ANGGARAN

Pentagon Cari Tambahan 50 Miliar Dolar AS untuk Dana Serang Iran dan Konflik Lain

Sejak terlibat dalam perang Ukraina lalu serangan Israel ke sejumlah negara di Timur Tengah, cadangan persenjataan AS terkuras.

04 Mar 2026 19:30 WIB · Internasional

U.S. Naval Forces Europe-Africa/

Oleh Kris Mada

WASHINGTON DC, RABU-Departemen Perang Amerika Serikat mengupayakan pencairan dana tambahan 50 miliar dolar AS. Dana itu untuk mengganti cadangan persenjataan yang terpakai dalam serangan ke Iran dan perang lain.

Dana disebut akan diupayakan cair pada Jumat (6/3/2026). Menurut laporan Reuters pada Rabu (4/3/3036), Wakil Menteri Perang AS Steve Feinberg mengurus upaya pencairan itu.

Dana itu terutama akan dipakai memacu produksi aneka lini industri persenjataan AS. Sejak terlibat dalam perang Ukraina, kemudian berlanjut dengan serangan Israel ke sejumlah negara di Timur Tengah, cadangan persenjataan AS terkuras.

Para jenderal dan pejabat pertahanan AS berulang kali menyinggung masalah itu dalam beragam pertemuan. Sementara Presiden AS Donald Trump, di tengah serangan AS ke Iran, menyatakan cadangan persenjataan AS cukup untuk perang amat panjang.

Panglima Angkatan Bersenjata AS Jenderal Dan Caine menampik kemungkinan AS kehabisan rudal pencegat untuk menangkis pembalasan Iran. Sejumlah media AS terus mengangkat topik itu.

Kala menyerang Iran pada 28 Februari 2026, AS menghabiskan 900 rudal di 12 jam pertama saja. Rudal Tomahawk, yang biaya satuannya 1,3 juta dolar AS, dan PrSM, yang harga per unitnya 3,5 juta dolar AS, dipakai dalam serangan itu.

Tangkapan layar dari video yang disiarkan Komando Operasi Tengah (CENTCOM) Amerika Serikat pada Rabu (4/3/2026) menunjukkan peluncur roket gerak cepat (HIMARS) menembakkan rudal PrSM yang disebut dipakai dalam Operation Epic Fury. Operasi itu adalah nama sandi serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026

AS juga menghabiskan banyak rudal Patriot PAC-3 dan AGM-114 Hellfire untuk mencegat perangkat pembalasan lain. Setiap Patriot PAC-3 berharga sampai 5 juta dolar AS. Hellfire lebih murah, rata-rata 150.000 dolar AS per unit.

Pesawat nirawak MQ-9 AS dilaporkan telah menembakkan Hellfire untuk menjatuhkan rudal Iran. Harga rudal Iran antara 1 juta dolar AS sampai 2 juta dolar AS.

Bersamaan dengan waktu pencairan dana tambahan, pemerintah AS dilaporkan akan rapat dengan para petinggi industri pertahanan. Sumber Reuters menyebut, perwakilan Lockheed Martin, Rayteon, hingga Boeing diundang dalam pertemuan itu.

Departemen Perang AS atau Pentagon akan kembali mendesak industri pertahanan memacu kapasitas produksi mereka. Raytheon dilaporkan meneken kesepakatan memacu produksi Tomahawk sampai 1.000 unit per tahun. Pada 2026, Pentagon berencana membeli 57 unit rudal itu.

Januari lalu, Trump meneken Instruksi Presiden AS untuk mendata produsen senjata yang dinilai lamban memenuhi kontrak sembari terus meraup untung. Pentagon berencana menghentikan kontrak produsen yang dinilai lamban.

Tangkapan layar dari video yang disiarkan Komando Operasi Tengah (CENTCOM) Amerika Serikat pada Rabu (4/3/2026) menunjukkan  rudal Tomahawk hitam yang disebut dipakai dalam Operation Epic Fury. Operasi itu adalah nama sandi serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026. Rudal Tomahawk hitam khusus dirancang untuk Angkatan Laut AS.

Daya tahan

Perang di Iran kembali menjadi ajang adu daya tahan para pihak bertikai. "Ini soal siapa punya peluru lebih banyak. Ini seperti dua pemanah saling memanah dan salah satunya akan kehabisan anak panah duluan," kata pensiunan marinir AS yang kini menjadi peneliti Middle East Institute, Scott Benedict.

Pada Juli 2025, setelah AS-Israel menyerang Iran, cadangan rudal Iran ditaksir setidaknya 2.500 unit. Kini, Iran telah menembakkan setidaknya 400 rudal ke berbagai negara di kawasan.

Iran menegaskan, sasarannya adalah Israel dan aneka aset penunjang militer AS di kawasan. "Ada risiko AS dan mitranya kehabisan pencegat sebelum Iran kehabisan rudal," kata peneliti pertahanan di Stimson Center AS, Kelly Grieco.

Peluncuran rudal Iran kali ini jauh lebih jarang dibandingkan Juni 2025. "Apakah mereka menjaga cadangan untuk memperpanjang konflik atau mereka tak mampu lagi kemampuan mengoordinasikan serangan?" kata peneliti pada Foundation for Strategic Research Perancis, Etienne Marcuz.

Dalam pernyataan pada Rabu (4/3), Panglima Komando Operasi Tengah (CENTCOM) AS Laksamana Brad Cooper mengatakan, AS-Israel telah menghancurkan setidaknya 2.000 sasaran di Iran sejak akhir pekan lalu.

Sasaran utamanya adalah lokasi peluncuran, penyimpanan, dan pembuatan rudal. "Kami menembak setiap yang bisa menembak kami," kata dia.

Laksamana Brad Cooper, Panglima Komando Operasi Tengah Amerika Serikat, kala berkunjung ke kapal induk USS Abraham Lincoln, Sabtu (7/2/2026) di Laut Arab

Benedict mengatakan, AS punya cukup arsenal untuk mencapai posisi lebih baik dari Iran. Meski demikian, ia memberi catatan penting: Untuk setiap perangkat serangan, perlu paling tidak dua perangkat pencegat.

Di sini persoalannya. Setiap tahun, kapasitas produksi Patriot PAC-3 hanya 600 unit dan THAAD cuma 96 unit. Sementara menurut taksiran The Economist, dalam tiga hari pembalasan Iran, AS dan sekutunya telah menghabiskan setidaknya 800 Patriot dan THAAD.

Juni 2025, AS menghabiskan 150 rudal THAAD untuk mencegat berbagai rudal dan pesawat nirawak. AS juga menghabiskan lebih banyak rudal Patriot PAC-3 dan aneka rudal udara ke udara dalam pencegatan itu. "Cadangannya akan cepat habis," kata Marcuz.

This image provided by the U.S. Air Force shows the U.S. Army Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) launching station preparing to load onto a 4th Airlift Squadron C-17 Globemaster III at Fort Bliss, Texas, Feb. 23, 2019. (Staff Sgt. Cory D. Payne/U.S. Air Force via AP)

Ia juga menyebut, tidak masuk akal memaksakan menghancurkan sepenuhnya kapasitas produksi rudal Iran. Teheran telah menyebar fasilitas produksinya hingga mampu bertahan bertahun-tahun.

Menggunakan asumsi kebutuhan pencegat seperti disampaikan Benedict, AS dan sekutunya perlu paling sedikit 5.000 rudal untuk menjatuhkan seluruh rudal Iran. Masalahnya, Iran tak cuma meluncurkan rudal.

Iran juga menerbangkan pesawat nirawak yang harga satuannya paling mahal 50.000 dolar AS. Lebih dari 1.000 pesawat nirawak telah diterbangkan Iran ke berbagai negara di Timur Tengah sejak Sabtu lalu.

Kembali memakai taksiran Benedict yang juga dipakai Grieco, AS perlu setidaknya 2.000 rudal pencegat untuk menjatuhkan rudal sebanyak itu.

Bahkan, Benedict dan Grieco sebenarnya menggunakan skenario paling optimistis. Di lapangan, sering kali butuh sampai 10 pencegat untuk menjatuhkan satu rudal dan sampai lima lain untuk setiap pesawat nirawak.

Peneliti pertahanan pada Atlantic Council, Joe Costa, menyebut bahwa serangan berkepanjangan ke Iran akan menyusahkan AS di palagan lain. AS bisa kehabisan peluru kalau harus berhadapan dengan China yang tak pernah berperang dalam 50 tahun terakhir. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim