Perancis Akui Negara Palestina

Presiden Prabowo Subianto menyatakan, tidak akan ada perdamaian yang terjadi apabila tidak ada Solusi Dua Negara.

23 Sep 2025 04:36 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar dari New York, Amerika Serikat

NEW YORK, KOMPAS — Menyusul langkah sejumlah negara Eropa dan Kanada, Pemerintah Perancis, Senin (22/9/2025) waktu New York atau Selasa (23/9/2025) waktu Jakarta, mengakui negara Palestina. Pengakuan itu disampaikan Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam konferensi tingkat tinggi khusus membahas isu Palestina di aula Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

KTT khusus itu diprakarsai oleh Presiden Macron dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman.

Pengakuan Perancis mendapat sambutan meriah dari 140 lebih pemimpin negara yang hadir. Delegasi Palestina, termasuk Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, terlihat berdiri dan bertepuk tangan saat deklarasi tersebut dibuat. Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang hadir melalui tayangan video juga tampak bertepuk tangan.

”Sesuai dengan komitmen bersejarah negara saya untuk Timur Tengah, untuk perdamaian antara Israel dan Palestina, inilah mengapa saya menyatakan bahwa hari ini, Perancis mengakui negara Palestina,” kata Macron.

Palestinian President Mahmoud Abbas appears on a screen as he speaks virtually during a high-profile meeting at the United Nations aimed at galvanizing support for a two-state solution to the Israeli-Palestinian conflict Monday, Sept. 22, 2025, at UN headquarters (AP Photo/Yuki Iwamura)

Menanggapi pengakuan itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa pengakuan bahwa Palestina adalah negara berdaulat adalah hak negeri itu, bukan hadiah. Pernyataan tersebut seolah menjadi tanggapan balik bagi Pemerintah Israel dan Amerika Serikat yang menyebut pengakuan negara-negara atas Palestina adalah hadiah, khususnya bagi Hamas.

Sebelum Perancis mengakui negara Palestina, pada Minggu, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal mengakui negara Palestina. Dengan pengakuan dari negara-negara itu, sekitar tiga perempat dari 193 negara anggota PBB mengakui Palestina.

Dalam forum yang digelar di New York itu, negara-negara tersebut pun mendesak agar Solusi Dua Negara segera ditetapkan. Presiden Prabowo Subianto yang hadir dan menyampaikan pidato dalam forum itu juga menegaskan pentingnya Solusi Dua Negara untuk Israel dan Palestina.

”Tidak akan ada perdamaian yang terjadi apabila tidak ada Solusi Dua Negara. Justru dengan Solusi Dua Negara itu, dunia dapat menjaga harkat dan martabat bangsa Palestina maupun Israel sehingga rakyat kedua negara dapat hidup dalam damai,” kata Prabowo.

Indonesian President Prabowo Subianto speaks during a United Nations Summit on Palestinians at UN headquarters during the United Nations General Assembly (UNGA) in New York on September 22, 2025. France and other countries prepared to recognize a Palestinian state as the UN's centerpiece diplomatic week got underway Monday, following a rash of Western governments in symbolically endorsing statehood and sparking Israel's wrath. (Photo by ANGELA WEISS / AFP)

Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez dengan tegas menyerukan agar negara Palestina diterima menjadi anggota PBB. ”Konferensi ini menandai sebuah tonggak bersejarah, tetapi ini bukanlah akhir dari perjalanan. Ini hanyalah permulaan,” kata Sanchez. ”Negara Palestina harus menjadi anggota.”

Sikap Israel dan AS

Pembentukan negara Palestina dengan wilayah sesuai peta tahun 1967 secara luas dipandang secara internasional sebagai satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik. Namun, sejauh ini, Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menentang terbentuknya negara Palestina.

Netanyahu mengatakan, ia akan memutuskan tanggapan Israel terhadap desakan pembentukan negara Palestina setelah bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih minggu depan. Setali tiga uang, Trump juga menentang pengakuan terhadap Palestina.

AS dan Israel memboikot forum yang diinisasi oleh Perancis dan Arab Saudi tersebut. Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan, Israel akan membahas tindakan yang akan diambil sebagai tanggapan atas pengumuman pengakuan tersebut setelah Netanyahu kembali ke Israel minggu depan.

”Isu-isu tersebut seharusnya dinegosiasikan antara Israel dan Palestina,” ujarnya kepada wartawan menjelang pertemuan tersebut.

Seiring itu, konflik di Gaza terus berlanjut. Meskipun dunia terus memberi tekanan, Israel tetap menggelar serangan-serangan baru dan intensif ke wilayah Gaza. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar dari New York, Amerika Serikat
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan