpg)
Anggota Dewan Pengarah BPIP yang juga Senior Fellow Institut Leimena, Amin Abdullah, yang berbicara dalam sesi IF20 berjudul ”Education for Solidarity: Cross-cultural Religious Literacy and Addressing Religious Tensions, Violence, and Harmony” (Pendidikan untuk Solidaritas: Literasi Keagamaan Lintas Budaya dan Mengatasi Ketegangan, Kekerasan, dan Harmoni), mengatakan, guru berperan penting menyebarkan nilai-nilai harmoni lintas agama.
”Survei nasional yang pernah dirilis mengenai situasi kemajemukan di Indonesia memberikan tiga rekomendasi, yaitu pentingnya literasi keagamaan dan pendidikan lintas agama, perlu memperkenalkan agama lain dalam pendidikan Islam, dan mengekspos guru dengan pengalaman positif keberagaman,” ujar Amin.
Direktur Eksekutif Arigatou International Geneva, Kolombia, Maria Lucia Uribe Torres, menegaskan pentingnya pendidikan yang holistik. ”Selama ini fokus pendidikan terlalu berat pada aspek kognitif, seperti literasi dan numerasi, sementara aspek sosial, emosional, dan spiritual anak sering terabaikan. Pendidikan juga harus mendukung penghormatan terhadap keberagaman budaya, bahasa, nilai, dan agama,” katanya.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto