Penyakit Mulut dan Kuku Kembali Muncul, 1.250 Ternak di DIY Divaksinasi

Penyakit menular itu dilaporkan telah menjangkiti 545 ekor ternak di empat kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta.

30 Des 2024 20:44 WIB · Kesehatan

Oleh Mohamad Final Daeng

YOGYAKARTA, KOMPAS – Penyakit mulut dan kuku atau PMK kembali ditemukan menyerang ternak sapi di Provinsi DI Yogyakarta. Pemerintah daerah pun melakukan vaksinasi dengan target menjangkau 1.250 ternak sapi hingga akhir tahun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY Syam Arjayanti, saat dikonfirmasi pada Senin (30/12/2024), mengatakan, PMK telah ditemukan di empat dari lima kabupaten/kota di DIY. Keempat daerah itu adalah Kabupaten Sleman, Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo.

Syam menjelaskan, berdasarkan pendataan, total sebanyak 545 ekor sapi terjangkit penyakit tersebut. Dari jumlah itu, sapi yang mati sebanyak delapan ekor, yakni di Sleman dan Gunungkidul. Kasus bermunculan dalam 1-2 minggu terakhir.

Warga memandikan ternak di Telaga Ploso, Desa Giritirto, Purwosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Jumat (16/2/2024). Telaga itu menjadi andalan bagi warga untuk sumber pengairan lahan di sekitar kawasan tersebut.

PMK adalah penyakit yang menyerang ternak berkuku belah seperti sapi, domba, dan kambing. Virus ini tak menular ke manusia, tetapi penyebarannya pada ternak bisa sangat cepat dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar.

Menurut Syam, Kementerian Pertanian (Kementan) sudah mengirimkan 50 botol vaksin dan obat-obatan untuk penanggulangan kasus PMK di DIY. Satu botol vaksin cukup untuk kebutuhan 25 ekor sapi, sehingga total sebanyak 1.250 sapi yang dapat dikebalkan.

Quote

Kondisi itu membuat stamina sapi turun dan memicu masuknya virus penyebab PMK.

Vaksinasi pun telah dimulai sejak Minggu (29/12/2024) di empat kabupaten di DIY yang terdapat kasus PMK. Ditargetkan sampai 31 Desember 2024 nanti semua 50 botol vaksin sudah selesai diberikan ke ternak sapi. “Setelah itu, Kementan juga akan melakukan gerakan vaksinasi massal PMK pada Februari 2025,” kata Syam.

Vaksinasi ditujukan kepada ternak yang sehat, terutama di sekitar lokasi temuan kasus PMK. Proses vaksinasi dilakukan dinas bekerja sama dengan asosiasi peternak, perguruan tinggi, Balai Besar Veteriner Wates, dan pusat kesehatan hewan (puskeswan) di tingkat kecamatan.

Infografik Analisis Filogenetik Virus PMK Indonesia 2022

Adapun untuk ternak yang sudah terjangkit, Syam mengatakan, pihaknya menangani dengan melakukan isolasi untuk mencegah penyebaran virus ke ternak lain. Ternak yang sakit juga diberi vitamin dan pengobatan.

Dia menduga, PMK yang melanda di DIY merupakan penularan dari kasus yang saat ini juga merebak di sejumlah daerah di Jawa Tengah, termasuk yang berbatasan langsung dengan DIY. Lalu lintas ternak antardaerah di kedua provinsi itu cukup tinggi.

Ini ditambah pula dengan cuaca yang masih terus hujan sehingga membuat kebersihan kandang sulit terjaga. “Kondisi itu membuat stamina sapi turun dan memicu masuknya virus penyebab PMK,” kata Syam.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY pun menggencarkan kembali edukasi ke peternak agar bisa menjaga kebersihan kandang. Syam mengatakan, pihaknya juga siap membantu penyemprotan disinfektan di kandang bagi peternak yang membutuhkan.

Pemeriksa kesehatan hewan dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) memeriksa sapi di peternakan milik Pak Jaelani atau Pak Eeng di Jalan Pulokambing II, Kawasan Industri Pulogadung, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (12/5/2022). Pemeriksaan fisik hewan ternak dilakukan untuk pencegahan merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK). Selain pemeriksaan fisik, petugas juga menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh area kandang untuk menjaga kebersihan ternak dan kandang serta membunuh kuman penyakit, termasuk virus PMK. Sebanyak 30 ekor sapi yang rata-rata beratnya 300 kilogram hingga 900 kilogram dipelihara di tempat tersebut. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 12-5-2022

Berita yang dirilis di laman Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan pada 23 Desember 2024 menyebutkan, Kementan bertindak cepat menanggapi laporan peningkatan kasus PMK di Kabupaten Grobogan dan Karanganyar, Jawa Tengah. Tim dari Direktorat Jenderal PKH telah melakukan penyelidikan lapangan untuk memastikan penyebaran penyakit tersebut.

Direktur Jenderal PKH Kementan Agung Suganda menegaskan pentingnya kerja sama dan respons cepat dalam penanganan PMK. “Penanganan PMK harus dilakukan dengan cepat dan terkoordinasi. Selain itu, peternak juga diminta untuk aktif melaporkan kasus yang mencurigakan kepada petugas kesehatan hewan,” ujar Agung di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (23/12/2024), seperti dikutip dari laman Direktorat Jenderal PKH.


Kerabat Kerja

Penulis:

Mohamad Final Daeng
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari