Washington selama ini mengaku, jumlah tentara AS di Suriah ada 900 orang. Ternyata, jumlahnya 1.100 orang lebih banyak dari laporan resmi selama ini.
20 Des 2024 08:42 WIB · Internasional
WASHINGTON, JUMAT — Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon membuat pengumuman mengejutkan. Mereka mengungkap ada 2.000 tentara AS di Suriah atau 1.100 orang lebih banyak daripada jumlah resmi yang diumumkan selama ini. Pentagon tidak mau menjelaskan alasannya.
Pengumuman itu disampaikan oleh Juru Bicara Pentagon Marsekal Muda Pat Ryder di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/12/2024) waktu setempat atau Jumat (20/12/2024) waktu Indonesia. Selama ini, Pemerintah AS mengatakan, di Suriah hanya ada 900 tentara AS. Tugas mereka adalah melawan jaringan teroris kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
”Sebanyak 2.000 pasukan kami sudah berada di Suriah selama beberapa bulan terakhir,” kata Ryder.
Ia tidak menjelaskan alasan jumlah pasukan sebanyak itu. Ketika ditanya wartawan mengenai keterlibatan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dalam pengiriman pasukan, Ryder mengiyakan. Akan tetapi, ia menolak menjawab pertanyaan apakah Austin memerintahkan fakta ini dirahasiakan oleh semua bawahannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/06/04/SYRIA-RUSSIA-US-CONFLICT_89644160_1591258705_jpg.jpg)
Ryder hanya mengatakan bahwa pertimbangan diplomasi adalah penyebab pengiriman pasukan ini tidak diumumkan. Ia juga tidak mau menjawab waktu pasti pasukan tersebut dikirim ke Suriah. Ia menuturkan, mayoritas tentara berasal dari Angkatan Darat.
”Mereka hanya sementara di Suriah untuk operasi menumpas NIIS,” ujar Ryder.
Kenyataannya, pasukan AS secara umum sudah berada di Suriah selama satu dasawarsa. Mereka dirotasi untuk mengisi kuota 900 orang tersebut yang kini terungkap ternyata ada 2.000 orang.
Menurut Ryder, yang 900 orang dirotasi untuk penugasan jangka panjang di Suriah atau misi tetap AS melawan NIIS. Jumlah 1.100 orang sisanya untuk membantu yang 900 orang apabila diperlukan.
Pada 8 Desember 2024 atau ketika kelompok bersenjata Hayat Tahrir al-Sham (HTS) merebut Damaskus, pasukan AS menyerang 75 target NIIS. Pada Senin (16/12/2024), pasukan AS membunuh 12 milisi NIIS dalam kontak senjata, seperti dilaporkan oleh laman Military.com.
Pengumuman ini keluar menjelang satu bulan pelantikan Presiden terpilih Donald Trump. Ia pernah menjabat sebagai kepala negara AS periode 2017-2021. Pada 2018, Trump membuat pengumuman mengejutkan bahwa ia hendak menarik pasukan AS dari Suriah. Saat itu, langkah tersebut ditentang oleh Presiden Suriah Bashar al-Assad ataupun negara-negara tetangga Suriah karena keberadaan pasukan AS di sana sangat penting untuk menggempur NIIS.
Menurut Trump, hanya buang-buang uang negara menempatkan pasukan AS di luar negeri. Gara-gara pemikiran itu, Trump berseteru dengan Menhan Jim Mattis yang kemudian mengundurkan diri dari kabinet.
Media Al-Monitor melaporkan, status pasukan AS juga terancam karena mediasi antara kelompok oposisi Kurdi dan HTS beserta sekutunya gagal. HTS dan kelompok oposisi bersenjata yang didukung oleh Turki adalah lepasan dari jaringan Al Qaeda. HTS menyatakan berpisah dari Al Qaeda pada 2016.
Meskipun sejak 2016 mereka melabeli diri sebagai gerakan nasionalis, AS masih mengecap mereka sebagai teroris. Cap itu belum dihapus walaupun Washington dan HTS sudah menjalin kontak untuk membangun masyarakat Suriah.
Sebaliknya, kelompok oposisi Kurdi didukung oleh AS, tetapi dicap teroris oleh Turki. Kurdi adalah kelompok etnis yang tersebar, antara lain, di Turki selatan dan Suriah utara. Mereka ingin memerdekakan diri sehingga berseteru dengan Ankara. Di Suriah, kelompok oposisi Kurdi memiliki sayap militer, antara lain, bernama Pasukan Demokratik Suriah (SDF).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/13/a29dcaa3-ede0-451e-8012-15b984071a9c_jpg.jpg)
SDF adalah mitra penting bagi AS untuk melawan NIIS. Salah satu tugas SDF adalah menjaga kamp penahanan yang berisi 9.000 milisi NIIS beserta 50.000 istri dan anak mereka.
SDF dan HTS berseteru soal konsolidasi pemerintahan baru di Suriah. Pemimpin HTS, Ahmed al-Sharaa alias Abu Mohammed al-Golani, menekankan, Suriah harus bersatu. ”Pokoknya, tidak ada yang namanya federalisme di Suriah," katanya ketika memberi pidato kemenangan di Masjid Umayyad, Damaskus.
SDF menginginkan otonomi di Suriah utara dan timur. Perbedaan pandangan ini berujung pada kontak senjata di Manbij, Suriah utara. Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia di Suriah (SOHR) mencatat, ada 218 milisi SDF dan HTS tewas.
Mazloum Abdi, salah satu pemimpin SDF, mengatakan, prioritas kelompok itu sekarang adalah mempertahankan kota Kobani di Suriah utara, sementara proses negosiasi terus berjalan. Ini yang membuat AS kalang kabut karena nanti tidak ada yang menjaga kamp penahanan NIIS. Milisi yang kabur dari kamp tersebut akan membawa masalah baru tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tetapi juga dunia.
Harian Financial Times melaporkan, Wakil Menteri Luar Negeri AS Barbara Leaf akan memimpin delegasi ke Suriah. Mereka berusaha mengupayakan gencatan senjata antara kelompok Kurdi dan HTS bisa berjalan sehingga tercipta zona demiliterisasi.
”Konflik antarfaksi di Suriah ini buruk bagi dunia. Hanya NIIS yang meraup untung jika konflik ini tidak dihentikan,” kata Senator Chris van Hollen, dikutip oleh majalah Politico. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .