Pasar Saham Terjaga Berkat Pemangkasan Suku Bunga BI dan Tarif Trump

Kebijakan perdagangan antara AS dan Indonesia perlu dipantau perkembangannya oleh investor.

16 Jul 2025 19:44 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Pelaku pasar menyambut positif penurunan tarif impor Amerika Serikat atas Indonesia serta penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia pada pertengahan Juli 2025. Meski tidak terlalu mendongkrak masuknya dana investor asing, keputusan tersebut menjaga bursa saham dalam negeri di zona hijau hingga mencapai level 7.000.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (16/6/2025) ditutup di level 7.192, menguat 0,72 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. IHSG juga sempat mencapai level 7.200.

Kenaikan IHSG yang relatif landai pada Rabu itu didukung meningkatnya harga saham sektor teknologi yang naik paling signifikan hingga 6 persen berdasarkan indeks saham sektor tersebut. Satu-satunya indeks saham yang mengalami penurunan harga adalah sektor konsumen siklikal, dengan pergerakan negatif 0,08 persen.

Analis pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, menilai, penguatan IHSG didorong sentimen positif dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS.

Negosiasi final antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden RI Prabowo Subianto itu menghasilkan penurunan tarif resiprokal menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen. Selain itu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Rabu juga memutuskan menurunkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya pada 2025 menjadi 5,25 persen.

Walaupun demikian, dua sentimen penting dari peristiwa eksternal dan internal itu dinilai belum menjadi faktor kuat yang mendorong IHSG. Hal ini terbaca dari masih tingginya aksi jual saham oleh investor asing dalam satu hari perdagangan pada Rabu.

Kondisi ini terjadi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi tinggi, seperti PT Bank Central Asia Tbk, yang dijual asing dengan nilai penjualan bersih Rp 316 miliar. Ada pula saham PT Bank Mandiri Persero Tbk yang dijual asing hingga Rp 797 miliar.

”Ada dugaan bahwa penurunan suku bunga BI sudah sesuai ekspektasi pasar dan sebagian investor sudah mulai mengakumulasi sebelumnya. Akibatnya, kenaikan IHSG hari ini tidak signifikan,” ujarnya kepada Kompas.

Pergerakan saham terpantau dari monitor elektronik di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (18/6/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melorot 48,06 poin menjadi 7.107,79 atau turun 0,67 persen jika dibandingkan dengan harga pada penutupan kemarin.

Kendati demikian, jika tren penguatan ini berlanjut, Reydi meramal IHSG berpotensi ditutup lebih tinggi pada perdagangan Kamis (17/7/2025). IHSG bahkan diprediksi bisa melanjutkan kenaikan di rentang 7.355 hingga 7.454.

Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, dalam laporan pasar secara daring menjelaskan, pergerakan IHSG kembali ke level 7.000 dalam dua pekan terakhir dipengaruhi sejumlah kejadian yang memompa pertumbuhan IHSG.

Kejadian itu antara lain penawaran perdana saham oleh delapan perusahaan di Bursa Efek Indonesia secara berturut-turut pada pekan lalu. Selain itu, perubahan kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI Index), lembaga riset keuangan global, yang akan melonggarkan aturan untuk beberapa saham berkapitalisasi besar asal Indonesia.

Pergerakan Rabu ini ikut ditopang oleh kebijakan baru BI dan kesepakatan tarif resiprokal AS. Terkait keputusan dagang antara AS dan Indonesia, dalam jangka menengah, Aditya menilai, investor masih harus terus memantau perkembangan dan implementasinya pada 1 Agustus 2025.

”Trump dan Pemerintah Indonesia belum mengumumkan kesepakatan perdagangan apa saja yang pasti akan diterapkan. Sejauh ini, menurut data yang dihimpun dari berbagai laman media, Indonesia berkomitmen membeli produk energi, produk pertanian, hingga pesawat dari AS. Ke depan, kita masih perlu menantikan detail kesepakatan ini,” tuturnya.

Penerapan tarif impor ke AS bagaimana pun bisa berdampak negatif pada bisnis di Indonesia. Tarif itu itu dinilai bisa membebani penyerapan produk dalam negeri, ditambah jika ekonomi AS mengalami pelemahan.

”Harga impor ini akan disesuaikan dengan harga jual barang oleh importir di AS sehingga akan memberi efek domino pada produk domestik bruto Indonesia, apalagi jika pelaku usaha tidak bisa mengimbanginya dengan kenaikan volume penjualan dan strategi penyeimbangan lain,” tuturnya.

Oleh karena itu, selain memantau perkembangan tarif Trump dan dampaknya ke Indonesia, Aditya menyarankan investor untuk tetap cermat membaca kinerja perusahaan dari saham yang dibeli. Indikator keuangan, seperti solvabilitas (kemampuan membayar utang) serta profitabilitas (kemampuan menghasilkan keuntungan), perlu menjadi perhatian.

Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di 2025 hingga 16 Juli.

Rupiah melemah

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai, kehati-hatian pelaku pasar dalam memantau perkembangan kebijakan Pemerintah AS juga berpengaruh pada pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Pada Rabu (16/7/2025) ini, pasar rupiah ditutup dengan pelemahan ke posisi Rp 16.287 per dollar AS. Jakarta Interspot Dollar (Jisdor) BI juga mencatat pelemahan kurs rupiah ke level Rp 16.288 dari Rp 16.281 per dollar AS pada perdagangan sehari sebelumnya.

”Dari luar negeri, kekhawatiran pasar terus berlanjut atas tarif perdagangan yang diterapkan Trump,” katanya.

Pasar juga menakar ketidakpastian atas independensi bank sentral AS, The Fed, di tengah dinamika politik serta tekanan dari Trump dan sekutunya untuk menggulingkan Ketua The Fed Jerome Powell.

Di tengah kondisi tersebut, Ibrahim memprediksi, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Kamis masih akan bergerak fluktuatif di rentang Rp 16.230-Rp 16.290 per dollar AS.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra