Produksi Nikel Meningkat, Emiten Tambang Diperkirakan Tetap Profit pada 2025

Strategi peningkatan produksi dan pemanfaatan produk nikel dalam negeri dapat mengantisipasi tantangan penurunan harga dan permintaan.

20 Mei 2025 17:36 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Kinerja perusahaan terbuka di sektor mineral yang memproduksi komoditas nikel dinilai semakin prospektif pada tahun 2025. Peningkatan produksi, termasuk yang didorong oleh kebutuhan hilirisasi, menjadi faktor pendukung di tengah tantangan penurunan harga nikel dunia.

Analis saham Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, Selasa (20/5/2025), menuturkan, beberapa emiten tambang yang memproduksi nikel, seperti PT PAM Mineral Tbk (NICL) dan PT Aneka Tambang Persero Tbk (ANTM), menunjukkan kinerja perusahaan yang baik di tengah penurunan harga nikel global.

Harga nikel dunia hari ini sekitar 15.500 dollar AS per metrik ton atau naik 1 persen dibandingkan harga awal tahun. Namun, secara tahunan atau jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, harga nikel dunia sesungguhnya anjlok 23 persen dari 21.325 dollar AS per metrik ton.

Kendati demikian, Khaer membaca, penurunan harga tidak berdampak negatif pada keuntungan penjualan perusahaan. Faktornya antara lain adanya peningkatan volume produksi, efisiensi operasional, serta dorongan dari hilirisasi, khususnya untuk bahan baku baterai kendaraan listrik. ”Permintaan dari industri dalam negeri juga membantu menjaga stabilitas pendapatan mereka,” katanya kepada Kompas.

Grafik harga nikel dari 20 Mei 2024 - 20 Mei 2025.

Dengan usaha dan pemanfaatan peluang tersebut, ia menilai emiten nikel bisa menargetkan peningkatan produksi dan profitabilitas hingga akhir 2025. Hal ini juga perlu didukung regulasi dan permintaan hilir yang tetap kuat. Di sisi lain, ada pula tantangan seperti fluktuasi harga global, produksi berlebih dari China karena penurunan permintaan, serta isu lingkungan yang perlu diwaspadai perusahaan.

Dalam paparan publik insidental, Senin (19/5/2025), Direktur PT PAM Mineral Tbk Roni Permadi Kusumah menyebutkan, perseroan tahun ini menargetkan realisasi laba Rp 650 miliar pada 2025. Target itu sekitar tiga kali lipat raihan laba per Maret 2025 yang sebesar Rp 193,13 miliar. Capaian laba dalam tiga bulan pertama 2025 sudah melonjak hingga 1.473,78 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 12,19 miliar.

Lonjakan realisasi pada tiga bulan pertama 2025 itu terjadi berkat peningkatan volume dan nilai penjualan. Volume penjualan meningkat mencapai 1 juta wet metric ton/WMT, naik dari 222.791 WMT pada triwulan I-2024. Sementara nilai penjualan tercatat Rp 543,91 miliar, naik 365,68 persen secara tahunan.

Foto direksi perusahaan tambang nikel PT PAM Mineral Tbk (NICL) dalam acara public expose insidentil secara daring, Senin (19/5/2025).

Roni menjelaskan, target penjualan dan laba yang meningkat itu ditunjang penambahan produksi dari entitas anak usaha, yakni PT Indrabakti Mustika (IBM). ”Total volume penjualan hingga akhir tahun ini diharapkan meningkat mencapai 3,3 juta ton, dengan rencana penambahan 700.000 ton pada entitas anak. Kami dalam proses revisi RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya),” ujar Roni dalam paparan daring.

Perseroan juga merencanakan modifikasi cuaca dan perpanjangan izin usaha pertambangan (IUP) sampai 2035 dengan melakukan revisi studi kelayakan dan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) untuk peningkatan produksi.

PAM Mineral saat ini mengoperasikan dua izin tambang, yakni IUP PAM Mineral di Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan cadangan 6 juta WMT. Selain itu, IUP anak usaha mereka, PT IBM, di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, yang memiliki cadangan lebih besar, hingga 22 juta WMT.

Sejauh ini, sekitar 45 persen area tambang di IUP PAM Mineral sudah tertambang. Sementara area PT IBM yang tertambang baru 22 persen.

Pekerja memeriksa produk feronikel hasil pengolahan bijih nikel di pabrik PT Aneka Tambang (Antam) di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Jumat (11/5/2011). PT Antam merupakan satu-satunya perusahaan tambang yang memiliki pabrik feronikel dari puluhan perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Sultra.Kompas/Mohamad Final Daeng (ENG)13-05-2011

Bukan cuma PT PAM Mineral, PT Aneka Tambang Persero Tbk atau Antam sampai triwulan I-2025 juga mencatatkan kenaikan laba hingga 47 persen dari akhir tahun 2024 menjadi Rp 2,1 triliun. Peningkatan ini ditopang oleh penjualan bijih nikel yang naik 45 persen menjadi 3,8 juta WMT dari total produksi hingga 4,0 juta WMT, di samping pertumbuhan volume penjualan emas yang tinggi, yakni 13,7 ton.

Sepanjang 2025, Antam menargetkan dapat menjual 20 juta WMT bijih nikel dari total target produksi sekitar 21 juta WMT. Direktur Utama Antam Nicolas D Kanter dalam keterangan pers pada awal Mei menjelaskan, mereka akan merevisi RKAB tahun ini dari target awal produksi nikel sebesar 16,9 juta ton. Nico mengatakan optimistis perusahaan mampu mencapai target produksi pada triwulan III-2025.

Peluang hilirisasi

Peningkatan produksi perusahaan tambang nikel, menurut Khaer, perlu didukung sejumlah strategi. Strategi itu mulai dari diversifikasi penjualan global untuk produk olahan seperti feronikel hingga efisiensi margin dan optimalisasi di bagian hilir (downstream).

Selain itu, proyek hilirisasi nikel juga perlu difokuskan agar perseroan tetap menghasilkan profitabilitas. Emiten seperti Antam, menurut Nicolas, perlu fokus pada proyek strategis smelter dan ekosistem baterai kendaraan listrik di kawasan Halmahera Timur.

Feronikel hasil pengolahan smelter milik grup Harita Nickel, di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Sabtu (8/4/2023).

Program hilirisasi industri nikel di dalam negeri juga menjadi peluang bisnis bagi perusahaan jasa pertambangan nikel PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE). Direktur Utama MINE Ivo Wangarry dalam pernyataannya optimistis hilirisasi akan menjadi katalis positif bagi kinerja perseroan.

”Dengan semakin banyaknya investasi dalam ekosistem kendaraan listrik, kami optimistis industri ini akan terus berkembang pesat. Hal ini tentu menjadi katalis positif bagi MINE, yang memiliki kompetensi dan pengalaman selama lebih dari 20 tahun dalam menyediakan layanan berkualitas tinggi bagi sektor pertambangan dan pengolahan nikel,” katanya.

Emiten yang baru melantai di bursa pada Mei 2025 lalu ini akan mengoptimalkan peluang bisnis dengan memperbanyak alat berat yang dapat meningkatkan kegiatan operasional. Saat ini, perseroan memiliki 100 alat berat dengan berbagai tipe. Penambahan alat berat dan peningkatan operasional diharapkan berdampak langsung pada pendapatan perseroan. 

Sepanjang 2024, MINE membukukan pendapatan bersih yang meningkat 20,42 persen dari Rp 1,75 triliun pada tahun 2023 menjadi Rp 2,11 triliun. Kenaikan pendapatan mendukung pertumbuhan laba bersih 41 persen menjadi Rp 306,49 miliar dibandingkan Rp 217,28 miliar pada tahun 2023.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti