Jumlah negara yang mengakui Palestina makin bertambah. Untuk pendirian negara Palestina masih perlu proses.
22 Sep 2025 18:00 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Pengakuan atas Palestina diharapkan memperkuat perwujudan Solusi Dua Negara. Di Asia, Singapura dan Jepang menjadi bagian dari amat sedikit negara yang belum mengakui Palestina.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengakuan itu pada Minggu (21/9/2025). Kanada, Portugal, dan Kanada juga mengumumkan pengakuan pada hari yang sama.
Pada Senin (22/9/2029), bersama Arab Saudi, Perancis memimpin forum untuk membahas Palestina. Forum di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa itu di New York, Amerika Serikat, itu juga dihadiri Indonesia. Kini, 151 negara dan wilayah telah mengakui Palestina.
Duta Besar Inggris di Jakarta Dominic Jermey mengatakan, pengakuan London mencerminkan nilai-nilai bersama Inggris dan Indonesia terkait kedamaian dan keamanan global. ”Inggris ingin melakukan segala sesuatu yang kami bisa untuk mendukung masa depan yang damai bagi Israel dan Palestina–prospek yang kini semakin menjauh,” katanya di Jakarta, Senin.
Pengakuan terhadap Palestina demi melindungi keberlangsungan solusi dua negara dan menciptakan jalan menuju perdamaian abadi bagi rakyat Israel dan Palestina. ”Keputusan bersejarah ini, yang diumumkan bersama Kanada dan Australia, diambil ketika situasi riil di Gaza terus memburuk, Israel terus memperluas permukiman ilegal di Tepi Barat, dan Hamas tetap menahan para sandera,” demikian pernyataan Kedubes Inggris di Jakarta.
Inggris, juga banyak negara, meyakini Solusi Dua Negara sebagai cara terbaik mewujudkan perdamaian. ”Bebas dari kekerasan dan penderitaan yang mengerikan selama dua tahun terakhir,” demikian lanjut Kedubes Inggris.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/6cbf39f3b6d40990ca155ea9bf06e6c2-BRITAIN_PALESTINIANS_ISRAEL_CONFLICT_DIPLOMACY_132754101.jpg)
Starmer menyatakan, langkah Inggris itu untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian bagi Palestina dan Israel. ”Krisis kemanusiaan buatan manusia di Gaza mencapai titik terendah. Pengeboman yang terus-menerus dan terus meningkat oleh Pemerintah Israel di Gaza, serangan beberapa minggu terakhir, kelaparan dan kehancuran yang terjadi benar-benar tak tertahankan,” katanya.
PM Kanada Mark Carney mengatakan pengakuan akan Palestina akan memberdayakan mereka yang menginginkan koeksistensi damai dan berakhirnya Hamas. ”Ini sama sekali tidak melegitimasi terorisme, juga bukan imbalan untuk itu,” tambah Carney.
Menteri Luar Negeri Portugal Paulo Rangel mengatakan, Portugal menganjurkan solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian yang adil dan abad. ”Gencatan senjata sangat mendesak,” katanya.
Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel, tidak langsung berkomentar mengenai keputusan tiga sekutunya yang mengakui negara Palestina. Presiden Donald Trump sebelumnya telah menegaskan bahwa ia menentang langkah tersebut.
Warga Palestina menyambut pengakuan itu. ”Merupakan kewajiban setiap manusia yang terhormat dan bebas di dunia untuk mendukung warga Palestina selama cobaan yang mereka alami dan peran Inggris kini berada di dalamnya,” kata Sharaf Al Tarda, seorang warga Palestina di Hebron, Tepi Barat yang diduduki Israel.
Sementara Hamas menyebutkan, pengakuan harus disertai dengan langkah-langkah praktis untuk mengakhiri perang di Gaza dan mencegah Israel mencaplok Tepi Barat. Hamas yang bersumpah untuk menghancurkan Israel, menyerukan dunia untuk mengisolasi Israel.
Sementara Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan, pengakuan Inggris tersebut merupakan langkah penting menuju tercapainya perdamaian yang adil dan abadi di kawasan tersebut berdasarkan solusi dua negara. ”Pengakuan tersebut akan membantu membuka jalan bagi negara Palestina untuk hidup berdampingan dengan negara Israel dalam keamanan, perdamaian, dan hubungan bertetangga yang baik,” ujar Abbas.
Husam Zomlot, Kepala Misi Palestina untuk Inggris, menyaksikan melalui ponselnya saat Starmer mengumumkan pengakuan Inggris atas negara Palestina. Di kantor pusat misi di London, yang sekarang mungkin akan ditingkatkan menjadi kedutaan, terlihat senyuman dan pelukan.
”Hari ini adalah momen ketika Perdana Menteri Inggris dan Pemerintah Inggris, atas nama rakyat mereka, berdiri dan berkata: ’Kita harus mengoreksi sejarah. Kita harus memperbaiki kesalahan’,” kata Zomlot.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/f192a321b1f8abc0b5e69559b60a5f5d-FRANCE_PALESTINIANS_ISRAEL_CONFLICT_DEMO_132751957.jpg)
Inggris dan Perancis berperan penting di Timur Tengah seabad terakhir. Mereka menduduki lalu membagi wilayah Kekhalifahan Utsmani selepas Perang Dunia I. Pengakuan mereka penting untuk kawasan. ”Namun, tanpa Amerika Serikat yang mendukung gagasan Palestina, saya pikir sangat sedikit yang akan berubah di lapangan,” kata peneliti Royal United Services Institute (RUSI) London, Burce Ozcelik.
Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies Smith Alhadar berpandangan, pengakuan negara-negara Barat atas Palestina tidak secara otomatis membuat Palestina berdiri sebagai negara. Perlu pembahasan lanjutan di Dewan Keamanan PBB. Masalahnya, AS sebagai pemegang hak veto telah berulang kali menolak gagasan pembentukan negara Palestina.
”Jadi, Palestina belum akan berdiri. Akan tetapi, secara simbolis (pengakuan) itu menguntungkan Palestina karena memberi tekanan ke Israel terkait wilayah-wilayah Palestina yang diakui dalam resolusi DK PBB,” ujar Smith.
Dengan adanya pengakuan dari negara-negara Barat itu, mau tidak mau, keleluasaan Israel untuk melakukan apa saja di Palestina akan berkurang. Eropa juga sudah tidak bisa diam kalau Israel masih menjalankan kebijakan-kebijakan represif terhadap Palestina. ”Publik Eropa akan menekan pemerintah mereka sendiri untuk memberi sanksi Israel,” kata Smith.
Hanya, Smith mencatat, saat ini Uni Eropa masih terbelah. Jerman belum memberikan pengakuan kepada Palestina karena adanya peristiwa holokaus pada 1945. ”Bagaimana nanti negara Palestina itu berdiri, dari kreasi para pemain kunci melahirkan satu negara Palestina yang kompromistis dengan Israel. Barangkali ini maksimum hal yang bisa diperoleh Palestina,” kata Smith.
Ia juga meyakini, setelah Sidang Majelis Umum PBB, dunia akan menyaksikan sebuah proses politik di balik layar itu untuk menyelamatkan Palestina tanpa mengorbankan keamanan Israel. Proses ini menjadi satu-satunya cara yang masuk akal dan menjaga tatanan internasional. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase