Penyakit Pernapasan Menular yang Perlu Diwaspadai pada 2025

Belajar dari kemunculan tiba-tiba Covid-19, kita harus waspada terhadap penyakit pernapasan menular yang bisa menular sangat cepat, salah satunya, flu burung.

04 Jan 2025 14:47 WIB · Humaniora

Oleh Ahmad Arif

Pandemi Covid-19 yang menyebar cepat dan menewaskan jutaan orang di seluruh dunia menjadi pelajaran pahit tentang bahaya penyakit pernapasan menular. Virus H5N1 atau lebih dikenal sebagai flu burung juga menjadi salah satu yang wajib diwaspadai menjadi wabah pada manusia.

Dengan meredanya Covid-19, tiga penyakit menular yang paling mengkhawatirkan adalah malaria yang disebabkan parasit, HIV yang disebabkan virus, dan tuberkulosis yang disebabkan bakteri. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ketiga penyakit menular itu membunuh sekitar 2 juta orang setiap tahun.

Meski demikian, belajar dari kemunculan tiba-tiba Covid-19, kita juga harus mewaspadai penyakit pernapasan yang memiliki kecenderungan menular sangat cepat, itu termasuk virus influenza. Salah satu subtipe virus influenza yang bisa jadi masalah serius pada tahun 2025 adalah H5N1 yang terkadang disebut sebagai ”flu burung”.

Sejak 1996, virus influenza H5N1 telah beredar di sedikitnya 23 negara. Pada akhir 2021, H5N1 menyebar dari Eropa ke Amerika Utara, menyebabkan infeksi sporadis di antara burung liar dan peternakan unggas. Pada 2022, virus tersebut menyebar ke Amerika Selatan, tempat virus tersebut menghancurkan burung dan mamalia laut. Pada Maret 2024, H5N1 ditemukan menulari sapi perah AS, dan kini telah menyebar ke kawanan ternak di 16 negara bagian.

Snow geese take off from a field in Ruthsburg, Maryland, on January 25, 2023. - A new strain of highly pathogenic avian influenza – commonly called bird flu – has killed around 1,600 snow geese in two separate areas of Colorado since November, according to state wildlife officials. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Sepanjang 2024, selain menginfeksi sapi perah di beberapa negara bagian AS, virus ini juga ditemukan pada kuda-kuda di Mongolia. Belakangan, kasus infeksi flu burung meningkat pada kucing di AS. Seekor kucing di Oregon dilaporkan mati setelah mengonsumsi makanan hewan peliharaan mentah yang dipastikan terkontaminasi H5N1. Peristiwa ini mendorong penarikan kembali makanan hewan peliharaan mentah dan beku dari Northwest Naturals’ Feline Turkey Recipe.

”Kucing ini benar-benar kucing dalam ruangan, ia tidak terpapar virus di lingkungannya,” kata dokter hewan negara bagian Ryan Scholz dalam sebuah pernyataan, yang dikutip AFP. Pengurutan genom menunjukkan bahwa virus dalam makanan hewan peliharaan sama persis dengan jenis yang ditemukan pada kucing.

Di Negara Bagian Washington, dua puluh kucing besar di tempat perlindungan juga mati baru-baru ini setelah tertular flu burung, tulis Wild Felid Advocacy Center of Washington. Para ahli memperingatkan bahwa kucing luar ruangan, yang kemungkinan memakan burung mati yang telah terinfeksi flu burung, dapat kembali ke rumah dan menularkan virus kepada orang-orang melalui kontak dekat.

Quote

H5N1 menyebar dari Eropa ke Amerika Utara, menyebabkan infeksi sporadis di antara burung liar dan peternakan unggas.

Ketika virus yang semula menyerang unggas mulai menulari binatang ternak atau peliharaan, selalu ada kekhawatiran bahwa virus ini pada akhirnya bakal menyerang manusia. Catatan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS menunjukkan, sepanjang 2024, flu burung telah menginfeksi 66 orang di AS. Mayoritas yang terinfeksi adalah pekerja peternakan yang bersentuhan dengan sapi yang terinfeksi dan orang-orang yang minum susu mentah.

Angka ini memang masih kecil. Namun, dibandingkan dengan dua kasus di Amerika dalam dua tahun sebelumnya, ini merupakan peningkatan yang cukup besar. Ditambah dengan tingkat kematian 30 persen akibat infeksi pada manusia, flu burung dengan cepat menjadi prioritas pejabat kesehatan masyarakat.

Hingga saat ini, flu burung H5N1 juga belum ditemukan menular dari orang ke orang. Meski demikian, sirkulasi virus yang semakin tinggi dari binatang lain ke manusia dikhawatirkan memicu mutasi baru virus yang lebih adaptif terhadap saluran pernapasan manusia.

Mutasi baru

Perkembangan H5N1 dinilai memasuki babak baru dengan adanya kasus penularan pada remaja berusia 13 tahun di Kanada. Pemuda ini dirawat di rumah sakit pada bulan November, menderita asma dan obesitas. Sebelumnya, ia dalam kondisi baik. Ia menjadi sakit kritis dengan kegagalan multiorgan dan memerlukan bantuan hidup lanjutan, termasuk oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO) dan dialisis berkelanjutan.

Remaja tersebut pulih setelah perawatan agresif dengan tiga obat antivirus, tetapi sumber infeksinya masih belum diketahui. Ini memicu tanda tanya, bagaimana mekanisme penularannya.

Kasus remaja ini, yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada 31 Desember 2024, menyoroti kemungkinan bahaya varian H5N1 yang lebih baru seperti D1.1, yang telah menunjukkan perubahan genetik.

Jumlah Kasus Infeksi Virus Influenza A(H5N1) pada manusia menurut tanggal timbulnya penyakit dan jumlah deteksi virus A(H5N1) pada sapi perah dan unggas.

Para ahli, termasuk Jennifer Nuzzo dari Pusat Pandemi di Universitas Brown, yang menulis laporan ini, telah membunyikan alarm tentang temuan ini. Mereka menekankan peningkatan risiko penularan dari manusia ke manusia. ”Ini adalah hasil yang sangat mengkhawatirkan yang seharusnya lebih kita khawatirkan,” kata Nuzzo.

Menurut data CDC, sebanyak 46 infeksi H5N1 manusia pertama yang dikonfirmasi di AS tahun ini telah dianalisis. Sebagian besar kasus bersifat ringan, terkait dengan paparan hewan yang terinfeksi atau susu mentah, dengan gejala seperti konjungtivitis dan demam yang berlangsung sekitar empat hari. Namun, kasus yang parah, seperti yang dialami remaja di Kanada dan yang baru-baru ini terjadi di Louisiana, telah menimbulkan kekhawatiran.

Kunci pengendalian wabah

Virus flu burung H5N1 yang sangat patogen hingga saat ini tetap berisiko rendah bagi masyarakat umum. Para ahli kesehatan masyarakat di AS juga meyakini bahwa perawatan dan vaksin yang tersedia, serta yang sedang dikembangkan, sudah cukup untuk mencegah penyakit parah.

Namun, National Institutes of Health (NIH) AS tetap fokus memantau mutasi virus ini. Dalam sebuah komentar yang diterbitkan di New England Journal of Medicine, Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), bagian dari NIH, Jeanne M Marrazzo dan Michael G Ison, ahli penyakit pernapasan NIAID, mengatakan, orang-orang harus menemukan keseimbangan antara kewaspadaan yang ditingkatkan dan ”kegiatan seperti biasa”.

Meskipun tidak banyak kasus pada manusia, para ahli mengatakan deteksi H5N1 yang terus-menerus pada manusia dan hewan sangat meresahkan. ”Virus ini tidak pernah berhenti,” kata Marrazzo dan Ison menyimpulkan.

Burung asal Afrika Selatan dan Malaysia diekspor ulang dari kargo pesawat di Bandara Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Selasa (15/3/2022). Impor 1.102 burung ditolak Balai Karantina Medan dan diekspor ulang ke negara asal karena Afrika Selatan dilanda wabah flu burung ganas.

Dengan latar belakang ini, Marrazzo dan Ison mengatakan, ada empat kunci untuk mengendalikan wabah saat ini. Yang terpenting, kolaborasi tepat waktu dan efektif antara para penyelidik kedokteran manusia dan hewan, kesehatan masyarakat, perawatan kesehatan, dan pekerja di pekerja peternakan sapi perah dan unggas.

Menurut Marrazzo dan Ison, dengan pengawasan yang efektif, data sequencing genomik lengkap dari hewan dan manusia seharusnya tersedia dengan cepat dan mudah. Data ini dapat memberikan gambaran bagaimana virus menyebar. Data ini juga akan memberikan peluang untuk deteksi dini mutasi.

Berikutnya, para peneliti harus terus mengembangkan dan menguji tindakan pencegahan medis—seperti vaksin dan terapi yang menghilangkan atau meringankan penyakit—terhadap H5N1 dan virus influenza lainnya. Saat ini, kandidat vaksin yang ada dinilai bisa menetralkan galur yang beredar, yang sejauh ini rentan terhadap antivirus yang dapat mengurangi penularan dan tingkat keparahan penyakit.

Terakhir, Marrazzo dan Ison mendorong orang untuk melakukan tindakan pencegahan paparan virus dan meminimalkan risiko infeksi. Misalnya, mereka yang bekerja dengan unggas dan sapi harus menggunakan alat pelindung diri dan mendidik diri mereka sendiri tentang risiko pekerjaan saat bekerja dengan burung dan mamalia.

Hingga kini, AS menjadi garis depan penularan flu burung, terutama pada sapi perah dan manusia. Jika hal ini terjadi di negara yang lebih tidak siap, termasuk di Indonesia, hal ini berisiko menjadi wabah yang lebih sulit terkendali.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji