Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
- Amerika Serikat terlibat perang dagang dengan siapa saja?
- Siapa yang untung dan buntung dalam perang dagang ini?
- Apa dampak perang dagang ini terhadap perdagangan dunia?
- Apa dampak perang dagang ini terhadap konsumsi atau kehidupan masyarakat di negara-negara yang terlibat?
- Bagaimana prediksi ekonomi global dengan adanya perang dagang ini?
AS terlibat perang dagang dengan siapa saja?
AS terlibat perang dagang dengan beberapa negara, termasuk China, Kanada, dan Meksiko. Perang dagang antara AS dan China dimulai pada tahun 2018 ketika Presiden AS Donald Trump memberlakukan bea masuk terhadap barang-barang China senilai 34 miliar dollar AS. China lalu membalas dengan tarif yang serupa terhadap produk-produk AS.
Kali ini, Gedung Putih mengumumkan pengenaan tarif tinggi pada impor dari Meksiko, Kanada, dan China pada 1 Februari 2025. Kanada dan Meksiko dikenai bea masuk impor hingga 25 persen. China mendapat tarif tambahan 10 persen dari tarif yang sudah diterapkan sebelumnya.
Tarif impor tersebut berlaku, kecuali untuk produk energi asal Kanada, seperti minyak, gas alam, dan listrik. Energi dari Kanada dikenai bea masuk lebih rendah, yakni 10 persen. Tarif baru berlaku mulai 4 Februari 2025. Trump menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional dalam mengenakan tarif tersebut.
Trump telah berulang kali mengisyaratkan tarif impor sebagai kebijakan utamanya. Bagi dia, tarif dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi, melindungi lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan pajak AS. AS tercatat mengalami defisit perdagangan dengan banyak negara, termasuk Meksiko, Kanada, dan China.
Namun, Trump juga memiliki alasan lain. Pemberlakuan tarif bertujuan untuk mendesak tiga negara itu mengatasi aliran imigran ilegal dan obat-obatan narkoba jenis fentanil serta bahan-bahan kimia prekursornya ke AS.
Siapa yang untung dan siapa yang buntung dalam perang dagang ini?
Banyak analis memerkirakan efek negatif perang dagang ini akan sangat terasa bagi perekonomian AS dibanding manfaatnya. Tidak hanya membuat pasar menjadi rentan, harga barang kebutuhan sehari-hari diyakini akan naik. Ujungnya, kesejahteraan warga akan tergerus di tengah pendapatan yang tidak mengalami perbaikan.
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyebut keputusan Trump itu sebagai tindakan bodoh dan akan menjadi bumerang. Kanada membalas kebijakan Trump itu dengan menaikkan 25 persen atas produk impor asal AS senilai 20,7 miliar dollar AS. Produk yang terimbas adalah jus jeruk, selai kacang, anggur, minuman beralkohol, bir, kopi, hingga sepeda motor.
Trudeau juga mengatakan akan mengenakan tambahan tarif bea masuk barang impor asal AS senilai lebih dari 100 miliar dollar AS jika Trump masih ngotot memberlakukan tambahan tarif selama 21 hari ke depan.
Barang-barang AS yang akan dikenai kenaikan tarif diantaranya kendaraan bermotor, baja, pesawat terbang, daging sapi, dan daging babi. Kanada juga akan menentang tarif AS berdasarkan aturan WTO dan perjanjian perdagangan bebas AS-Meksiko-Kanada.
Kebijakan Trump ini juga dinilai tidak cukup untuk mendorong kembalinya industri manufaktur di AS. Kenaikan harga juga akan terasa di sektor otomotif, terutama karena tidak mudah bagi para pengusaha memindahkan fasilitas produksinya dari satu negara ke negara lain.
Apa dampak perang dagang ini terhadap pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia?
Bursa saham Amerika Serikat dan sejumlah negara bereaksi negatif pada kepastian perang dagang. Bursa New York memerah, bursa negara lain juga terkoreksi. Perang dagang membuat harga aneka hal naik sehingga konsumsi dikhawatirkan menurun.
Penurunan konsumsi bisa membuat penjualan berbagai produsen dan distributor terpangkas pula. Dampaknya, pendapatan mereka terkikis. Di bursa, koreksi pendapatan itu yang membuat harapan pada nilai dividen berkurang pula. Akibatnya, harga saham juga terkoreksi.
Trump menetapkan tarif bea masuk impor 25 persen untuk Kanada dan Meksiko. China juga akan terkena tambahan tarif bea masuk impor dari 10 persen menjadi total 20 persen. Kanada dan Meksiko mitra dagang utama yang terikat perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara dengan AS, NAFTA. AS terutama menjadi pasar, Kanada-Meksiko menjadi pemasok. Dengan pemberlakuan BMI, praktis kesepakatan itu mati sehingga rantai pasok bisa terganggu.
Membalas AS, Kanada segera memberlakukan tarif bea masuk impor 25 persen untuk komoditas senilai 20,6 miliar dollar AS. Jika AS tak kunjung menunjukkan itikad baik, maka tarif bea masuk impor setara akan dikenakan pula pada komoditas senilai 86,6 miliar dollar AS.
China juga segera menerapkan tarif bea masuk impor 15 persen untuk aneka impor produk pertanian dan peternakan AS. Mulai Senin depan, tarif bea masuk impor diberlakukan antara lain untuk kacang kedelai serta aneka daging, termasuk babi, sapi, dan ayam.
China juga melarang kerja sama dengan 10 perusahaan AS. Seluruh perusahan China atau yang beraktivitas di China dilarang bertransaksi ekspor atau impor dengan 10 perusahaan tersebut. Selain itu, ada juga pembatasan ekspor ke 15 perusahaan AS. China menilai 15 perusahaan itu membahayakan kepentingan nasional China.
Apa dampak perang dagang terhadap kehidupan masyarakat di negara-negara yang terlibat?
Perang dagang AS ini akan punya dampak pada kenaikan harga barang yang diimpor dari negara-negara yang terlibat sehingga memengaruhi daya beli masyarakat. Kenaikan harga barang-barang dapat menyebabkan penurunan daya beli masyarakat sehingga mereka harus mengurangi konsumsi atau mencari alternatif yang lebih murah.
Perang dagang juga dapat menyebabkan perubahan pola konsumsi masyarakat karena mereka harus menyesuaikan diri dengan kenaikan harga barang-barang.
Industri konsumsi juga akan terpengaruh, terutama industri yang bergantung pada impor barang-barang dari negara-negara yang terlibat. Selain itu, perang dagang dapat menyebabkan ketidakpastian ekonomi sehingga masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan konsumsi.
Trump mengatakan rakyat AS akan merasakan ”sakit” dari kenaikan harga. Namun, itu semua sepadan dengan ambisi membangkitkan perekonomian dalam negeri. Para pakar ekonomi di AS memperkirakan, untuk jangka pendek akan ada lonjakan harga barang.
Padahal, salah satu alasan Trump memenangi pemilihan umum presiden November 2024 adalah karena rakyat AS sudah muak dengan inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang sejak pandemi Covid-19. Secara riil, kebijakan Trump menaikkan tarif akan membuat beban rumah tangga menjadi lebih tinggi sekitar 1.000 dollar AS per tahun.
Bagaimana prediksi ekonomi global dengan adanya perang dagang ini?
Sejumlah organisasi keuangan internasional memperingatkan, perang dagang lewat saling balas penerapan tarif barang antarnegara akan membuat ekonomi dunia semakin suram. Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, perang dagang itu dapat merusak prospek ekonomi Asia, meningkatkan biaya, dan mengganggu rantai pasok.
Tarif dapat menghambat perdagangan global dan menghambat pertumbuhan di negara-negara pengekspor. Untuk AS, perang tarif dapat meningkatkan inflasi yang bisa memaksa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk memperketat kebijakan moneter.
Kondisi ini juga bakal berdampak buruk bagi ekonomi Asia. IMF memperkirakan Asia tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi global kendati prospek pertumbuhan ekonomi global kurang menggembirakan.
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
- Amerika Serikat terlibat perang dagang dengan siapa saja?
- Siapa yang untung dan buntung dalam perang dagang ini?
- Apa dampak perang dagang ini terhadap perdagangan dunia?
- Apa dampak perang dagang ini terhadap konsumsi atau kehidupan masyarakat di negara-negara yang terlibat?
- Bagaimana prediksi ekonomi global dengan adanya perang dagang ini?
AS terlibat perang dagang dengan siapa saja?
AS terlibat perang dagang dengan beberapa negara, termasuk China, Kanada, dan Meksiko. Perang dagang antara AS dan China dimulai pada tahun 2018 ketika Presiden AS Donald Trump memberlakukan bea masuk terhadap barang-barang China senilai 34 miliar dollar AS. China lalu membalas dengan tarif yang serupa terhadap produk-produk AS.
Kali ini, Gedung Putih mengumumkan pengenaan tarif tinggi pada impor dari Meksiko, Kanada, dan China pada 1 Februari 2025. Kanada dan Meksiko dikenai bea masuk impor hingga 25 persen. China mendapat tarif tambahan 10 persen dari tarif yang sudah diterapkan sebelumnya.
Tarif impor tersebut berlaku, kecuali untuk produk energi asal Kanada, seperti minyak, gas alam, dan listrik. Energi dari Kanada dikenai bea masuk lebih rendah, yakni 10 persen. Tarif baru berlaku mulai 4 Februari 2025. Trump menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional dalam mengenakan tarif tersebut.
Trump telah berulang kali mengisyaratkan tarif impor sebagai kebijakan utamanya. Bagi dia, tarif dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi, melindungi lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan pajak AS. AS tercatat mengalami defisit perdagangan dengan banyak negara, termasuk Meksiko, Kanada, dan China.
Namun, Trump juga memiliki alasan lain. Pemberlakuan tarif bertujuan untuk mendesak tiga negara itu mengatasi aliran imigran ilegal dan obat-obatan narkoba jenis fentanil serta bahan-bahan kimia prekursornya ke AS.
Siapa yang untung dan siapa yang buntung dalam perang dagang ini?
Banyak analis memerkirakan efek negatif perang dagang ini akan sangat terasa bagi perekonomian AS dibanding manfaatnya. Tidak hanya membuat pasar menjadi rentan, harga barang kebutuhan sehari-hari diyakini akan naik. Ujungnya, kesejahteraan warga akan tergerus di tengah pendapatan yang tidak mengalami perbaikan.
Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyebut keputusan Trump itu sebagai tindakan bodoh dan akan menjadi bumerang. Kanada membalas kebijakan Trump itu dengan menaikkan 25 persen atas produk impor asal AS senilai 20,7 miliar dollar AS. Produk yang terimbas adalah jus jeruk, selai kacang, anggur, minuman beralkohol, bir, kopi, hingga sepeda motor.
Trudeau juga mengatakan akan mengenakan tambahan tarif bea masuk barang impor asal AS senilai lebih dari 100 miliar dollar AS jika Trump masih ngotot memberlakukan tambahan tarif selama 21 hari ke depan.
Barang-barang AS yang akan dikenai kenaikan tarif diantaranya kendaraan bermotor, baja, pesawat terbang, daging sapi, dan daging babi. Kanada juga akan menentang tarif AS berdasarkan aturan WTO dan perjanjian perdagangan bebas AS-Meksiko-Kanada.
Kebijakan Trump ini juga dinilai tidak cukup untuk mendorong kembalinya industri manufaktur di AS. Kenaikan harga juga akan terasa di sektor otomotif, terutama karena tidak mudah bagi para pengusaha memindahkan fasilitas produksinya dari satu negara ke negara lain.
Apa dampak perang dagang ini terhadap pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia?
Bursa saham Amerika Serikat dan sejumlah negara bereaksi negatif pada kepastian perang dagang. Bursa New York memerah, bursa negara lain juga terkoreksi. Perang dagang membuat harga aneka hal naik sehingga konsumsi dikhawatirkan menurun.
Penurunan konsumsi bisa membuat penjualan berbagai produsen dan distributor terpangkas pula. Dampaknya, pendapatan mereka terkikis. Di bursa, koreksi pendapatan itu yang membuat harapan pada nilai dividen berkurang pula. Akibatnya, harga saham juga terkoreksi.
Trump menetapkan tarif bea masuk impor 25 persen untuk Kanada dan Meksiko. China juga akan terkena tambahan tarif bea masuk impor dari 10 persen menjadi total 20 persen. Kanada dan Meksiko mitra dagang utama yang terikat perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara dengan AS, NAFTA. AS terutama menjadi pasar, Kanada-Meksiko menjadi pemasok. Dengan pemberlakuan BMI, praktis kesepakatan itu mati sehingga rantai pasok bisa terganggu.
Membalas AS, Kanada segera memberlakukan tarif bea masuk impor 25 persen untuk komoditas senilai 20,6 miliar dollar AS. Jika AS tak kunjung menunjukkan itikad baik, maka tarif bea masuk impor setara akan dikenakan pula pada komoditas senilai 86,6 miliar dollar AS.
China juga segera menerapkan tarif bea masuk impor 15 persen untuk aneka impor produk pertanian dan peternakan AS. Mulai Senin depan, tarif bea masuk impor diberlakukan antara lain untuk kacang kedelai serta aneka daging, termasuk babi, sapi, dan ayam.
China juga melarang kerja sama dengan 10 perusahaan AS. Seluruh perusahan China atau yang beraktivitas di China dilarang bertransaksi ekspor atau impor dengan 10 perusahaan tersebut. Selain itu, ada juga pembatasan ekspor ke 15 perusahaan AS. China menilai 15 perusahaan itu membahayakan kepentingan nasional China.
Apa dampak perang dagang terhadap kehidupan masyarakat di negara-negara yang terlibat?
Perang dagang AS ini akan punya dampak pada kenaikan harga barang yang diimpor dari negara-negara yang terlibat sehingga memengaruhi daya beli masyarakat. Kenaikan harga barang-barang dapat menyebabkan penurunan daya beli masyarakat sehingga mereka harus mengurangi konsumsi atau mencari alternatif yang lebih murah.
Perang dagang juga dapat menyebabkan perubahan pola konsumsi masyarakat karena mereka harus menyesuaikan diri dengan kenaikan harga barang-barang.
Industri konsumsi juga akan terpengaruh, terutama industri yang bergantung pada impor barang-barang dari negara-negara yang terlibat. Selain itu, perang dagang dapat menyebabkan ketidakpastian ekonomi sehingga masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan konsumsi.
Trump mengatakan rakyat AS akan merasakan ”sakit” dari kenaikan harga. Namun, itu semua sepadan dengan ambisi membangkitkan perekonomian dalam negeri. Para pakar ekonomi di AS memperkirakan, untuk jangka pendek akan ada lonjakan harga barang.
Padahal, salah satu alasan Trump memenangi pemilihan umum presiden November 2024 adalah karena rakyat AS sudah muak dengan inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang sejak pandemi Covid-19. Secara riil, kebijakan Trump menaikkan tarif akan membuat beban rumah tangga menjadi lebih tinggi sekitar 1.000 dollar AS per tahun.
Bagaimana prediksi ekonomi global dengan adanya perang dagang ini?
Sejumlah organisasi keuangan internasional memperingatkan, perang dagang lewat saling balas penerapan tarif barang antarnegara akan membuat ekonomi dunia semakin suram. Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, perang dagang itu dapat merusak prospek ekonomi Asia, meningkatkan biaya, dan mengganggu rantai pasok.
Tarif dapat menghambat perdagangan global dan menghambat pertumbuhan di negara-negara pengekspor. Untuk AS, perang tarif dapat meningkatkan inflasi yang bisa memaksa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk memperketat kebijakan moneter.
Kondisi ini juga bakal berdampak buruk bagi ekonomi Asia. IMF memperkirakan Asia tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi global kendati prospek pertumbuhan ekonomi global kurang menggembirakan.