Peneliti di Perguruan Tinggi Diajak Kembangkan Riset Berbasis Masalah

Indonesia sedang berjuang terlepas dari jebakan negara berpendapatan menengah. Dukungan riset dan inovasi dari perguruan tinggi kian penting.

18 Jan 2025 19:02 WIB · Humaniora

Oleh Ester Lince Napitupulu

JAKARTA, KOMPAS — Penelitian dan inovasi yang berdampak langsung pada masyarakat kian perlu dikembangkan. Karena itu, fokus riset berbasis masalah perlu menjadi pola pikir para peneliti di perguruan tinggi.

”Inovasi harus mengacu pada paradigma transformasi. Jadi, fokus riset berbasis masalah. Kita berangkat dengan masalah dulu,” ujar Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam seminar tentang semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) yang digelar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), di Jakarta, Sabtu (18/1/2025).

Satryo mengatakan, sebuah inovasi tercipta sering kali berbasis dari apa yang para peneliti kuasai. Para ahli diajak untuk beranjak dari masalah yang ada dan mencari solusi untuk masalah tersebut sehingga hasilnya berdampak langsung kepada masyarakat.

 ”Kami meminta setiap perguruan tinggi untuk menata kembali program-program yang dilaksanakan tiap-tiap kampus dan memastikan dampak perguruan tinggi tersebut hadir untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Satryo.

Indonesia saat ini, kata Satryo, sedang berupaya keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).  ”Kalau tidak ditangani dengan baik, kita mendapatkan musibahnya daripada manfaatnya,” ujarnya.

Terkait Astacita Presiden Prabowo Subianto, Satryo mengatakan, ada tiga misi yang Kemendiktisaintek emban. Pertama, memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Kemudian, memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan jender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Terakhir, melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Satryo menyampaikan, berdasarkan RPJMN 2025-2029 dan Astacita, ada pula rumusan dari Kementerian Investasi terkait sembilan sektor investasi prioritas. Semikonduktor termasuk di dalamnya. Semikonduktor di Indonesia berpeluang besar karena bahan bakunya tersedia di Tanah Air, seperti silika, tembaga, bauksit, dan emas.

Indonesia memiliki pasir kuarsa SiO2, dan itu ada 27 miliar ton, serta cadangan 330 juta ton yang tersebar di 23 provinsi. Kemudian, pasir kuarsa dapat diolah menjadi silikon sebagai bahan utama cip semikonduktor. Saat ini, semikonduktor ibarat minyak bumi baru dengan nilai pasar 592 miliar dollar AS.

”Namun, ada tantangan lain, yaitu SDM yang terbatas, teknologi, dan infrastruktur yang kurang memadai. Kita bisa siapkan dengan regulasi. Kita siapkan bina talenta, kita kembangkan talenta untuk AI dan semikonduktor, tambahkan riset dan pengembangan. Kita perlu punya industri yang berteknologi tinggi, memberi nilai tambah yang tinggi, dan hilirisasi,” tutur Satryo.

Ia juga menegaskan, isu ketahanan pangan, ekonomi hijau, ekonomi kreatif, digitalisasi kesehatan, visualisasi bisa diselesaikan dengan memanfaatkan AI dan semikonduktor. Selain itu, revolusi teknologi masa depan berbasis riset sehingga menopang pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Quote

SDM Indonesia harus terus berubah jika ingin mencapai perubahan ekonomi.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia memiliki target pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Apabila dilihat dari kontribusi ekonomi digital, diperkirakan 9 persen dari PDB Indonesia pada 2024.  Lalu, ditingkatkan kontribusinya menjadi 13 persen di tahun 2030 dan mendekati 20 persen di 2045.

Ketua AIPI Daniel Murdiyarso menuturkan, AIPI berupaya memfasilitasi agar terjadi dialog berbagai pihak terkait ilmu pengetahuan. Tujuannya, mencari solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Pola pikir riset

Secara terpisah. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan, SDM Indonesia harus terus berubah jika ingin mencapai perubahan ekonomi. Salah satunya dengan memperkuat pola pikir riset. Ini tidak cukup hilirisasi, tapi juga butuh huluisasi yang berkaitan dengan penyiapan SDM unggul.

Pengujung menyaksikan robot bermain bulu tangkis rancangan mahasiswa Universitas Tarumanegara Jakarta yang ditampilkan dalam Pameran Riset, Inovasi, dan Teknologi (Ritech Expo) di Lapangan D Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (7/8). Pameran yang diselenggarakan dalam rangkaian Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ini menampilkan hasil riset dan inovasi sejumlah instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan perguruan tinggi. Pameran berlangsung hingga 10 Agustus mendatang   Kompas/Yuniadhi Agung (MYE)07-08-2015

Sampai saat ini, ujar Stella, SDM dan peringkat riset Indonesia berada jauh di bawah Malaysia, Thailand, dan Vietnam. ”Kalau mahasiswa punya research mindset, mereka akan menghasilkan penelitian yang berkualitas. Selanjutnya, dia akan bisa menjadi inovator industri dan menghasilkan industri baru. Setelah itu teknologi baru tersebut bisa diterapkan di industri,” kata Stella.

Industri prinsipnya membutuhkan tenaga kerja berkualitas tinggi yang dapat dihasilkan dari kampus. Inilah mengapa kampus dan industri saling membutuhkan. Perlu koordinasi yang baik agar kerja sama keduanya saling menguntungkan. ”Jadi, perguruan tinggi, universitas, dan politeknik mendapatkan masukan ekonomi, mendapatkan suntikan ekonomi dari industri. Orang yang di industri merasa mereka mendapatkan ilmu dari perguruan tinggi,” tuturnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ester Lince Napitupulu
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan