Gencatan senjata Hamas-Israel yang dinanti banyak pihak ditunda. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengancam akan melanjutkan perang.
19 Jan 2025 15:34 WIB · Internasional
KOTA GAZA, MINGGU — Gencatan senjata yang sudah di depan mata belum terwujud setelah Israel, Minggu (19/1/2025), mengumumkan penundaan pelaksanaannya. Israel menyebut keputusan penundaan ini karena Hamas gagal memberi tiga nama sandera yang seharusnya dibebaskan secara tepat waktu.
Keputusan penundaan itu diumumkan juru bicara Angkatan Bersenjata Israel (IDF) Laksamana Muda Daniel Hagari pukul 08.30 waktu setempat, Minggu (19/1/2025). Kantor berita Palestina, WAFA, mengonfirmasi penundaan tersebut.
Berdasarkan kesepakatan dalam perundingan Hamas dan Israel, yang dimediasi Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat, gencatan senjata di Gaza dijadwalkan berlaku efektif hari Minggu (19/1/2025) pukul 08.30 waktu setempat atau 13.30 WIB.
Seperti dilaporkan media Israel, The Jerusalem Post, penundaan itu terjadi karena Hamas belum menyerahkan tiga nama sandera yang akan dibebaskan pada hari ini. Dalam laporan media itu disebutkan Hamas seharusnya sudah memberikan daftar sandera 24 jam sebelum pembebasan mereka. Hingga pukul 08.30 waktu setempat, tidak jelas siapa sandera yang akan dibebaskan.
Hamas melalui pernyataan tertulis mengatakan, tertundanya penyerahan nama sandera yang akan dibebaskan terkait masalah teknis di lapangan. ”Bisa sewaktu-waktu, nama-nama tiga sandera… akan diserahkan, tetapi kompleksitas situasi di lapangan dan pengeboman terus-menerus telah menunda (penyerahan nama-nama) itu,” demikian pernyataan Hamas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/4af664935ec36d3ec57d451b912015d6-000_36UL998.jpg)
WAFA menyebut Pemerintah Israel tidak akan melaksanakan gencatan senjata hingga daftar tahanan yang akan dibebaskan diberikan oleh Hamas.
Gencatan senjata antara Hamas dan Israel seharusnya dimulai pukul 08.30 pagi waktu setempat atau pukul 13.30 waktu Indonesia. Secara simbolis, tiga sandera warga Israel akan dibebaskan dari tahanan dengan imbalan pembebasan kelompok pertama para tahanan Palestina dari penjara-penjara.
Gencatan senjata tersebut dibayangi ancaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. ”Kami memiliki hak untuk melanjutkan perang jika perlu, dengan dukungan Amerika Serikat,” katanya,dalam pidato yang disiarkan televisi Israel sehari sebelumnya.
”Jika kami dipaksa untuk melanjutkan perang, kami akan melakukannya dengan keras,” kata Netanyahu.
Gencatan senjata berlangsung setelah kabinet Israel menyetujui kesepakatan yang telah diumumkan Rabu (15/1/2025) lalu. Kesepakatan itu terjadi setelah pemerintahan sayap kanan Israel bertemu lebih dari enam jam hingga Sabtu dinihari.
Jeda pertempuran selama 42 hari ke depan merupakan langkah pertama yang diharapkan akan mengakhiri perang Hamas-Israel untuk jangka panjang. Setelah itu, kabinet Israel akan memutuskan bagaimana kelanjutan kesepakatan tersebut. Dalam pandangan Israel, jeda pertempuran itu hanya bersifat sementara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/534e8691c10e01ac3ced9d7f7e2e5d81-Israel_Palestinians_126854623.jpg)
Setelah mengumumkan penundaan gencatan senjata, Israel langsung menggempur Jalur Gaza utara dengan jet-jet tempur dan serangan artileri. Petugas medis Palestina menyebutkan, delapan orang tewas dalam gempuran itu.
Militer Israel mengonfirmasi tidak lama setelah pukul 08.30 waktu setempat bahwa mereka melanjutkan gempuran ke wilayah Gaza atas perintah Netanyahu. Tayangan langsung gambar AFPTV di Gaza utara memperlihatkan kepulan asap tebal menyusul serangan Israel, sekitar 30 menit selepas batas awal gencatan senjata terlewati.
Jubir pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengatakan, tiga orang tewas di Gaza utara, sementara lima orang lainnya tewas di Kota Gaza. Sedikitnya 25 orang lainnya luka-luka.
Sejak diumumkannya gencatan senjata, warga Gaza sudah bersiap untuk pulang ke rumah mereka yang ditinggal sebelum perang dimulai, awal Oktober 2024. Mereka tidak tahu akan tinggal di mana setelah tiba di lokasi kediamannya nanti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/93f91ca3e27b3a43378a220b0f5b736d-000_36UN3JE.jpg)
”Saya akan mencium tanah saya,” kata Nasr al-Gharabli, salah satu warga Gaza. ”Jika saya mati di tanah saya, itu akan lebih baik daripada berada di sini sebagai pengungsi.”
Seorang warga Gaza lainnya, Mohamed Mahdi, mengatakan, yang akan dilakukan pertama kalinya saat gencatan senjata efektif dimulai adalah memeriksa rumah dan lingkungan tempat tinggalnya di wilayah Zaytoun, Kota Gaza. Dia juga berharap bisa bertemu sanak saudaranya.
Berbeda dengan Gharabli dan Mahdi, Majida Abu Jarad mengatakan, dia tetap tinggal di tenda pengungsiannya. Ia menuturkan, berkat gencatan senjata, ketakutannya akan berkurang. Setidaknya untuk sementara waktu.
”Kami akan tetap berada di dalam tenda. Akan tetapi, bedanya pendarahan akan berhenti, ketakutan akan berhenti, dan kami akan tidur dengan tenang,” kata Abu Jarad.
Kegembiraan yang sama juga dikatakan salah satu penduduk Jerusalem. Mereka sudah menantikan jeda pertempuran itu sejak lama. ”Mungkin ini awal dari berakhirnya penderitaan bagi kedua belah pihak, semoga saja,” katanya.
Berdasarkan kesepakatan, pada tahap pertama ini, sebanyak 33 sandera di Gaza akan dibebaskan dan ditukar dengan 737 tahanan Palestina yang ditahan Israel di Tepi Barat atau Gaza.
Pertukaran baru akan berlangsung pada pukul 16.00 waktu setempat atau sekitar pukul 21.00 waktu Indonesia. Pertukaran akan dimulai dengan tiga sandera perempuan yang masih hidup akan dikembalikan pada hari pertama, empat pada hari ketujuh, dan sisanya 26 sandera dibebaskan dalam rentang lima minggu berikutnya.
Semua tahanan Palestina akan dibebaskan oleh Israel setelah para sandera tiba diterima Israel dengan selamat. Sebanyak 1.167 warga Gaza yang tidak terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 juga akan dibebaskan. Warga Palestina yang dihukum karena serangan mematikan akan diasingkan ke Gaza atau ke luar negeri, serta dilarang kembali ke Israel atau Tepi Barat.
Para sandera yang tersisa di Gaza, termasuk tentara pria, akan dibebaskan pada fase kedua yang masih akan dinegosiasikan dalam fase pertama ini. Hamas mengatakan tidak akan membebaskan tawanan yang tersisa tanpa gencatan senjata yang langgeng dan penarikan penuh Israel.
Kementerian Luar Negeri Mesir mengatakan, penyeberangan Rafah, pintu gerbang utama Gaza ke dunia luar, akan segera mulai beroperasi. Sebanyak 600 truk bantuan, termasuk 50 truk bahan bakar, akan memasuki Gaza setiap hari selama gencatan senjata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/196bd96b1e00b4b0d074fb2bf515035a-TOPSHOT_EGYPT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_126831043.jpg)
Selain pembebasan tahanan, di tahap ini pasukan Israel akan mundur ke zona penyangga selebar sekitar 1 kilometer di Gaza di sepanjang perbatasannya dengan Israel. Dalam sebuah unggahan di X, Kementerian Luar Negeri Qatar menyarankan agar warga Palestina dan pihak lain tetap berhati-hati saat gencatan senjata mulai berlaku dan menunggu arahan dari otoritas berwenang.
Militer Israel mengatakan, warga Palestina tidak akan dapat melintasi koridor Netzarim yang membentang di Gaza tengah selama tujuh hari pertama gencatan senjata. Mereka juga memperingatkan warga Palestina untuk tidak mendekati pasukan Israel.
Pengalaman gagalnya gencatan senjata antara Hamas dan Israel tak terlepas dari rekam jejak sebelumnya ketika salah satu pihak tak mau mematuhi kesepakatan yang telah dibuat, terutama pemerintahan sayap kanan Israel. Hal ini membuat banyak pihak harap-harap cemas, apakah gencatan senjata ini akan berlangsung lama atau sebaliknya terhenti dalam waktu sekejap dan kembali menewaskan banyak nyawa rakyat Palestina.
Di London, Inggris, puluhan ribu warga pro-Palestina, Sabtu (18/1/2025), menggelar unjuk rasa di pusat kota. Mereka mencoba bersikap optimistis meski masih ada sejumlah keraguan.
”Kami sangat ingin bersikap optimistis tentang gencatan senjata,” kata Sophie Mason, pengunjuk rasa.
Puluhan ribu warga Inggris turun ke jalan memberikan dukungan terhentinya pembumihangusan Gaza oleh Israel. Dalam pawai tersebut, peserta membawa sejumlah spanduk atau kertas karton yang bertuliskan slogan-slogan, seperti ”Hentikan mempersenjatai Israel” atau ”Gaza, hentikan pembantaian”. Peserta aksi juga bernyanyi, menyuarakan harapan atas pembebasan Palestina.
Ada sebagian pendukung Israel yang juga turun ke jalan di saat yang sama, tetapi jumlahnya diperkirakan hanya ratusan orang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/22d635eac1252033b2ae29d61512db5b-000_36UL9P8.jpg)
”Tentu saja, kami senang ada gencatan senjata,” kata Linda Plant, pensiunan dari London yang ikut serta dalam aksi pro-Palestina tersebut. Akan tetapi, dia mengkhawatirkan rapuhnya gencatan senjata, terutama setelah pengumuman Rabu (15/1/2025) lalu, militer Israel terus melancarkan serangan ke Gaza.
Angka korban akibat serangan itu mendekati 100 orang di hari itu. Hingga Sabtu, serangan masih terus terjadi dan jumlah korban tewas telah mendekati angka 125 orang. ”Gencatan senjata macam apa ini yang membunuh kita beberapa jam sebelum dimulai?” tanya Abdallah Al-Aqad, warga Gaza.
Ben, peserta lainnya, mengatakan, aksi itu untuk memberi tekanan agar gencatan senjata benar-benar terjadi dan mereka mengawasinya meski dari jauh.
Sedangkan bagi Anisah Qausher, seorang mahasiswa, gencatan senjata terlambat. Walau demikian, dia berharap gencatan senjata itu akan membawa kelegaan dan masih banyak hal yang perlu dilakukan terhadap Gaza, terutama rekonstruksi pascaperang.
Sementara di Paris, Perancis, warga yang mendukung pembebasan sandera berkumpul tidak jauh dari Menara Eiffel. Seperti di London, mereka juga harap-harap cemas soal pelaksanaan gencatan senjata.
”Ini campuran antara harapan dan ketakutan,” kata Jean-David Ichay, Presiden asosiasi Tous 7 Octobre. Dia berhadap pemulangan sandera pada gencatan senjata tahap pertama ini berlangsung lancar dan berlanjut pada pembebasan sandera berikutnya.
”Hanya 33 sandera yang telah diumumkan (disepakati untuk dibebaskan) sejauh ini. Sisanya akan terjadi nanti atau tidak sama sekali,” katanya. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Muhammad Samsul Hadi