BAHAN BAKAR

SPBU Diserbu, Pengguna BBM Nonsubsidi di Semarang Khawatir Harga Naik

Sebagian pengguna BBM nonsubsidi di Semarang, Jateng, khawatir dengan isu kenaikan harga. Masyarakat berharap, harga BBM tidak naik.

31 Mar 2026 19:36 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/KRISTI DWI UTAMI

Oleh Kristi Dwi Utami

SEMARANG, KOMPAS — Sejumlah SPBU di Kota Semarang diserbu warga, Selasa (31/3/2026). Mereka rela mengantre lebih lama dari biasanya karena khawatir isu kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Salah satunya terjadi di SPBU Jalan Ahmad Yani. Sejak pagi, antrean kendaraan disebut mengular hingga jarak sekitar 250 meter. Pada Selasa petang, sebagian orang yang hendak membeli BBM nonsubsidi mengaku harus mengantre lebih lama dari biasanya.

Yahya Budiono (67), warga Kecamatan Semarang Timur, misalnya, harus mengantre selama 15 menit untuk mengisi BBM di SPBU itu. Padahal, dia biasanya hanya perlu waktu antre sekitar 5 menit.

Yahya memperkirakan, antrean panjang di SPBU tersebut, khususnya pada jalur pengisian BBM nonsubsidi, terjadi karena kekhawatiran kenaikan harga. Dalam beberapa hari terakhir isu itu ramai terdengar.

”Saya juga khawatir. Kalau bisa, sih, jangan sampai naik, ya. Karena kalau naik, bebannya lebih tinggi,” ucapnya.

Yahya biasanya mengisi mobilnya dengan Pertamax. Dalam satu kali pengisian, ia menghabiskan Rp 500.000. Yahya yang mengaku cukup sering menempuh perjalanan hingga ke luar kota itu mengisi BBM setiap 3-4 hari sekali.

Sejumlah kendaraan mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak di stasiun pengisian bahan bakar Jalan Ahmad Yani, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Pada Selasa petang, antrean di SPBU itu mencapai sekitar 250 meter.

Adel (20), mahasiswa yang tinggal di Kecamatan Gayamsari, juga turut mengantre di tempat yang sama. Meski tidak sepanjang antrean untuk kendaraan roda empat atau lebih, antrean untuk sepeda motor terbilang panjang, hingga belasan kendaraan. Padahal, di jalur pengisian BBM nonsubsidi biasanya jarang ada antrean.

Sebagai mahasiswa perantau, Adel khawatir dengan adanya isu kenaikan harga BBM nonsubsidi. Hal itu berpotensi menambah beban pengeluarannya. Risikonya, ia harus menekan kebutuhan lain untuk menutup biaya tambahan yang timbul akibat kenaikan BBM.

Kendati demikian, Adel menyebut enggan beralih ke BBM subsidi meskipun harga BBM jenis itu diisukan tidak naik. ”Karena saya sudah terbiasa pakai Pertamax. Kemudian, saya juga lebih mempertimbangkan kualitas, lebih bagus Pertamax,” ucap Adel.

Aji Nugroho (48), warga Kecamatan Semarang Tengah, juga menyebut terjebak antrean cukup panjang pada Selasa petang. Sama dengan mayoritas pembeli yang mengantre, Aji bermaksud membeli BBM nonsubsidi.

Dalam sekali pengisian BBM, Aji menghabiskan hingga Rp 1 juta. Bahan bakar itu disebutnya cukup untuk dua hingga tiga pekan.

Saat para pembeli BBM nonsubsidi khawatir dengan isu kenaikan harga, Aji mengaku tidak khawatir. ”Selama barangnya ada, saya enggak masalah. Daripada barangnya murah tapi langka, malah susah,” ujar Aji.

Sejumlah kendaraan mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak di stasiun pengisian bahan bakar Jalan Ahmad Yani, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Pada Selasa petang, antrean di SPBU itu mencapai sekitar 250 meter.

Dihubungi terpisah, Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Taufiq Kurniawan meminta masyarakat menyikapi isu kenaikan harga BBM dengan bijak.

Menurut dia, informasi yang beredar mengenai proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar di masyarakat tidak dapat dipertanggungjawabkan.

”Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April 2026. Dapatkan informasi valid harga BBM Pertamina melalui saluran resmi. Pertamina mendukung imbauan pemerintah untuk menggunakan energi secara bijak,” tutur Taufiq.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul