Pendidikan vokasi diharapkan menjadi jembatan strategis antara bangku sekolah dan dunia industri.
11 Mei 2025 06:00 WIB · Riset
Penguatan pendidikan vokasi diperlukan untuk mengurangi pengangguran muda dan terdidik yang masih mendominasi agar generasi muda tidak terjebak dalam siklus pengangguran yang berkepanjangan.
Bonus demografi yang kini tengah dinikmati Indonesia ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, potensi penduduk usia produktif yang besar menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun di sisi lain, jika tidak disiapkan dengan baik, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban demografi, yaitu situasi ketika jutaan anak muda tidak tertampung di dunia kerja karena ketidaksesuaian keterampilan.
Dalam konteks ini, pendidikan vokasi diharapkan menjadi jembatan strategis antara bangku sekolah dan dunia industri. Namun, realitasnya masih jauh dari harapan.
Tingginya angka pengangguran usia muda, terutama dari kalangan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), mencerminkan persoalan krusial: mismatch keterampilan dan lapangan kerja yang tersedia.
Pengangguran masih menjadi problem ketenagakerjaan yang harus dientaskan pemerintah. Meski berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2025 sebesar 4,76 persen, turun dibandingkan dengan Februari 2024 yang sebesar 4,82 persen, namun jumlah pengangguran absolut meningkat.
Jumlah ini meningkat 1,11 persen atau bertambah sekitar 80 ribu orang dibanding tahun sebelumnya, dari 7,20 juta jiwa menjadi 7,28 juta jiwa pada Februari 2025.
Problem ketenagakerjaan ini pun semakin kompleks dengan masifnya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor dampak dari guncangan ekonomi global dan perkembangan teknologi, membuat persaingan di dunia kerja semakin ketat.
Ironisnya, jika data Tingkat Pengangguran Terbuka dibedah lebih dalam berdasarkan latar belakang pendidikan tertinggi yang ditamatkan, pengangguran dari lulusan SMK terpotret tertinggi di angka 8 persen, diikuti SMA (6,35 persen), Diploma IV/S1/S2/S3 sebesar 6,23 persen, dan tamatan Diploma I/II/III sebanyak 4,84 persen.
Satu temuan menarik dari laporan BPS Februari 2025 ini, TPT dari lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 justru naik 0,6 persen dibanding tahun sebelumnya.
Ekonomi yang tumbuh stagnan di kisaran angka 5 persen dalam beberapa tahun terakhir tidak cukup untuk menyerap tenaga kerja yang terus bertambah. Akibatnya, fenomena pekerja berpendidikan tinggi yang beralih ke pekerjaan kerah biru semakin nyata.
Lulusan S-1 hingga S-3 kini tak jarang bekerja sebagai sopir, asisten rumah tangga, pekerja proyek, hingga tenaga kebersihan karena sulitnya mencari pekerjaan formal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/10/9c4f56b6-fd18-408c-b5f7-7c0afeac2cde_png.png)
Fenomena ini juga menggambarkan semakin suramnya potret pengangguran muda. Data BPS menunjukkan, pada Februari 2025, kelompok usia muda (15-24 tahun) masih mendominasi pengangguran, dengan TPT sebesar 16,16 persen. TPT kelompok usia muda ini selalu tertinggi dari tahun ke tahun.
Di samping itu, Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 mencatat, persentase pemuda yang masuk kategori Not in Employment, Education, and Training (NEET) cukup banyak (23,79 persen).
Hal ini menggambarkan cukup banyak kalangan pemuda yang rentan karena tak memiliki aktivitas apa-apa, baik bekerja, mengikuti pendidikan/pelatihan, maupun mencari pekerjaan.
Dilihat dari usia, kelompok usia 19-24 tahun yaitu usia lulus SMA/SMK dan kuliah tercatat paling banyak, yaitu 26,37 persen. Berdasar jenjang pendidikan yang ditamatkan, sebanyak 26 persen pemuda tamatan SMA/SMK sederajat masuk kelompok NEET, sedangkan yang tamat perguruan tinggi sebanyak 19,62 persen.
Tingginya pemuda yang masuk kategori NEET tentu menjadi ancaman serius bagi pembangunan Sumber Daya Manusia ke depan, apalagi dalam menyiapkan Indonesia Emas 2045.
Dilihat dari capaian Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) nasional yang diukur dari lima domain, domain Lapangan dan Kesempatan Kerja juga masih menjadi pekerjaan rumah.
Domain yang mengukur kondisi lapangan kerja dan peluang kerja bagi pemuda, skornya dari tahun ke tahun selalu di bawah domain lainnya, meski capaian IPP nasional menunjukkan tren yang meningkat.
Skor IPP nasional pada 2022 yakni 55,33, tahun 2023 dengan nilai mencapai 55,83, dan tahun 2024 IPP nasional mencapai skor 56,33.
Mengapa pengangguran usia muda tinggi.? Salah satu faktor penyebab adalah, pekerja muda yang memasuki dunia kerja tak memiliki pengalaman/keahlian kerja yang dipersyaratkan perusahaan.
Perusahaan cenderung memilih pekerja yang lebih berpengalaman atau memiliki keahlian/keterampilan yang sesuai sehingga mengurangi peluang kerja bagi pekerja muda. (Kompas, 23 Maret 2025)
Fenomena mismatch atau ketidaksesuaian keterampilan terjadi ketika kompetensi yang dimiliki pencari kerja tidak selaras dengan kebutuhan pasar kerja.
Dalam konteks Indonesia, mismatch ini tidak hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga meliputi soft skill, kemampuan beradaptasi, kerja sama tim, literasi digital, dan penguasaan bahasa asing.
Pendidikan vokasi sebagai penyedia tenaga kerja berketerampilan khusus masih menghadapi tantangan belum semua satuan pendidikan vokasi memiliki koneksi kuat dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Kurikulum masih banyak yang stagnan, peralatan praktik usang, dan pengajar belum mendapatkan pelatihan yang cukup tentang teknologi terbaru. Akibatnya, lulusan lebih sering “belajar ulang” di tempat kerja, atau justru ditolak karena dianggap tidak siap pakai.
Jika tren ini dibiarkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi krisis tenaga kerja produktif yang hanya berujung pada pengangguran massal. Bukan karena tidak ada pekerjaan, tetapi karena tidak ada kecocokan antara pencari kerja dan pekerjaan yang tersedia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/13/1bd7ab12-c055-4dd4-861d-e51abaa3ab77_jpg.jpg)
Untuk menjawab tantangan ketidaksesuaian keterampilan dan mengoptimalkan bonus demografi, Indonesia harus melakukan lompatan besar dalam sistem pendidikan vokasinya.
Revitalisasi tidak cukup hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga pada level strategi. Pemerintah telah mengupayakan berbagai kebijakan untuk meningkatkan pendidikan vokasi, namun masih perlu penguatan.
Pertama, kurikulum vokasi harus benar-benar berbasis permintaan industri (demand-driven), bukan berbasis penawaran institusi pendidikan. Artinya, penyusunan kurikulum harus melibatkan pelaku industri secara aktif, mulai dari penyusunan materi, pelaksanaan magang, hingga penilaian akhir.
Kedua, program pelatihan dan sertifikasi kompetensi harus fokus pada teknologi baru: otomatisasi, kecerdasan buatan, robotik, analitik data, dan manufaktur cerdas.
Tidak kalah penting adalah pelatihan soft skill, kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, dan bahasa asing yang menjadi kebutuhan utama di era pasar global.
Ketiga, sinergi antara pemerintah, dunia industri, dan lembaga pendidikan harus diperkuat dalam format kolaboratif, bukan sekadar formalitas. Dunia industri tidak boleh hanya menjadi “pengguna akhir”, tetapi harus terlibat sejak awal dalam desain pendidikan vokasi.
Keempat, perluasan program D-4 harus dilakukan secara strategis dengan dukungan pembiayaan, akreditasi yang ketat, serta promosi yang masif ke masyarakat.
Transformasi dari D-3 ke D-4, yang telah didorong melalui Competitive Fund Vokasi dan program Merdeka Belajar Vokasi, patut dijadikan momentum reformasi menyeluruh.
Dengan proyeksi kebutuhan tenaga kerja terampil sebesar 113 juta orang pada 2030, seperti yang disebut McKinsey Global Institute, Indonesia tidak punya banyak waktu.
Jika gagal menyiapkan generasi muda untuk memasuki dunia kerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri, peluang demografi emas hanya akan berakhir sebagai angka statistik.
Kegagalan menjembatani transisi dari sekolah ke dunia kerja akan mengakibatkan generasi muda terjebak dalam siklus pengangguran yang berkepanjangan, kehilangan kepercayaan diri, dan pada akhirnya tidak produktif.
Pendidikan vokasi, dalam hal ini, harus menjadi garda depan. Tidak hanya sebagai alternatif, tetapi sebagai tulang punggung pembangunan SDM masa depan. Kuncinya adalah menyusun ulang arah dan metode pendidikan vokasi agar benar-benar menyentuh kebutuhan riil industri.
Upaya pemerintah meningkatkan pamor pendidikan vokasi pun sudah terlihat dari meningkatnya animo calon mahasiswa terhadap pendidikan vokasi.
Hal ini tecermin dari hasil Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2024 . Dari 785.058 peserta, sebanyak 28.415 orang (3,62 persen) diterima di program vokasi di PTN. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kebijakan baru yang memperbolehkan peserta SNBT memilih hingga empat program studi, termasuk dua dari jalur vokasi (D-3 dan D-4/sarjana terapan), turut mendorong peningkatan ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/10/0144b463-0c3d-4ac2-b3ad-29a2fb606a55_png.png)
Menariknya, data menunjukkan bahwa lulusan SMA kini lebih banyak memilih jalur vokasi dibandingkan lulusan SMK.
Di PTN akademik, tahun 2024 jumlah lulusan SMA yang mendaftar program D-3 mencapai 181.245 orang, sementara untuk program D-4 sebanyak 186.365 orang.
Lulusan SMK masing-masing berjumlah 40.284 dan 41.765 orang. Sementara itu, di PTN vokasi, tren serupa terjadi, dengan jumlah peminat dari SMA melampaui SMK.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma. Pendidikan vokasi mulai dilihat sebagai jalur alternatif yang lebih cepat dan aplikatif menuju dunia kerja. Namun, pertanyaannya, apakah pendidikan vokasi telah cukup siap menjawab ekspektasi ini?
Oleh karena itu, pendidikan vokasi tidak boleh lagi dipandang sebagai jalan sempit, melainkan sebagai jalan cepat dan strategis menuju transformasi bangsa.
Bila dikelola dengan serius dan inklusif, pendidikan vokasi dapat menjadi motor penggerak ekonomi dan sosial, serta menjadi fondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
MB Dewi PancawatiEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Nur Adji