Di tengah konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran terus berlanjut, harga kedelai di Jawa Barat mulai merangkak naik hingga Rp 10.200 per kg.
02 Mar 2026 15:50 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA
BANDUNG, KOMPAS — Harga kedelai di tingkat produsen tahu di Bandung, Jawa Barat, merangkak naik sepekan terakhir. Para pelaku usaha pengguna komoditas itu khawatir perang Amerika Serikat-Iran bakal mendongkrak harga kedelai lebih tinggi.
Serangan Amerika Serikat-Israel ke Teheran, ibu kota Iran, memicu ledakan besar pada Sabtu (28/2/2026). Iran membalasnya dengan serangan rudal ke negara-negara Teluk dan Israel.
Iran pun menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional sebagai respons serangan gabungan AS dan Israel. Akibatnya, pengiriman barang dan perdagangan melalui laut terganggu. Dari publikasi terakhir Kompas.id pada Senin (2/3/2026), harga minyak terus merangkak naik sejak serangan Israel yang didukung AS.
Harga minyak di pasar Asia pada pembukaan perdagangan Brent, London, misalnya, naik menjadi 80 dolar AS per barel dari harga penutupan 72,87 dolar AS per barel dalam perdagangan Jumat (27/2/2026). Artinya, sudah terjadi kenaikan harga 13 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/35809fe15eb7adadc20b194457176277-cropped_image.jpg)
Di tengah konflik ini, dari pantauan Kompas dari kawasan sentra perajin tahu di Cibuntu, Kelurahan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Senin siang, harga kedelai mulai merangkak dalam sepekan terakhir.
Oman (47), salah satu pengelola industri perajin tahu, mengatakan, harga keledai dari AS sudah menembus Rp 10.200 per kilogram. Awal tahun 2026, harga kedelai masih Rp 9.000-Rp 9.500 per kg.
Ia mengaku pasokan kedelai di tempat usahanya kini hanya tersisa 2 ton. Stok ini hanya bisa digunakan untuk produksi tahu tiga hingga empat hari ke depan.
”Kami khawatir dengan harga kedelai terus melonjak jika perang berkepanjangan,” ungkapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/2a30a24ce3c062f862a3beb85ed1d1fa-IMG_20260302_112942.jpg)
Sementara itu, Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat Muhammad Zamaludin berpendapat, penutupan Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga minyak dunia. Imbasnya, biaya pengiriman kedelai ke Indonesia dengan kapal bisa melonjak.
Ia mengungkapkan, beberapa tahun lalu harga kedelai melonjak hingga Rp 12.000-Rp 14.000 per kg akibat konflik antara Israel dan Iran di Laut Merah. Hal ini berimbas menurunnya produksi sekitar 1.000 usaha perajin tahu dan tempe di Jabar.
”Kapal kargo yang membawa komoditas perdagangan seperti terpaksa melewati rute yang lebih jauh ketika Selat Hormuz ditutup. Akibatnya, waktu pengiriman yang biasanya sebulan bisa mencapai dua hingga tiga bulan,” ujar Zamaludin.
Ia meminta pemerintah pusat memonitor perkembangan harga kedelai yang dipasok para importir. Tujuannya agar importir tidak memanfaatkan kondisi ini untuk menaikkan nilai jual kedelai dengan harga yang tidak wajar.
”Diperlukan upaya intervensi pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan kedelai di pasar,” harapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/b69a61d540641fbe8a230d74cd16d1eb-IMG_20260302_124403_1.jpg)
Sementara itu, laman platform penyedia data ekonomi TradingEconomics menyebut, kontrak berjangka kedelai naik dari 10,15 dollar AS ke sekitar 11,5 dollar AS per gantang (bushel), level tertinggi dalam tiga bulan. Kenaikan itu terjadi seiring kembalinya pembeli China setelah Imlek yang membangkitkan optimisme terhadap ekspor dalam skala besar.
Dukungan juga datang dari apa yang disebut sebagai “Gencatan Senjata Busan”, yakni kesepakatan dagang antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dilaporkan menetapkan target pembelian sebesar 20 juta metrik ton tahun ini.
Akan tetapi, kenaikan itu tertahan oleh ketidakpastian tarif dan perubahan kebijakan AS setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif besar-besaran, yang memicu kekhawatiran bahwa tambahan pembelian 8 juta ton dapat dibatalkan.
Tekanan juga datang dari panen kedelai Brasil yang mencetak rekor, diproyeksikan mencapai 180 juta metrik ton, dengan harga jauh lebih rendah dibandingkan harga di AS.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto