Rencana pengembangan kawasan Sudirman mencakup penataan ulang fungsi Stasiun Karet serta optimalisasi Stasiun Sudirman dan BNI City.
16 Mei 2025 18:02 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Kawasan Sudirman di Jakarta Pusat tengah dipersiapkan menjadi pusat integrasi transportasi publik yang efisien melalui penataan ulang stasiun dan penguatan konektivitas antarmoda. Keberhasilan proyek ini membutuhkan perencanaan menyeluruh yang mengutamakan kenyamanan, keandalan, dan aksesibilitas serta pengelolaan fasilitas yang profesional untuk mendukung mobilitas urban berkelanjutan.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Didiek Hartantyo, Jumat (16/5/2025), menjelaskan bahwa proyek Sudirman Gateway mengusung konsep transit oriented development (TOD) yang mengintegrasikan pengembangan kawasan dengan sistem transportasi publik.
Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang mendukung mobilitas tinggi, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pengembangan kawasan ini merupakan hasil kolaborasi antara KAI, PT Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ), dan Kemitraan Indonesia Australia untuk Infrastruktur (KIAT). MITJ dan KIAT bertanggung jawab dalam penyusunan studi kelayakan dan strategi investasi guna memastikan keberlanjutan serta efektivitas proyek.
Menurut Didiek, kawasan Sudirman memiliki posisi strategis dalam jaringan transportasi Jabodetabek. Pada periode 2024 hingga Mei 2025, Stasiun Sudirman melayani lebih dari 14 juta penumpang Commuter Line, sementara Stasiun Karet mencatat sekitar 4,5 juta penumpang. Stasiun Dukuh Atas BNI City, yang terhubung dengan LRT Jabodebek, juga melayani lebih dari 5 juta penumpang dalam periode yang sama.
Pengembangan kawasan Sudirman tidak hanya menjadikan kawasan sebagai titik transit semata, tetapi juga sebagai simpul utama yang dapat mendorong transformasi kota sekaligus memperkuat integrasi layanan antarmoda. KAI pun telah menandatangani kemitraan strategis antara MITJ dan KIAT untuk memperbarui studi kelayakan dengan penyesuaian pada dinamika kawasan dan potensi keterlibatan investor swasta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/09/4d1b965a-3891-4a9c-8e24-9b287c64f726_jpg.jpg)
MITJ sebagai pelaksana utama akan menggunakan pendekatan dual scenario (dual base dan dual enhanced) yang mencakup analisis potensi komersial, pemetaan akses pejalan kaki, integrasi moda transportasi, dan pengembangan ruang publik yang inklusif.
Rencana pengembangan mencakup penataan ulang fungsi Stasiun Karet dan optimalisasi Stasiun Sudirman dan BNI City sehingga kawasan ini dapat menjadi hub utama layanan KAI Commuter. Selanjutnya, pihaknya menyoroti integrasi antara Commuter Line, MRT, LRT, dan KA Bandara dengan fokus pada peningkatan kenyamanan dan aksesibilitas penumpang.
Selain aspek transportasi, proyek ini juga membuka peluang pendapatan non-tiket melalui pengembangan ruang komersial, area co-working, dan fasilitas publik yang mendukung aktivitas sosial dan ekonomi di kawasan tersebut.
Empat misi utama proyek ini adalah meningkatkan mobilitas multimoda secara efisien dan nyaman; mendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial melalui integrasi ruang campuran; menerapkan prinsip desain berkelanjutan yang responsif terhadap perubahan iklim; serta mewujudkan ruang kota yang adil dan inklusif berdasarkan prinsip Gedsi (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion).
Proyek ini juga menargetkan peningkatan nilai properti di kawasan Sudirman, efisiensi waktu tempuh perjalanan, dan pengurangan emisi karbon lewat pemanfaatan moda transportasi publik yang ramah lingkungan.
Seluruh proses, mulai dari pengumpulan data, penyusunan konsep, konsultasi pasar, hingga finalisasi studi kelayakan, direncanakan berlangsung sepanjang 2025. Pengembangan dilakukan secara bertahap dengan prinsip transparansi, kolaborasi lintas sektor, dan keberlanjutan.
”Dengan Sudirman Gateway, kami ingin menciptakan titik temu antara transportasi masa depan dan ruang hidup yang mendorong terbentuknya masyarakat berkualitas, berakses setara, dengan mobilitas layak dan lingkungan kota yang sehat, serta berdaya saing,” ujar Didiek.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/e05d1c5542eb1a7e72fbda582d002871-WhatsApp_Image_2025_05_16_at_16.35.10.jpeg)
Didiek menegaskan, kesuksesan proyek ini sangat bergantung pada sinergi antara regulator, pemerintah daerah, investor, dan masyarakat luas.
”TOD yang efektif bukan hanya soal desain fisik, melainkan juga keberanian menyelaraskan visi antarpemangku kepentingan. KAI akan terus menjadi garda terdepan dalam perubahan ini,” katanya.
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana, menilai bahwa integrasi di kawasan Sudirman dan Dukuh Atas harus melampaui sekadar integrasi fisik antarmoda. Diperlukan perencanaan holistik yang mengutamakan kenyamanan, keandalan, aksesibilitas, serta pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas yang profesional demi mendukung mobilitas urban yang berkelanjutan.
Seiring dengan beroperasinya MRT Jakarta sejak 2019, kawasan Sudirman semakin menjadi pusat aktivitas perkotaan yang sibuk. Kehadiran MRT membawa dampak positif, seperti peningkatan jumlah pengguna transportasi publik serta pertumbuhan ekonomi di sektor ritel dan perkantoran di sekitar kawasan tersebut.
Selain pengembangan infrastruktur transportasi, proyek TOD di Sudirman juga mulai dibangun. Namun, pengembangan TOD di Sudirman belum sepenuhnya rampung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/10/ec8415a2-bf8a-45fc-9520-fdb89b8856b4_jpg.jpg)
Tantangan utama yang dihadapi adalah pengelolaan kepadatan penumpang dan menghindari kemacetan di beberapa titik perpindahan moda transportasi yang masih sering menimbulkan kerumunan dan antrean panjang.
Selain itu, akses jalur pedestrian di beberapa ruas jalan masih perlu ditingkatkan dari segi keamanan dan kenyamanan agar masyarakat terdorong untuk berjalan kaki dan beralih ke transportasi umum.
Integrasi layanan antarmoda transportasi pun masih dalam tahap penyempurnaan. Misalnya, tarif terintegrasi yang membuat pengguna dapat berpindah moda tanpa harus membeli tiket baru masih belum optimal diterapkan meskipun beberapa langkah pilot sudah dijalankan.
Sebagai ilustrasi nyata, simpang temu atau jembatan multiguna Dukuh Atas yang telah dibangun di kawasan tersebut belum berfungsi secara maksimal. Aditya menyoroti kendala utama pada jembatan ini yang hanya menghubungkan secara parsial antara LRT Jabodebek dan KRL Commuter Line dan menyediakan akses ke MRT Jakarta, tetapi belum terintegrasi dengan baik ke Halte Transjakarta Galunggung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/29/d865baf3-f0c9-4fd8-802b-1c07a983feec_jpg.jpg)
Selain itu, jalan masuk dan keluar Stasiun MRT Dukuh Atas belum terkoneksi dengan baik ke Stasiun Commuter Line Sudirman dan BNI City. Hal ini membuat pengguna yang berpindah moda masih rentan terkena hujan atau panas matahari saat berjalan antarstasiun.
Pengguna simpang temu juga masih harus melakukan tap in dan tap out di dalam Stasiun Commuter Line Sudirman walaupun hanya dikenai tarif minimal Rp 1. Kondisi ini memaksa pengguna masuk ke area stasiun yang relatif sempit dan padat meskipun mereka hanya ingin ”numpang lewat” menuju stasiun lain, seperti MRT Dukuh Atas dan Stasiun KA Bandara BNI City.
”Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perencanaan simpang temu belum komprehensif dan terintegrasi dengan baik. Padahal, tujuan utamanya adalah mempermudah perpindahan pengguna antarmoda transportasi,” kata Aditya, Jumat (16/5/2025).
Selain permasalahan integrasi fisik, aspek keandalan dan pemeliharaan fasilitas juga masih menjadi perhatian. Eskalator di simpang temu kerap mengalami kerusakan, sementara penerangan yang kurang memadai turut menurunkan kualitas layanan. Ini menunjukkan pengelolaan fasilitas pendukung integrasi moda belum optimal.
Fokus utama yang perlu mendapat perhatian serius adalah peningkatan kapasitas angkut moda Commuter Line.
Aditya berharap pengembangan kawasan Sudirman Gateway dapat menjadi pusat integrasi moda transportasi yang komprehensif dan terencana dengan matang. Ia menekankan pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana yang andal serta berkelanjutan demi mendukung kenyamanan dan keamanan pengguna.
Tidak hanya moda berbasis rel, Aditya menyarankan pengembangan kawasan ini diselaraskan dengan penataan integrasi menyeluruh di Dukuh Atas, termasuk moda berbasis jalan, seperti bus rapid transit (BRT) dan non-BRT Transjakarta; angkutan umum, seperti taksi; serta kemungkinan integrasi dengan LRT Jakarta jika rutenya diperpanjang dari Manggarai ke Dukuh Atas.
Fokus utama yang perlu mendapat perhatian serius adalah peningkatan kapasitas angkut moda Commuter Line. Meskipun fasilitas pendukung di stasiun dan kereta sudah semakin modern, hal itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pengguna yang terus bertambah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/03/e9e470f3-741d-4e65-8303-fb6a10337cab.jpg)
Para penumpang membutuhkan frekuensi perjalanan yang lebih tinggi agar waktu tunggu dapat diminimalkan, sehingga mobilitas mereka menjadi lebih efisien dan nyaman. Selain itu, rangkaian kereta yang beroperasi juga perlu diperpanjang untuk menampung lebih banyak penumpang dalam satu perjalanan.
Akses inklusif untuk pengguna dengan kebutuhan khusus, termasuk kaum disabilitas, juga harus disediakan dengan baik untuk memudahkan perpindahan antar moda. Nantinya, semua lapisan masyarakat dapat menikmati layanan transportasi publik dengan nyaman dan aman.
Warga Jakarta Pusat, Fahrina (29), juga berharap pengembangan TOD di kawasan Sudirman dapat mempermudah perpindahan antar moda transportasi tanpa harus menguras tenaga dan waktu.
”Saya berharap pengembangan ini bisa membuat akses antarmoda lebih tertata dengan fasilitas yang lengkap. Jika nantinya juga disediakan ruang publik serta fasilitas pendukung yang nyaman, saya yakin banyak warga akan lebih memilih transportasi umum dibanding kendaraan pribadi,” ujarnya.
Sebagai pengguna rutin Commuter Line dan MRT, Fahrina menilai pengembangan TOD di Sudirman sangat krusial untuk meningkatkan kenyamanan dan efisiensi perjalanan. Namun, saat ini perpindahan antarmoda masih menghadapi kendala seperti jalur yang belum sepenuhnya terhubung dan fasilitas yang kurang terawat.
”Kalau TOD ini berjalan dengan baik, waktu tempuh saya pasti lebih singkat dan pengalaman menggunakan transportasi umum jadi lebih menyenangkan,” kata Fahrina.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Harry Susilo