Kisah para penyintas bom atom di Jepang saat Perang Dunia II.
06 Agt 2025 09:05 WIB · Internasional
Pada usia yang tidak lagi muda, Kunihiko Iida (83) mengabdikan hidupnya dengan menjadi pemandu sukarela di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima, Jepang. Untuk sampai pada tahap ini bukanlah hal yang mudah baginya. Setidaknya, Lida butuh waktu 60 tahun untuk melakukan pekerjaan ini. Bagi dia, sangatlah berat untuk menceritakan cobaan yang dialaminya kepada orang lain.
Saat itu, ketika bom atom jatuh di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, Iida baru berusia 3 tahun. Ia masih sangat ingat betapa dahsyatnya ledakan itu. Rasanya seperti terlempar keluar dari gedung. Ia mendapati dirinya sendirian di bawah reruntuhan, berlumuran darah dari pecahan kaca di sekujur tubuhnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/05/4fcbbdeb-fb2b-4a2f-828c-1238309c049a_jpg.jpg)
”Bu, tolong!” ia mencoba berteriak, tetapi suaranya tak keluar. Akhirnya ia diselamatkan oleh kakeknya.
Dalam rentang waktu sebulan setelah kejadian, ibunya yang berusia 25 tahun dan adik perempuannya yang berusia 4 tahun meninggal setelah mengalami mimisan, masalah kulit, dan kelelahan. Lida juga mengalami efek radiasi serupa saat masih di sekolah dasar, meskipun kesehatannya berangsur-angsur pulih.
Pada usia 60 tahun, Iida memutuskan mengunjungi taman perdamaian di pusat ledakan. Untuk pertama kalinya, Iida berada di tempat tersebut sejak pengeboman. Saat itulah dia memutuskan untuk mulai menceritakan kisahnya. Ternyata, hal itu tidaklah mudah. Lida dipenuhi dengan emosi. Ia membutuhkan beberapa tahun sebelum akhirnya mampu berbicara di depan umum.
Pada bulan Juni, Iida bertemu dengan para mahasiswa di Paris, London, dan Warsawa, dalam program perdamaian yang digagas pemerintah. Meskipun ia khawatir tentang bagaimana seruannya untuk penghapusan senjata nuklir akan dipersepsikan di negara-negara bersenjata nuklir seperti Inggris dan Perancis, ia tetap menerima tepuk tangan dan jabat tangan.
Ia mencoba membuat siswa membayangkan akibat serangan nuklir, bagaimana serangan itu akan menghancurkan kedua belah pihak dan meninggalkan kontaminasi radioaktif tinggi. ”Satu-satunya jalan menuju perdamaian adalah penghapusan senjata nuklir. Tidak ada jalan lain,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/05/693fff00-5fc5-42a4-aeaa-b7070c3c5515_jpg.jpg)
Delapan puluh tahun setelah pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki, banyak warga Jepang yang selamat semakin frustrasi dengan meningkatnya ancaman nuklir dan diterimanya senjata nuklir oleh para pemimpin global. Serangan AS di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, dan tiga hari kemudian di Nagasaki, menewaskan lebih dari 214.000 orang pada akhir tahun itu. Yang lainnya mungkin selamat tetapi menderita penyakit radiasi.
Sekitar 100.000 penyintas masih hidup. Banyak yang menyembunyikan pengalaman mereka untuk melindungi diri dan keluarga dari diskriminasi yang masih ada. Yang lainnya tidak dapat menceritakan apa yang terjadi karena trauma yang mereka alami.
Beberapa penyintas yang lanjut usia mulai bersuara di usia senja mereka, dengan harapan dapat mendorong orang lain untuk terlibat gerakan diakhirinya senjata nuklir.
Penyintas lain, Fumiko Doi, 86 tahun,mungkin tidak akan selamat dari bom atom di Nagasaki jika kereta yang ditumpanginya tiba tepat waktu. Kereta tersebut dijadwalkan tiba di Stasiun Urakami sekitar pukul 11.00, tepat ketika bom dijatuhkan di atas katedral di dekat stasiun.
Karena keterlambatan itu, saat ledakan terjadi, kereta berjarak 5 kilometer dari stasiun. Melalui jendela, Doi, yang saat itu berusia 6 tahun, melihat kilatan cahaya. Ia menutup mata dan membungkuk saat pecahan-pecahan jendela berjatuhan. Para penumpang di dekatnya melindunginya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/05/a151afcc-5dac-46be-b2ab-dbcb0ac0f116_jpg.jpg)
Ia lantas melihat situasi yang mengerikan. Orang-orang di jalan rambutnya terbakar. Wajah mereka hitam legam dan pakaian mereka hancur compang-camping. Doi menceritakan pengalamannya kepada anak-anaknya secara tertulis. Ia juga lama menyembunyikan statusnya sebagai penyintas karena takut akan diskriminasi.
Doi akhirnya menikah dengan penyintas lain. Ia khawatir keempat anak mereka akan menderita efek radiasi. Ibunya dan dua dari tiga saudara laki-lakinya meninggal karena kanker, sementara dua saudara perempuannya berjuang melawan kesehatan mereka.
Ayahnya, seorang pejabat setempat, dimobilisasi untuk mengumpulkan jenazah dan segera menunjukkan gejala radiasi. Ia kemudian menjadi guru dan menggambarkan apa yang telah dilihatnya, kesedihan dan rasa sakitnya, dalam puisi, jelas Doi sambil berlinang air mata.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/05/32d61bfe-caaa-4687-90b5-52e7e519bb2f_jpg.jpg)
Doi mulai angkat bicara setelah melihat bencana nuklir Fukushima Daiichi 2011, akibat gempa bumi dan tsunami yang kuat, yang menyebabkan kontaminasi radioaktif. Dia melakukan perjalanan dari rumahnya di Fukuoka untuk bergabung dalam unjuk rasa antiperang, dan berbicara menentang senjata atom.
”Itu menyedihkan,” ujarnya, membuka pidatonya. Seraya menambahkan bahwa beberapa negara masih memiliki dan mengembangkan senjata nuklir yang lebih kuat daripada yang digunakan 80 tahun lalu.
Menurut dia, jika satu negara saja menyerang dengan bom nuklir, Jepang akan hancur. Jika lebih banyak lagi yang digunakan di seluruh dunia, itu artinya kiamat ujarnya lirih.
”Itulah sebabnya saya memanfaatkan setiap kesempatan untuk bersuara.”
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/05/bf549002-6be6-40e9-b3f5-916dd900e7b5_jpg.jpg)
Setelah pertemuan para pemimpin dunia G7 Hiroshima pada 2023 dan Penghargaan Nobel Perdamaian yang diberikan kepada kelompok penyintas akar rumput Nihon Hidankyo tahun lalu, pengunjung museum perdamaian Hiroshima dan Nagasaki melonjak. Sekitar sepertiganya berasal dari luar negeri.
Samantha Anne, seorang warga Amerika, mengatakan, ia ingin anak-anaknya memahami pengeboman tersebut. ”Ini adalah pengingat betapa besarnya kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh satu keputusan,” kata Anne.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/05/fbb8c6ce-145d-403a-91a5-3cc6ada5b770_jpg.jpg)
Katsumi Takahashi, seorang sukarelawan berusia 74 tahun yang mengkhususkan diri dalam tur berpemandu di daerah tersebut, dengan senang menyambut pengunjung asing. Akan tetapi, ia juga khawatir tentang pemuda Jepang yang mengabaikan sejarah mereka sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Iida, sang penyintas sekaligus pemandu, mampir di sebuah monumen yang didedikasikan untuk anak-anak yang gugur. Jutaan burung bangau kertas warna-warni, yang dikenal sebagai simbol perdamaian, tergantung di dekatnya. Burung kertas itu dikirim dari seluruh dunia. Bagi Melanie Gringoire, seorang pengunjung asal Perancis, pertemuan singkat dengan seorang penyintas membuat tragedi itu terasa lebih nyata.
”Rasanya seperti berbagi sepotong kecil sejarah.” (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase