Menteri Pertahanan AS Pete Heghseth dicecar Senator dalam rapat dengar pendapat selama tiga jam. Hegseth dinilai gagal dalam perang di Iran.
22 Jul 2026 12:01 WIB · Internasional
KOMPAS/HARRY SUSILO
WASHINGTON DC, RABU — Perang Amerika Serikat di Iran sudah menguras biaya 37,5 miliar dolar AS atau setara Rp 672 triliun. Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam dengar pendapat dengan legislatif AS di Washington DC, Selasa (21/7/2026) waktu setempat atau Rabu waktu Indonesia.
Hegseth dicecar para Senator AS atas besarnya biaya perang AS di Iran. Besaran angka itu hampir 20 persen APBN Indonesia tahun 2026 yang mencapai 220 miliar dolar AS.
Hegseth menghadap Senat bersama Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine. Mereka mendapat sorotan dari legislatif AS sejak awal agresi AS pada 28 Februari 2026. Ketika itu, pada enam hari pertama serbuan AS ke Iran, sudah dihabiskan dana 11,3 miliar dolar AS.
AS sudah kehilangan 17 nyawa prajurit akibat perang di Iran. Setidaknya 430 orang terluka. Sementara ribuan prajurit dan rakyat Iran tewas akibat agresi gabungan AS-Israel. Ini termasuk lebih dari 160 anak sekolah dasar perempuan di Minab yang tewas karena sekolah mereka dihantam rudal AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/22/577e603eafb8cdf41d82b861ab07ddb0-Defense_Secretary_Hegseth_Testifies_Before_Senate_Appropriations_Committee_1_.jpg)
Kubu Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump menyiapkan paket biaya militer sebesar 95 miliar dolar AS bersama sejumlah paket lain untuk program Trump. Hegseth mendesak diberikan dana tambahan yang sangat diperlukan karena dana yang disediakan tahun lalu akan habis pada akhir September 2026.
Itu bagian dari pendanaan pertahanan 1,5 triliun dolar AS yang diajukan Trump dalam bidang militer. ”Tanpa penambahan dana, militer kita akan mengalami berbagai kemunduran,” kata Hegseth.
Akan tetapi, Senator Patty Murray, anggota senior panel militer Senat, memperingatkan adanya upaya membuat perang ”abadi” yang hanya menguntungkan industri senjata. ”Perang di Iran kembali pecah dan tidak terkendali saat ini,” katanya.
Trump, lanjut Murray, menjanjikan perang segera usai. ”Sekarang dia (Trump) minta dana 70 miliar dolar AS. Lalu kita disuruh percaya pada janjinya,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/22/9ee7de6e393c391f14b078cfc204e3ba-wires_photo_2026_07_22T085037.279.jpg)
Usulan kebutuhan dana yang diajukan mencapai 60 miliar dolar AS dan 12 miliar dolar AS untuk paket keamanan nasional lainnya. Ketegangan terjadi sepanjang dengar pendapat yang berlangsung selama tiga jam itu.
Hegseth dihujani pertanyaan di depan panel Senat terkait perang yang terjadi dan juga kepemimpinannya. Senator Susan Collins, Ketua Komite Senat dari Partai Republik, membuka dengar pendapat dengan mengatakan sangat kecewa karena Departemen Pertahanan (Pentagon) mencegah promosi jabatan bagi perwira perempuan dan kelompok minoritas.
Sementara Senator Jeanne Shaheen dari Partai Demokrat asal New Hampsire mempertanyakan langkah Hegseth meminta tambahan uang. Sebab, Pentagon belum menggunakan separuh dari dana 150 miliar dolar AS tahun ini yang disetujui kubu Republik dalam pengajuan anggaran pada 2025.
”Kenapa Anda mendesak rakyat AS untuk menanggung biaya perang yang tidak mereka dukung,” kata Shaheen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/22/ff9b2b1e2bf16976c7df580b65451b2a-Senate_Defense_3_.jpg)
Senator Kirsten Gillibran (Demokrat/New York) mengatakan, klaim Hegseth soal keberhasilan dalam perang di Iran tidak masuk akal. Menurut Gillibran, AS tidak mampu menghancurkan kapasitas nuklir Iran, yang disebut Trump sebagai tujuan perang di Iran.
Senator Jon Ossoff (Demokrat/Georgia) mempertanyakan prakiraan Hegseth sebelum berperang yang ternyata hasilnya sangat keliru, termasuk klaim Iran sudah menyerah.
Hegseth mencoba menjelaskan panjang lebar tentang strategi militer Trump. Shaheen langsung memotongnya dan memintanya tidak berbelit-belit. Hegseth akhirnya mengaku, anggaran yang diajukan tahun lalu akan habis pada September 2026.
Hegseth juga berkelit dan menyatakan, fokus operasi militer AS masih berlangsung dan sangat presisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/22/2ebd6132e6185d9f14fb42b3a230e106-Senate_Defense_1_.jpg)
Sementara Senator Gary Peters (Demokrat/Michigan) menyebut strategi Hegseth sebagai kegagalan besar. Hegseth murka. Ia berbalik menyerang Peters dan berkata, ”Anda dan orang yang menyatakan operasi ini gagal sangat memalukan”.
Peters langsung menghardik Hegseth, ”Andalah sosok orang yang gagal”.
Hegseth menyatakan kubu Demokrat punya sindrom kebencian terhadap Trump. Peters menimpali, perang saat ini tidak ada kaitan dengan kebutuhan biaya karena masalah utamanya adalah kepemimpinan.
”Anda tidak punya rencana bagaimana perang ini dimenangkan. Tidak ada prajurit AS yang salah. Masalahnya adalah kepemimpinan,” ujar Peters tegas.
Ketika Senator Mike Round menanyakan apakah dana yang disediakan akan mampu menyelesaikan perang, Jenderal Caine menjawab tidak bisa memberi kepastian.
Senator Partai Republik John Kennedy (Louisiana) mendesak dijawabnya situasi Selat Hormuz tentang rencana Iran menerapkan tarif tol dari jalur yang sebelumnya bebas dilintasi kapal niaga. Caine menjawab, itu pertanyaan hipotesis yang dia tidak bisa menjawab.
Kennedy menaikan suara dan berkata, ”Kami butuh jawaban tegas”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/22/90796162caf2f9b6c6b05cce4cef0a8d-Senate_Defense_2_.jpg)
Sebelum dengar pendapat di Senat, Gedung Putih mengeluarkan keterangan untuk mendesak usulan anggaran segera disetujui tanpa perubahan apa pun. Pembiayaan perang menjadi bagian terbesar usulan keuangan Pemerintah AS. Ini usulan terakhir yang diajukan sebelum reses untuk pemilihan sela, November mendatang.
Tambahan anggaran pertahanan diajukan bersama anggaran pertanian pada saat-saat akhir untuk membantu petani AS. Sebagai basis pendukung Trump, para petani kini semakin terpuruk akibat perang tarif dan berbagai kebijakan Trump yang menjadi senjata makan tuan bagi warga AS.
Menurut jajak pendapat AP-NORC, sebagian besar warga AS semakin tidak mendukung langkah Trump di Iran. Harga bensin melonjak akibat kendali Iran atas Selat Hormuz, berkurangnya persenjataan AS akibat serangan rudal besar-besaran dengan hasil tidak sesuai harapan, dan Trump tidak memenuhi janji untuk menjauhi perang berkepanjangan. (Reuters/AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase