Sesulit atau sealot apa pun situasi perundingan, perang bukanlah pilihan. Niat dan keinginan Amerika Serikat dan Iran untuk berkomunikasi membuka harapan baik.
Niat dan keinginan Amerika Serikat dan Iran untuk berkomunikasi membuka harapan baik bagi dunia, terutama bagi kawasan Timur Tengah.
Setidaknya keinginan untuk terus berkomunikasi, untuk sementara waktu, dapat meredam ambisi besar AS dan Israel menyerang Iran. Di sisi lain, meskipun belum tercapai kesepakatan, hal itu menjadi pertanda baik.
Mengapa demikian? Pada 2021, sebelum pembicaraan di Oman digelar, Uni Eropa pernah memediasi perundingan AS-Iran terkait dengan keberlanjutan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang terhenti sejak tahun 2018.
Rangkaian perundingan tersebut digelar, antara lain, di Vienna, Austria. Sayangnya, perundingan tersebut terhenti. Ada suasana ketidakpercayaan yang menguat. AS kala itu tidak yakin bahwa Iran memenuhi tanggung jawabnya pada JCPOA. Ada dugaan, sejak rencana aksi itu ”runtuh”, kadar pengayaan uranium Iran makin tinggi.
Sebagaimana diketahui, JCPOA yang ditandatangani pada tahun 2015 oleh Iran, AS, Inggris, China, Perancis, Rusia, dan Jerman menyepakati pembatasan pengayaan nuklir Iran. Kompensasinya, AS dan Barat mencabut sanksi ekonomi yang diterapkan kepada Teheran.
Namun, sebagaimana disebutkan, tahun 2018, pada periode pertama pemerintahannya, Presiden AS Donald Trump menarik AS keluar dari JCPOA. Ia menilai kesepakatan itu buruk, terlalu menguntungkan Iran, dan tidak banyak memberi manfaat kepada AS.
Sejak saat itu, AS kembali menerapkan sanksi keras atas Iran. Sebaliknya, Teheran membalasnya dengan kembali meningkatkan aktivitas program nuklir mereka. Ditambah faktor Israel—musuh bebuyutan Iran—situasi tersebut tentu kembali memicu instabilitas di kawasan.
Pada era Presiden Joe Biden, AS ingin kembali menghidupkan JCPOA, tetapi pihak AS-Iran tetap kukuh pada pendirian masing-masing. JCPOA macet lagi.
Kini di periode kedua pemerintahannya, Trump kembali menerapkan kebijakan keras atas Iran. Ia ingin Teheran menghentikan program nuklir mereka, bila tidak Iran diserang. Teheran tentu menolak tekanan itu. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan tidak ingin menyerahkan program nuklir Iran, yang merupakan salah satu ”kartu as” Teheran.
Lagi-lagi kedua belah pihak berhenti di titik yang sama. Yang membedakan, kali ini kedua belah pihak mau berkomunikasi dan itu baik. Bagaimanapun, jalur diplomasi tetap layak ditempuh. Sesulit atau sealot apa pun situasi perundingan, bagi dunia, perang bukanlah pilihan.
Meskipun saat ini Iran tidak lagi sama seperti era tahun 2018—terutama setelah kekuatan proksi mereka di Palestina dan Lebanon menurun akibat tekanan Israel—Washington tetap tidak boleh meremehkan Teheran. Perang berkepanjangan hanya akan merugikan dunia.
Niat dan keinginan Amerika Serikat dan Iran untuk berkomunikasi membuka harapan baik bagi dunia, terutama bagi kawasan Timur Tengah.
Setidaknya keinginan untuk terus berkomunikasi, untuk sementara waktu, dapat meredam ambisi besar AS dan Israel menyerang Iran. Di sisi lain, meskipun belum tercapai kesepakatan, hal itu menjadi pertanda baik.
Serial Artikel
Perundingan Nuklir Lancar, Serangan ke Iran Bisa Ditunda Sepekan Lagi
AS-Iran setuju berunding lagi pekan depan. Persetujuan menunda hasrat Israel-AS menyerang Iran dengan alasan mencegah pengembangan senjata nuklir.
Mengapa demikian? Pada 2021, sebelum pembicaraan di Oman digelar, Uni Eropa pernah memediasi perundingan AS-Iran terkait dengan keberlanjutan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang terhenti sejak tahun 2018.
Rangkaian perundingan tersebut digelar, antara lain, di Vienna, Austria. Sayangnya, perundingan tersebut terhenti. Ada suasana ketidakpercayaan yang menguat. AS kala itu tidak yakin bahwa Iran memenuhi tanggung jawabnya pada JCPOA. Ada dugaan, sejak rencana aksi itu ”runtuh”, kadar pengayaan uranium Iran makin tinggi.
Sebagaimana diketahui, JCPOA yang ditandatangani pada tahun 2015 oleh Iran, AS, Inggris, China, Perancis, Rusia, dan Jerman menyepakati pembatasan pengayaan nuklir Iran. Kompensasinya, AS dan Barat mencabut sanksi ekonomi yang diterapkan kepada Teheran.
Namun, sebagaimana disebutkan, tahun 2018, pada periode pertama pemerintahannya, Presiden AS Donald Trump menarik AS keluar dari JCPOA. Ia menilai kesepakatan itu buruk, terlalu menguntungkan Iran, dan tidak banyak memberi manfaat kepada AS.
Serial Artikel
Iran dan Eropa Berupaya Selamatkan Perjanjian Nuklir 2015
Pemerintah Iran bersama sejumlah negara di Benua Eropa berupaya keras menyelamatkan kesepakatan nuklir dengan Teheran. Hal itu berhadapan dengan posisi politik Amerika Serikat.
Sejak saat itu, AS kembali menerapkan sanksi keras atas Iran. Sebaliknya, Teheran membalasnya dengan kembali meningkatkan aktivitas program nuklir mereka. Ditambah faktor Israel—musuh bebuyutan Iran—situasi tersebut tentu kembali memicu instabilitas di kawasan.
Pada era Presiden Joe Biden, AS ingin kembali menghidupkan JCPOA, tetapi pihak AS-Iran tetap kukuh pada pendirian masing-masing. JCPOA macet lagi.
Kini di periode kedua pemerintahannya, Trump kembali menerapkan kebijakan keras atas Iran. Ia ingin Teheran menghentikan program nuklir mereka, bila tidak Iran diserang. Teheran tentu menolak tekanan itu. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan tidak ingin menyerahkan program nuklir Iran, yang merupakan salah satu ”kartu as” Teheran.
Serial Artikel
Iran Menolak Tekanan Trump
Iran akan melawan jika Trump benar-benar melaksanakan rencana menyerang Iran. Program nuklir Iran pun akan terus dilanjutkan.
Lagi-lagi kedua belah pihak berhenti di titik yang sama. Yang membedakan, kali ini kedua belah pihak mau berkomunikasi dan itu baik. Bagaimanapun, jalur diplomasi tetap layak ditempuh. Sesulit atau sealot apa pun situasi perundingan, bagi dunia, perang bukanlah pilihan.
Meskipun saat ini Iran tidak lagi sama seperti era tahun 2018—terutama setelah kekuatan proksi mereka di Palestina dan Lebanon menurun akibat tekanan Israel—Washington tetap tidak boleh meremehkan Teheran. Perang berkepanjangan hanya akan merugikan dunia.