Karikatur berisi kritik pemilik media yang membungkuk di depan Donald Trump ditolak penerbitannya.
06 Jan 2025 11:06 WIB · Internasional
WASHINGTON, SENIN — Kartunis Ann Telnaes memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di The Washington Post, salah satu media paling berpengaruh di Amerika Serikat. Keputusan ini dia ambil setelah karyanya yang berisi kritik terhadap pemilik media yang tunduk kepada presiden terpilih Donald Trump ditolak editor.
Ia menilai, penolakan tersebut sinyal yang mengekang kebebasan pers. Telnaes mengunggah kisahnya di pelantar Substack, Jumat (3/1/2025).
Ia menuturkan, karyanya menggambarkan sekelompok eksekutif media AS membungkuk di hadapan Trump sambil memberinya sejumlah uang. Di antaranya termasuk Jeff Bezos, taipan pendiri Amazon yang sekarang juga memiliki The Washington Post tempatnya bekerja.
Telnaes mengatakan, karikatur tersebut ia maksudkan untuk mengkritik para kepala eksekutif media dan miliarder teknologi yang berupaya mendekati Trump menjelang pelantikannya sebagai Presiden AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/04/e1e44768-037d-48b4-afba-efea908ca51e_jpg.jpg)
Beberapa eksekutif, termasuk Bezos, telah mengunjungi Trump di pesanggrahannya di Mar-a-Lago, Florida. Telnaes menuduh mereka memiliki kontrak yang menguntungkan dengan pemerintah dan berupaya menghilangkan peraturan.
Telnaes mengungkapkan, ia belum pernah mengalami penolakan terhadap karya karena pesan yang terkandung di dalamnya. "Sebagai kartunis editorial, tugas saya adalah meminta pertanggungjawaban orang-orang dan lembaga yang berkuasa,” tulis Telnaes dalam unggahannya.
Tirani berakhir di ujung pena. Tirani tumbuh subur dalam kegelapan dan ’Washington Post’ hanya menutup mata dan menyerah seperti petinju yang mabuk.
”Untuk pertama kalinya, editor saya mencegah saya melakukan pekerjaan penting itu. Jadi, saya memutuskan untuk meninggalkan Post. Saya ragu keputusan saya akan menimbulkan kehebohan dan akan dikesampingkan karena saya hanya seorang kartunis. Namun, saya tidak akan berhenti menegakkan kebenaran melalui kartun saya karena seperti kata pepatah, demokrasi mati dalam kegelapan,” ujarnya.
Asosiasi Kartunis Editorial Amerika menerbitkan pernyataan yang menuduh The Washington Post melakukan kepengecutan politik. Asosiasi itu menyerukan agar kartunis lain mengunggah sketsa Telnaes dengan tagar #StandWithAnn sebagai bentuk solidaritas.
”Tirani berakhir di ujung pena. Tirani tumbuh subur dalam kegelapan dan Washington Post hanya menutup mata serta menyerah seperti petinju yang mabuk,” kata asosiasi tersebut, Sabtu (4/1/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/24302620-42d4-467a-86b4-f111e7cc75fa_jpeg.jpg)
Direktur Komunikasi The Washington Post Liza Pluto memberikan pernyataan dari editor halaman tajuk rencana surat kabar tersebut, David Shipley. Shipley menyatakan, ia tidak setuju dengan interpretasi peristiwa Telnaes.
Menurut Shipley, keputusannya untuk tidak menerbitkan kartun Telanes karena The Washington Post baru saja menerbitkan kolom dengan topik yang bertema sama dengan kartun karya Telnaes itu.
Mereka berencana menerbitkan kartun lain agar tak mengulang tema. ”Tidak semua penilaian editorial merupakan cerminan kekuatan jahat. Satu-satunya bias adalah terhadap pengulangan,” kata Shipley.
Menjelang pelantikan Trump sebagai Presiden AS, 20 Januari 2025, para taipan teknologi AS yang umumnya juga memiliki media massa atau pelantar media sosial berbalik arah mendekati Trump.
Padahal, sebelumnya, kecuali CEO Tesla Elon Musk yang juga memiliki pelantar X, mereka kritis atau setidaknya menjaga jarak dari Trump. Adapun Musk sudah menjadi sekutu dekat Trump.
Satu per satu, Tim Cook dari Apple, Sam Altman dari OpenAI, Mark Zuckerberg dari Meta Inc, Masayoshi Son dari SoftBank, dan Bezos melakukan lobi tingkat tinggi. Serangkaian kunjungan dan makan malam digelar di antara pembicaraan-pembicaraan telepon.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/13/eed20c06b6194fb1f133615ac753c4ae-000_36M99YX.jpg)
Para taipan media dan teknologi itu juga menjanjikan sumbangan untuk merayakan pelantikan Trump. OpenAI, Amazon, dan Meta, misalnya, telah berjanji menyumbangkan masing-masing 1 juta dollar AS untuk dana pelantikan Trump.
Jumlah sumbangan ini meningkat tajam dibandingkan dengan sumbangan pelantikan untuk presiden-presiden sebelumnya. Di balik lobi-lobi itu, para taipan media dan teknologi dinilai memiliki kepentingan untuk menjaga bisnis mereka aman selama Trump berkuasa.
Organisasi kebebasan pers, Wartawan Lintas Batas (RSF), menilai, Trump mempunyai sejarah mengekang kebebasan pers di periode pertama jabatannya sebagai Presiden AS, 2017-2021.
Di bawah Trump pada 2019, indeks kebebasan pers AS mencapai salah satu titik terendah selama lima tahun terakhir, yaitu di ranking ke-48 dunia atau turun tiga poin dari tahun sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/11/61882798-a736-4df3-91b1-620f2c331df4.jpg)
Pada 2022, kebebasan pers AS naik menjadi di ranking ke-42, tetapi turun lagi pada 2023 di posisi ke-45. Indeks dan ranking kebebasan pers versi RSF ini dinilai dari 190 negara.
Hanya beberapa pekan sebelum pelantikan Trump sebagi presiden untuk periode kedua, kecenderungan itu dinilai muncul lagi.
Trump melayangkan tuntutan ke sejumlah media AS. Salah satunya ke ABC News yang menyelesaikan gugatan pencemaran nama baik yang diajukan Trump sebesar 15 juta dollar AS, ditambah biaya hukum tanpa melalui sidang.
Gugatan Trump itu berdasarkan komentar yang dibuat oleh pembawa acara ABC, George Stephanopoulos, tentang Trump yang dinyatakan bertanggung jawab atas pemerkosaan pada Maret 2024.
Setelah berdamai dengan ABC News, Trump mengajukan gugatan ke media lain, surat kabar The Des Moines Register dan lembaga survei J Ann Selzer pada 16 Desember 2024. Gugatan itu atas jajak pendapat yang diterbitkan sebelum pemilihan 2024.
Jajak pendapat tersebut menunjukkan Wakil Presiden Kamala Harris unggul atas Trump di Iowa. Gugatan Trump menyebut, publikasi jajak pendapat itu sebagai fiksi yang mengganggu pemilu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/10/21/TOPSHOT-US-POLITICS-INTERNET-TRUMP-SOCIAL-MEDIA-SPEECH_99726775_1634822544.jpg)
Direktur Eksekutif RSF AS Clayton Weimers mengatakan, menjelang menjabat, Trump mengintimidasi media dengan hukum karena menerbitkan jurnalisme yang tidak dia sukai. Weimers menyebutnya sebagai balas dendam Trump terhadap media yang selama ini kritis terhadapnya.
”Trump tidak perlu menang di pengadilan agar kampanye hukum balas dendamnya ke media berhasil. Sebab, tuntutan hukum mengikat sumber daya media yang sangat dibutuhkan di tempat lain, terutama bagi media berita kecil tanpa sarana untuk menahan serangan hukum yang didanai dengan baik atau serangan politik terkoordinasi dari Trump dan sekutunya,” katanya, seperti diterbitkan di laman RSF, 23 Desember 2024.
Trump juga pernah melayangkan gugatan terhadap media CBS karena menayangkan wawancara ”60 Minutes” dengan Harris. Trump menuduh acara itu memanipulasi tanggapan Harris. Di media sosial miliknya sendiri, Truth Social, Trump mengancam. ”CBS harus kehilangan lisensinya,” katanya.
Menurut RSF, Trump telah membuat setidaknya 15 seruan kepada Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) untuk mencabut lisensi siaran stasiun televisi. Sebagai catatan, presiden AS tak punya kewenangan mencabut lisensi siaran media.
Trump pernah meminta ABC News untuk dihukum setelah jaringan tersebut menayangkan debat tunggalnya dengan Harris. Sebelum kemenangannya di pemilu AS, ia juga mengatakan, perusahaan media Comcast, perusahaan induk NBC News dan MSNBC, akan diselidiki atas tuduhan pengkhianatan jika ia terpilih.
Ia pernah mengajukan keluhan kepada Komisi Pemilihan Umum Federal terhadap The Washington Post. Serangan antimedia Trump meningkat menjelang pemilihan umum 5 November 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/24/2efc7f81-3a69-4a30-b246-c4c3999f8596.jpg)
Berdasar analisis RSF, dalam periode delapan pekan kampanye, Trump melontarkan cacian dan ancaman ke media setidaknya 108 kali, baik dalam pidato atau pernyataan publik dari 1 September hingga 24 Oktober 2024. Angka ini tidak termasuk unggahan media sosial atau pernyataan dari sekutunya.
Tak hanya kepada media nasional AS. Menurut RSF, Trump juga menyerang media-media lokal independen berdana kecil. Caranya adalah mendiskreditkan media lokal sebagai taktik politik.
Sebuah studi tahun 2024 menemukan bahwa serangan terhadap surat kabar lokal telah mengurangi kepercayaan publik dan niat untuk menggunakan berita lokal.
Weimers menyerukan agar pemilik media tidak menyerah. Namun, kesepakatan damai di luar sidang mengindikasikan hal sebaliknya. (AP/Reuters/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .