Peringatan 80 tahun kapal USS Missouri ditabrak pesawat Kamikaze Jepang.
12 Apr 2025 13:58 WIB · Foto
Pertempuran Okinawa berlangsung selama 82 hari, dengan pertempuran sengit di darat dan laut. Jepang yang saat itu kalah telak, memutuskan ”serangan khusus” atau yang lebih dikenal dengan tokko. Angkatan Laut Jepang saat itu mendirikan Kamikaze Tokko Tai yang diterjemahkan sebagai Korps Serangan Khusus Angin Ilahi. Pilot-pilot ini berfoto bersama pesawat zero yang akan mereka terbangkan dalam aksi Kamikaze di landasan mereka.
Misi pilot zero adalah menerbangkan pesawat yang membawa bahan peledak untuk ditabrakkan ke kapal-kapal Amerika. Ini dilakukan untuk memukul mundur pasukan Amerika. Aksi ini belakangan lebih dikenal dengan Kamikaze. Kapal yang berhasil ditenggelamkan aksi ini adalah USS St Lo dilaut Filipina pada 25 Oktober 1944. Pesawat yang membawa bahan peledak 250 kg ini berhasil menabrakkan diri dan menenggelamkan kapal perang USS St Lo.
Serangan Kamikaze ini menjadi momok bagi kapal-kapal perang Amerika Serikat di lautan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/12/3bdda4fb-b54e-4f02-99de-b565699ac1b1_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/12/250e087f-0b00-4c8e-bf2d-8695290b1c3a_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/12/045a2a80-e12d-4aa1-94ec-c4de168c695a_jpg.jpg)
Pada 11 April, hanya 10 hari setelah berakhirnya perang Okinawa, awak kapal USS Missouri melihat dua kapal zero terbang mendekati kapalnya. Mereka berhasil menembak jatuh pesawat pertama dan tenggelam ke laut sebelum mencapai kapal. Pesawat zero kedua yang datang hampir bersamaan juga berhasil mereka tembak dan mengenai bagian sayap kanan pesawat.
Pilot Setsuo Ishino, saat itu diperkirakan berumur 19 tahun yang berada di pesawat zero kedua, berhasil mencapai kapal USS Missouri dan mendarat di dek kapal. Bahan bakar yang terbakar menyebabkan bola api dan asal pekat yang membubung tinggi. Awal kapal berhasil memadamkan api dan menemukan jenazah pilot di balik puing-puing pesawat zero. Kapten William Callaghan yang mendapat laporan penemuan jenazah pilot Kamikaze, memerintahkan pemakaman untuk diadakan keesokan paginya. Para kru bahkan diperintahkan mengumpulkan kain merah dan putih serta menjahit bendera ”Matahari Terbit” pilot Setsuo Ishino dapat dimakamkan di bawah benderanya sendiri, seperti diceritakan Frank Clay, kurator Memorial Kapal Perang Missouri, kepada AP.
Mereka membersihkan jasadnya, membungkusnya dengan kanvas, dan meletakkannya di atas nampan di dekat pagar di bawah bendera.
Marinir Amerika Serikat yang berada di kapal USS Missouri memberi hormat dengan tembakan diiringi tiupan trompet saat jenazah diluncurkan ke laut, layaknya pemakaman awak kapal Amerika. Dalam foto yang dirilis Arsip Nasional Amerika, terlihat enam prajurit marinir Amerika melepaskan jenazah pilot Jepang dengan balutan bendera Jepang ke laut lepas. Kapten Callaghan berada di sebelah mereka, sementara ratusan prajurit yang lain mengikuti dan melihat proses pemakaman dari geladak yang lebih tinggi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/12/282164dd-43d8-4fc4-a98b-1483cb050214_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/12/030604d3-4348-46b1-8a45-39ca9e43ee01_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/12/30889255-c45f-48ff-8baf-8800532d02b1_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/12/1e14df9b-85c1-41f9-9130-d69e9e2eb87c_jpg.jpg)
Penyok yang ditinggalkan oleh serangan itu masih terlihat di lambung kapal Missouri yang sekarang ditambatkan dan menjadi museum di Pearl Harbor, Hawaii, tidak jauh dari lambung kapal USS Arizona yang tenggelam dalam pengeboman Jepang tahun 1941.
Pada Sabtu, 12 April 2025, tiga cucu Kapten William Callaghan memperingati hari jadi serangan dan pemakaman bersama Wali Kota Honolulu dan Wali Kota Minamikyushu Jepang, tempat banyak pilot Kamikaze berangkat untuk melakukan misi bunuh diri.
Selalu ada sisi kemanusiaan di balik kejamnya sebuah perang.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul