Penyakit Misterius di Kongo

Sebaiknya kita hindari konsumsi satwa liar, seperti kelelawar. Satwa itu berjasa dalam pelestarian lingkungan, menyebarkan biji-bijian pohon untuk pelestarian hutan.

03 Mar 2025 14:33 WIB · Opini

Oleh Soeharsono

Sejumlah kantor berita mengabarkan terjadinya wabah penyakit misterius di kota Boloko, Provinsi Equateur, Republik Demokratik Kongo, Afrika, mulai 21 Januari 2025. Dalam lima minggu, 50 orang meninggal. Jumlah orang yang tertular mencapai 819 jiwa, kemungkinan terus bertambah.

Lokasi wabah jauh dari ibu kota Kinshasa sehingga pengambilan sampel untuk isolasi dan konfirmasi penyebab penyakit sulit dilakukan. WHO telah menurunkan tim untuk membantu mengungkap misteri penyakit.

Gejala penyakit berupa demam, kedinginan, dan perdarahan organ dalam tubuh pasien. Kematian terjadi 48 jam setelah gejala penyakit muncul. Sampel penyakit telah diuji terhadap ebola, Marburg, dengue, demam kuning, dan hasilnya negatif. Sebagian pasien dinyatakan positif malaria. Beberapa bulan sebelumnya terjadi penyakit misterius di Kongo, kemudian terbukti sebagai malaria parah (Kompas, 2/1/2025).

Penelusuran awal, kematian terjadi pada tiga anak setelah makan kelelawar. Seperti diketahui, kelelawar membawa bermacam-macam virus yang bisa menular ke manusia, seperti, SARS, MERS, dan Covid-19. Nipah di Malaysia, Hendra di Australia, ebola dan Marburg di Afrika. Umumnya virus dari kelelawar melewati hewan perantara (intermediate host) sebelum menular ke manusia. Namun, penyakit Nipah bisa menular ke manusia lewat nira dari tanaman palma, tercemar virus Nipah dari kelelawar.

Mengingat kematian relatif sangat cepat, mungkinkah penyakit Nipah sampai Kongo? Nipah menimbulkan kematian 150 orang dari 265 tertular di Malaysia (1998). Penyakit Nipah ditularkan oleh kelelawar genus Pteropus.

Kelelawar Pteropus tersebar dari Australia, Asia Tenggara, India, sampai Afrika Tengah. Kemungkinan lain adalah virus baru yang belum diketahui dibawa oleh kelelawar.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari wabah penyakit misterius di Kongo?

Menurut saya, sebaiknya kita hindari konsumsi satwa liar, seperti kelelawar, karena satwa itu berjasa dalam pelestarian lingkungan, menyebarkan biji-bijian pohon untuk pelestarian hutan.

Soeharsono, Mantan Penyidik Penyakit Hewan Kuta Selatan, Badung, Bali


Kerabat Kerja

Penulis:

Soeharsono
 | 

Editor:

Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti