Trump Akan Jebloskan ”Imigran Ilegal Kriminal” ke Penjara Guantanamo

Imigran ilegal kriminal paling jahat tak akan dideportasi, tapi dijebloskan ke Guantanamo. Kuba protes. Trump tak peduli. Alasannya, mereka membahayakan rakyat AS.

30 Jan 2025 13:00 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

WASHINGTON, KAMIS — Sedikitnya 30.000 imigran yang masuk kategori ”imigran ilegal kriminal paling jahat” akan dikirim ke Penjara Guantanamo di Teluk Guantanamo, Kuba. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah memerintahkan Departemen Pertahanan dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS untuk menyiapkan Guantanamo agar bisa menampung imigran sebanyak itu.

Alasan mereka dikirim ke Guantanamo karena Trump tak bisa percaya negara-negara asal imigran akan memenjarakan mereka dan menjamin mereka tak kembali ke AS. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyebut rencana Trump itu ”tindakan brutal”.

Rencana terbaru yang mengejutkan itu diutarakan Trump saat menandatangani Undang-Undang Laken Riley, Rabu (29/1/2025). UU itu memberikan otoritas federal kewenangan yang lebih luas untuk mendeportasi imigran ilegal yang dituduh melakukan kejahatan di AS.

UU pertama yang disahkan Trump pada periode kedua ini dinamai Riley, dari nama mahasiswa keperawatan berusia 22 tahun asal Georgia yang dibunuh tahun lalu oleh Jose Antonio Ibarra. Ibarra adalah warga Venezuela yang masuk ke AS secara ilegal. Ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

(FILES) View of the US Naval Base of Guantanamo in Cuba the 11 September 2002. US President Donald Trump said on January 29, 2025, he planned to detain "criminal illegal aliens" at the notorious Guantanamo Bay military prison, used for holding terrorism suspects since the 9/11 attacks. Trump made the shock announcement as he signed a bill allowing the pre-trial detention of undocumented migrants charged with theft and violent crime -- named after a US student killed by a Venezuelan immigrant. (Photo by Adalberto ROQUE / AFP)

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, para imigran kriminal itu tidak akan bercampur dengan para tahanan tersangka teroris, termasuk mereka yang terlibat dalam serangan 11 September 2001 atau 9/11 di AS. Lokasinya berbeda.

Guantanamo, atau terkenal dengan nama ”Gitmo”, punya dua fasilitas penahanan. Satu fasilitas untuk tahanan terkait aktivitas terorisme. Satu lagi khusus untuk imigran ilegal yang diberi nama Pusat Operasi Migran. Tempat ini digunakan untuk menampung orang-orang yang dicegat saat mencoba mencapai AS secara ilegal dengan perahu. Sebagian besar berasal dari Haiti dan Kuba.

Direktur Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS Thomas D Homan mengatakan, fasilitas khusus untuk menahan imigran ilegal akan diperluas untuk bisa menampung puluhan ribu imigran ilegal kriminal.

Fasilitas yang ada saat ini hanya mencakup beberapa bangunan dan tidak cukup untuk menampung begitu banyak imigran ilegal. Hegseth juga menyinggung kemungkinan dibangunnya fasilitas baru untuk imigran ilegal di atas tanah yang kini menjadi lapangan golf.

Harian The New York Times (NYT), September 2024, menyebutkan, jumlah imigran yang ditahan di fasilitas khusus tak banyak. NYT menyebut ada 37 imigran yang ditahan di sana dari tahun 2020 hingga 2023.

Kelompok propengungsi menyerukan agar fasilitas khusus penahanan migran di Guantanamo ditutup. Kongres didesak untuk menyelidiki dugaan pelanggaran di fasilitas itu.

Proyek Bantuan Pengungsi Internasional dalam laporannya tahun 2024 menyebutkan, para tahanan menggambarkan kondisi yang tidak bersih dan ”seperti penjara”.

Keluarga dengan anak-anak kecil dijadikan satu dengan orang dewasa lajang. Akses ke telepon pun kurang dan tidak ada layanan pendidikan untuk anak-anak. Mereka terjebak dalam sistem hukuman tanpa batas waktu.

”Semua sudah kenal dengan sejarah penuh kekerasan Teluk Guantanamo. Itu akan membahayakan kesehatan fisik dan mental orang-orang,” kata Direktur Program Detention Watch Network Stacy Suh.

Trump sudah berjanji akan mendeportasi jutaan orang yang tinggal secara ilegal di AS. Namun, anggaran Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) saat ini hanya memiliki dana untuk menahan sekitar 41.000 orang.

ICE menahan imigran di pusat pemrosesan dan fasilitas penahanan yang dioperasikan bersama penjara dan rumah tahanan lokal. ICE tidak memiliki fasilitas khusus untuk menahan para imigran. Selama masa jabatan pertamanya (2017-2021), Trump mengizinkan penggunaan pangkalan militer untuk menahan anak-anak migran.

(FILES) This photo made during an escorted visit and reviewed by the US military shows an US Army soldier walking at unused common detainee space in "Camp 6" detention facility at the US Naval Station in Guantanamo Bay, Cuba, April 8, 2014. US President Donald Trump said on January 29, 2025, he planned to detain "criminal illegal aliens" at the notorious Guantanamo Bay military prison, used for holding terrorism suspects since the 9/11 attacks. Trump made the shock announcement as he signed a bill allowing the pre-trial detention of undocumented migrants charged with theft and violent crime -- named after a US student killed by a Venezuelan immigrant. (Photo by Mladen ANTONOV / AFP)

Pada 2014, mantan Presiden Barack Obama memanfaatkan pangkalan militer sebagai tempat penahanan sementara untuk anak-anak imigran sambil meningkatkan pusat penahanan keluarga.

Pangkalan militer AS telah digunakan berulang kali sejak tahun 1970-an untuk menampung permukiman kembali gelombang imigran yang melarikan diri dari Vietnam, Kuba, Haiti, Kosovo, dan Afghanistan.

”Pesan yang dikirimkan Trump sudah jelas. Imigran dan pencari suaka dianggap sebagai ancaman teroris baru yang harus dibuang ke Guantanamo, dicabut dari layanan dan dukungan hukum serta sosial,” kata Direktur Eksekutif Pusat Hak Konstitusional New York Vince Warren.

Teroris

Penjara militer Guantanamo bagian penahanan teroris masih menampung 15 tahanan dari perang di Afganistan, Irak, dan operasi militer lain yang dipicu serangan 9/11. Beberapa tahanan adalah tersangka perencana serangan 9/11, termasuk dalangnya, yakni Khalid Sheikh Mohammed.

Ada pula tahanan yang dituduh mendalangi serangan terhadap kapal induk USS Cole pada 2000, Abdul al-Rahim al-Nashiri. Dia tangkap pada 2002 dan dipindahkan ke Guantanamo pada 2006.

FILE - In this photo reviewed by U.S. military officials, a U.S. soldier stands between two cells, one used as a library and the other a gym, inside the Camp VI detention facility at the Guantanamo Bay U.S. naval base in Cuba, June 6, 2018. (AP Photo/Ramon Espinosa, File)

Dulu Guantanamo pernah menampung 800 orang yang ditahan atas dugaan aktivitas militan atau pelanggaran terkait terorisme. Menurut Departemen Pertahanan AS, tiga dari 15 tahanan memenuhi syarat untuk dipindahkan. Tiga orang lainnya memenuhi syarat untuk ditinjau ulang untuk kemungkinan pembebasan, sementara tujuh orang menghadapi dakwaan. Sebanyak dua orang telah dijatuhi hukuman.

Penjara Guantanamo dibuka pada 2002 oleh mantan Presiden AS George W Bush di Pangkalan Angkatan Laut AS di sebidang tanah pesisir di tenggara Kuba. Tanah itu disewa dari Kuba berdasarkan perjanjian tahun 1903. Kuba menentang sewa tersebut dan biasanya menolak pembayaran sewa AS.

”Keputusan Pemerintah AS memenjarakan para migran di Pangkalan Angkatan Laut Guantanamo, di daerah kantong tempat mereka menciptakan pusat penyiksaan dan penahanan tanpa batas waktu, menunjukkan penghinaan terhadap kondisi manusia dan hukum internasional,” tulis Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez di X.

Dua pendahulu Trump dari Partai Demokrat, Obama dan Joe Biden, berusaha menutup Guantanamo, tetapi ditentang kongres. Baik Obama maupun Biden hanya bisa mengurangi jumlah tahanannya. Kini, Trump kembali mengaktifkannya.

Guantanamo sejak lama dikecam kelompok-kelompok hak asasi manusia karena mempraktikkan penahanan tanpa batas waktu. Penjara itu menjadi simbol dari tindakan berlebihan ”perang melawan teror” AS karena metode interogasi yang keras dan sama dengan penyiksaan.

Di antara kontroversi terkait Guantanamo adalah praktik pemberian makan paksa kepada tahanan yang mogok makan. Cara pemberian makannya dilakukan dengan memasukkan selang ke hidung dan perut tahanan lalu dipompa masuk nutrisi cair. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari