Perang Berkepanjangan di Iran Berisiko Merugikan Donald Trump

Negosiasi AS-Iran di Pakistan akan menentukan masa depan konflik di Timur Tengah. Jika negosiasi gagal, perang akan berkepanjangan. Dunia menantikan perdamaian.

12 Apr 2026 07:00 WIB · Internasional

Getty Images via AFP

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan ke Iran jika negosiasi yang sedang berlangsung di Pakistan gagal mencapai kesepakatan. Namun, sejumlah pihak menilai perang berkepanjangan di Iran justru berisiko merugikan Trump.

Dunia berharap negosiasi AS-Iran di Islamabad, Pakistan, berjalan mulus. Dengan begitu, operasi militer AS dan Israel di Iran yang telah berlangsung selama enam pekan dapat segera berakhir. Perang yang memicu penutupan Selat Hormuz, jalur vital energi dunia, itu telah memicu lonjakan harga minyak dan gas.

Pengamat Timur Tengah, Nasir Tamara, mengatakan, meski sedang bernegosiasi, potensi serangan lanjutan AS-Israel ke Iran masih sangat terbuka. Hal ini berkaca dari perundingan AS-Iran yang dimediasi Oman pada awal dan pertengahan Februari lalu. Kala itu, di tengah perundingan yang belum tuntas, AS-Israel justru melancarkan serangan udara gabungan pada 28 Februari 2026. Serangan ini menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Pengamat Timur Tengah, Nasir Tamara, menandatangani buku karyanya milik peserta diskusi ”Tatanan Dunia Baru: Pasca Gencatan Senjata & 40 Hari Syahadah Ayatollah Ali Khamenei”, di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

”Akan tetapi, jika perang berkepanjangan, AS dan Trump justru akan dirugikan. AS telah kehilangan banyak aset militernya. Sementara Trump berpotensi menghadapi tekanan di dalam dan luar negeri,” ujarnya seusai menghadiri diskusi ”Tatanan Dunia Baru: Pasca Gencatan Senjata & 40 Hari Syahadah Ayatollah Ali Khamenei”, di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Menurut Nasir, perang yang berlarut-larut di Iran berisiko membawa AS dalam posisi yang kurang menguntungkan dalam persaingan geopolitik. Sebab, saat AS menghabiskan banyak sumber daya melawan Iran, kompetitor utama mereka, Rusia dan China, justru tidak mengalami penurunan kekuatan militernya.

”Perang ini bisa dikatakan sebagai perang terbesar AS dalam 70 tahun terakhir. Kehilangan banyak aset militer membuat AS menjadi lebih lemah dalam persaingan dengan China dan Rusia. Itu tidak menguntungkan buat mereka,” ucapnya.

Suasana diskusi ”Tatanan Dunia Baru: Pasca Gencatan Senjata & 40 Hari Syahadah Ayatollah Ali Khamenei”, di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Selain itu, militer Iran juga masih mampu membalas serangan AS-Israel. Pada Jumat (3/4/2026), sistem pertahanan udara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menghantam jet tempur F-15 AS. Serangan ini terjadi sepekan setelah Presiden Trump mengklaim militer Iran telah dikalahkan sehingga pesawat tempur AS dapat terbang bebas di wilayah udara Iran.

”Semula AS mengira lima hari (perang) selesai, tapi ternyata ini sudah 40 hari belum selesai juga. Iran sudah berpengalaman perang jangka panjang saat melawan Irak (1980-1988),” ucapnya.

Nasir menuturkan, negosiasi AS-Iran yang dimediasi Pakistan berbeda dengan diplomasi sebelumnya yang dimediasi Oman. Sebab, selain dipercaya AS, Pakistan juga dekat dengan China, rival AS.

”Pakistan punya nuklir. Itu memiliki bobot tersendiri. Jika negosiasi gagal, perang berpotensi meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar. Jadi, dunia harus bersama-sama mendorong perdamaian,” jelasnya.

Quote

Dunia berharap negosiasi AS-Iran di Islamabad, Pakistan, berjalan mulus. Dengan begitu, operasi militer AS dan Israel di Iran yang telah berlangsung selama enam pekan dapat segera berakhir.

Nasir menambahkan, jika tetap ngotot melanjutkan perang, Trump juga berpotensi mendapatkan protes lebih keras dari rakyat AS. Sebab, perang juga turut memicu lonjakan harga bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok lainnya di negara itu.

”Rakyat AS bisa berontak. Trump juga melakukan kesalahan dengan memecat sejumlah jenderal AS baru-baru ini. Artinya, dia sedang menciptakan musuh di sekitarnya,” ucapnya.

Di akun media sosial Truth Social miliknya, Trump menyebutkan, jika tidak tercapai kesepakatan dalam negosiasi dengan Iran, pihaknya akan menyerang Iran dengan kekuatan lebih besar. AS mendesak agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dan membuka Selat Hormuz sepenuhnya.

Infografik Selat Hormuz adalah Salah Satu Jalur Terpenting untuk
Pengiriman Minyak dan LNG.

Akhiri perang tak hanya di Iran

Diskusi tersebut juga dihadiri Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi. Ia mengatakan, delegasi Iran datang ke Pakistan membawa 10 poin untuk mengakhiri perang. Isinya tidak hanya meminta AS-Israel mengakhiri agresi di Iran, tetapi juga terhadap front perlawanan di Timur Tengah.

”Akhiri perang tak hanya di Iran, tetapi di seluruh kawasan. Musuh sering kali mengingkari gencatan senjata yang telah disepakati,” ujarnya.

Selama perang berlangsung, Boroujerdi telah mengunjungi sejumlah tokoh di Indonesia, antara lain Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, dan beberapa perwakilan ormas Islam. Ia menyebutkan, kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk terima kasih terhadap dukungan Indonesia kepada Iran.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menjawab pertanyaan jurnalis seusai menghadiri diskusi ”Tatanan Dunia Baru: Pasca Gencatan Senjata & 40 Hari Syahadah Ayatollah Ali Khamenei”, di Kampus Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Boroujerdi juga membuka kemungkinan untuk bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto. ”Jika beliau memberikan kesempatan kepada kami (untuk bertemu), kami akan sangat berterima kasih,” ucapnya.

Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) KH Miftah Fauzi Rakhmat mengatakan, dalam berperang, Iran masih mempertimbangkan kepentingan bersama di kawasan. Menurut dia, Iran menyetujui gencatan senjata demi kebaikan hajat hidup orang banyak di kawasan itu.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (ABI) Zahir Yahya menyebutkan, perang di Iran telah menunjukkan pergeseran sistem tatanan dunia dari yang selama ini unipolar (kekuatan berpusat pada AS) menjadi multipolar (kekuatan terdistribusi ke banyak aktor). ”AS gagal merealisasikan tujuannya dalam perang ini (di Iran), baik dalam perubahan rezim, mengambil uranium yang diperkaya, maupun mengurangi jangkauan rudal Iran,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji