Erupsi Semeru kembali merusak rumah serta kebun warga. Warga masih mendekati daerah terdampak karena lokasi kerja mereka yang dekat dengan lokasi terdampak.
20 Nov 2025 16:57 WIB · Lingkungan
Kompas/Bahana Patria Gupta
Habibi Rizal (50) meratapi rumahnya yang tenggelam separuh oleh material vulkanik Gunung Semeru di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (20/11/2025). Rumah itu rusak dan tidak bisa ditempati lagi setelah dihantam awan panas sehari sebelumnya.
Sementara itu, di depan rumah, dua ekskavator sibuk mengeruk pasir yang basah oleh hujan. Uap panas masih mengepul keluar dari sela-selanya. Hasil kerukan ekskavator kemudian ditata di sisi kiri dan kanan jalan dusun hingga membentuk gundukan panjang setinggi 2 meter.
Sementara di kejauhan, sekitar 10 kilometer di sisi utara permukiman, tubuh Semeru berdiri angkuh. Puncaknya samar oleh awan kelabu. ”Habis total semua, tidak bisa ditempati lagi. Tak hanya rumah, awan panas juga menghabiskan lahan cabai saya,” ujarnya.
Beruntung, Rizal dan keluarga selamat dalam peristiwa guguran awan panas yang kembali memorakporandakan sejumlah rumah dan fasilitas umum itu. Peristiwa serupa pernah terjadi Desember 2022, tetapi ketika itu awan panas mengenai sisi lain dari Dusun Sumbersari. Rumah Rizal aman kala itu. Namun, lebih dari 50 orang meninggal dunia.
”Dibanding 2022, saat ini lebih parah dampaknya,” kata Rizal yang pada Rabu (19/11/2025) malam mengungsi ke rumah kerabat. Dia menceritakan kronologi bagaimana awan panas itu datang. Saat itu, dirinya tengah istirahat sehabis kerja di lahan. Begitu mendengar raungan sirene, dia segera beranjak mencari tempat aman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/ec9188745be60a1ce6cb84427012e075-20251120BAH39.jpg)
Pada Kamis (20/11/2025), sehari pascabencana, pertanyaan besar masih bergejolak di benaknya. Bukan soal rumah atau lahan pertanian yang rusak, melainkan masa depan dia dan warga lainnya mengingat lahan yang menjadi sumber ekonomi berada di zona merah. ”Yang jadi beban, yang terdampak ini bagaimana? Ke depan bagaimana? Kami berharap ada solusi,” ujarnya.
Apa yang dirasakan Rizal juga dirasakan oleh warga Sumbersari lainnya. Ny Hatama (49) menuturkan, saat guguran awan panas berlangsung, dirinya hendak makan dan melaksanakan shalat Ashar. Namun, tiba-tiba dia melihat suasana dari arah Semeru gelap dan gumpalan awan keputihan bergulung-gulung.
”Saat itu saya menunggu evakuasi. Sempat ada yang bilang ’aman’ sehingga saya masuk ke dalam rumah, namun gumpalan asapnya semakin besar. Saya pun ikut evakuasi. Setelah itu saya lihat rumahnya lenyap,” kata Hatama yang berpindah dari lokasi pengungsian dari masjid ke SD Supiturang 04.
Menurut Hatama, keluarganya sebenarnya sudah mendapat hunian tetap (huntap) yang disiapkan pemerintah. Namun, selama ini keluarganya masih kembali ke rumah di Sumbersari lantaran di hunian tetap tidak ada pekerjaan. Sehari-hari dia dan suaminya bekerja sebagai buruh tani.
Sebelumnya, pemerintah membangun hunian tetap bagi penyintas Semeru tahun 2021 di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro. Total ada 1.951 unit yang disediakan. Jarak hunian tetap dengan Desa Supiturang juga tidak terlalu jauh, yakni sekitar 5 kilometer dengan ketinggian elevasi yang hampir sama.
Namun, dalam perkembangannya, hunian tetap itu banyak ditinggalkan. Warga kembali ke rumah-rumah semula lantaran alasan penghidupan. Maklum, selama ini mereka sudah telanjur bergantung dengan apa yang ada di Sumbersari. Di tempat itu mereka menggarap lahan-lahan pertanian, menanam palawija, menambang pasir, dan pekerjaan lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/c17b5cb82550e3181dfb866092ffb9f2-20251120BAH30.jpg)
Abdul Manaf (60), warga yang lain, mengatakan, ketiadaan pekerjaan membuat warga yang tadinya telah menghuni hunian tetap memilih kembali ke rumah masing-masing di Sumbersari yang lebih dekat dengan lahan pertanian, termasuk dirinya. Meski tidak terlalu jauh, akses menuju ke hunian tetap juga terkendala karena mesti menyeberangi sungai Curah Kobokan.
”Terkadang, Curah Kobokan dialiri air sehingga untuk menyeberang susah. Kalau mau lewat jembatan, agak jauh memutar,” kata Manaf yang masih ingat, selain tahun 2025 dan 2021, awan panas serupa dari Gunung Semeru pernah menerpa kawasan itu pada tahun 1993.
Manaf memiliki lahan seluas 0,5 hektar. Sebagian lahan yang kering ditanami tebu dan salak, sedangkan sebagian lahan lain yang basah, biasa dia tanami padi dan palawija, termasuk cabai. Dari bertani itu pula, dia menghidupi dan menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi.
”Harapan saya, karena rumah di Sumbersari sudah tidak layak dihuni kembali, sebab baru saja rusak terkena awan panas. Alhamdulillah, 2021 pemerintah siapkan huntap (hunian tetap), termasuk saya. Terima kasih sekali kepada pemerintah. Namun, yang menjadi persoalan, ya, bagaimana kalau harus menetap di huntap, tetapi lokasi penghasilannya jauh,” ujarnya.
Manaf berharap dalam beberapa hari ke depan sudah ada solusi, apakah akan diarahkan kembali ke hunian tetap atau yang lainnya. Jika harus kembali ke hunian tetap, dirinya berharap pemerintah memberikan semacam pekerjaan di tempat itu.
”Akibat peristiwa ini, lahan saya sepertinya tinggal satu bidang yang masih bisa dikelola, sedangkan bagian lainnya tidak bisa karena tertimbun pasir dan bebatuan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/77766658912e912cc6527ff66d8a4f50-20251120BAH43.jpg)
Sementara itu, penanganan bencana fokus pada kedaruratan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan, pihaknya bersama semua pihak tengah berupaya mencukupi kebutuhan penyitas, seperti pendirian dapur umum, bantuan pakaian, dan keperluan lainnya.
”Untuk gedung sekolah di Sumbersari yang tertimbun material, masih difokuskan untuk dipindahkan, sementara siswanya bergabung dengan sekolah lain. Adapun tumpukan material lainnya dibersihkan oleh masyarakat, petugas, dan relawan,” katanya.
Berdasarkan data di posko Kecamatan Pronojiwo, jumlah pengungsi mencapai 807 orang, tetapi jumlahnya menyusut di siang hari. Mereka tersebar di tujuh lokasi, antara lain, Balai Desa Oro-oro Ombo, Masjid Nurul Jadid Supiturang, Bumdes Sumberurip, dan Masjid Oro-oro Ombo.
Gatot juga memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Hanya tiga orang terluka, mereka adalah Haryono (49) dan istrinya, Normawati (42), warga Banyakan, Kabupaten Kediri, yang tengah melintas di jembatan Gladak Perak. Keduanya mengalami luka bakar akibat material panas. Satu orang lainnya adalah Hosen (44), warga Sumbersari yang terjebak di dalam rumah saat banjir lahar terjadi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/f890c61d9d013bd17b6a87809a9e4ec7-20251120BAH26.jpg)
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar parawansa, mengatakan, pemerintah akan segera membenahi kerusakan fasilitas sosial dan fasilitas umum. Adapun warga yang rumahnya rusak, menurut Khofifah, mereka sebenarnya telah memiliki hunian tetap. Pihaknya berharap mereka bisa kembali menempati hunian tetap yang ada.
”Pada dasarnya mereka sudah punya huntap. KTP mereka juga sudah hunian tetap, tetapi tempat kerja mereka berdekatan dengan area terdampak. Jadi, area-area yang memang masuk ke zona merah masing-masing mesti mematuhi supaya keselamatan bisa dijaga bersama,” ujarnya.
Khofifah menilai masyarakat di sekitar Semeru telah memahami bagaimana dinamika vulkanologi gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Kalau semua bisa mengikuti arahan pihak berwenang, keselamatan bisa tetap terjaga. Hal ini bisa dilihat dari evakuasi yang cepat saat peningkatan status Semeru naik dari Waspada (Level 2) menjadi Awas (Level 4) dalam waktu relatif singkat.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul