Uni Eropa berkeras tarif bea masuk impor mobil listrik China harus dinaikkan. China membalas.
30 Okt 2024 12:35 WIB · Internasional
Oleh Mahdi Muhammad - [email protected]
BRUSSELS, RABU — Mulai Rabu (30/10/2024), Uni Eropa menambah tarif bea masuk hingga 45,3 persen untuk setiap mobil listrik asal China. Keputusan itu mencemaskan sebagian anggota Uni Eropa. Perang dagang dua mitra itu tak terhindarkan.
UE menyusul Amerika Serikat dan Kanada yang lebih dulu menaikkan tarif. ”Adopsi langkah-langkah proporsional dan terarah ini setelah penyelidikan yang ketat, kami mendukung praktik pasar yang adil bagi basis industri Eropa,” kata Kepala Kebijakan Perdagangan UE Valdis Dombrovskis.
Ia mengatakan, UE siap pada persaingan usaha yang adil. Industri mobil listrik China dinilai tidak adil bagi industri otomotif di negara anggota UE.
Brussels menilai, Beijing mengucurkan subsidi besar pada industri mobil listrik China. Dampaknya, harga jual mobil listrik China jauh lebih murah dibandingkan produk otomotif dari banyak negara.
UE dan berbagai pihak menyebut, China memberikan subsidi lewat beragam cara. Wujudnya mulai dari pembiayaan modal usaha, hibah, bantuan pengadaan lahan lokasi produksi, hingga kendali alur produksi bahan baku.
Setiap tahun, industri mobil listrik China menghasilkan sampai tiga juta unit, sedangkan pasar UE hanya bisa menyerap paling banyak 1,5 juta unit per tahun.
UE mengasumsikan, produksi massal mobil listrik China ditujukan ke Eropa. Karena itu, UE menyalahkan China kala pabrikan Eropa tak mampu bersaing dengan produk China di pasar Eropa.
Dengan kualitas setara, harga mobil buatan China bisa 20 persen lebih murah dari mobil buatan Eropa. Dampaknya, penjualan produk China bisa melonjak di pasar UE.
Dari hanya satu persen pada 2019, porsi mobil listrik China di pasar UE 2024 sudah 15 persen. Dalam dua tahun mendatang, 25 persen mobil listrik di pasar UE berasal dari China.
Dari porsi itu sebenarnya terlihat, produk UE masih merajai pasar di benua itu. Meski demikian, tetap saja para pejabat UE melihat ancaman dari produk China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/24/2cd42dbc-079e-4708-ae3a-d05dc825c143_jpg.jpg)
Karena itu, produk China berusaha dihambat masuk UE. Caranya termasuk dengan menaikkan tarif bea masuk impor.
Besaran kenaikan tarif bea masuk tidak setara bagi setiap produsen otomotif. Besaran tarif antara lain bergantung pada kesediaan produsen China bekerja sama dengan penyelidik UE. Fokus penyelidikan antara lain mekanisme subsidi yang diterima produsen dari Pemerintah China.
Tarif terendah akan dikenakan pada Tesla yang dibuat dari China. Sebagian mobil jenama dari Amerika Serikat itu memang dibuat di China. Mobil perusahaan Elon Musk itu akan dikenai tarif 7,8 persen.
Sementara raksasa pabrikan mobil listrik China, BYD, akan terkena bea masuk 17 persen. Pabrikan lain, Geely, akan terkena tarif 18,8 persen. Geely merupakan raksasa otomotif China yang mengendalikan Volvo di Swedia dan Lotus di Inggris.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/24/53ec97f2-2eec-412e-bc70-dd6be22548f8_jpg.jpg)
BUMN otomotif China, SAIC, kena tarif lebih tinggi. Produk SAIC ke pasar UE akan dikenai tarif 35,3 persen. Seperti Geely, SAIC juga mengendalikan sejumlah pabrikan Eropa. Salah satunya MG, pabrikan legendaris dari Inggris.
Tak cuma produk asli China kena kenaikan tarif. Jenama Eropa yang dibuat di China, BMW dan Volkswagen, juga kena bea masuk 20 persen. Normalnya, tarif bea masuk cuma 10 persen.
Volkswagen Group di Eropa mengumumkan sedang kesulitan. Sebagian pabrik di kampung halamannya di Jerman akan segera ditutup. Manajemen Volkswagen menilai produksi di Eropa semakin sulit menghasilkan produk yang bisa bersaing di pasar.
Bukan soal kualitas, melainkan perkara harga. Biaya produksi di Jerman terus meroket. Dampaknya, harga jual produk buatan Jerman juga harus dinaikkan.
Unjuk rasa pekerja Volkswagen sudah berulang kali terjadi. Meski demikian, tetap saja produsen legendaris Jerman itu kewalahan jika harus terus mempertahankan produksi di kampung halaman.
Meski tarif baru sudah diberlakukan, UE mengaku tetap siap dan mau berunding dengan China. UE-China antara lain sedang berunding soal harga minimum mobil listrik China ke pasar UE.
Perundingan juga akan dilakukan dengan Pemerintah China. ”Kami tetap terbuka terhadap kemungkinan solusi alternatif yang akan efektif untuk mengatasi setiap masalah yang teridentifikasi dan mengacu pada setip aturan WTO,” kata Dombrovskis.
Sementara itu, Kamar Dagang China menyatakan kecewa pada kenaikan itu. UE dituding sewenang-wenang dan menerapkan kebijakan proteksionisme.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/17/9fc7a5b9-7433-45d2-a557-e188d4bb0c18_jpg.jpg)
Adapun Pemerintah China mulai memberlakukan tarif bea masuk dan aneka hambatan lain bagi produk UE. Ada produk yang diselidiki dan importirnya wajib membayar jaminan kalau mau dimasukkan ke China.
Produk pertanian dan peternakan jadi sasaran China. Sebagian anggota UE, yang mendukung kenaikan tarif terhadap mobil listrik China, marah dengan keputusan Beijing itu.
Para petani di sejumlah anggota UE juga marah. Mereka merasa dikorbankan pemerintah dan industri otomotif dalam perang dagang dengan China.
Tak cuma dari China, protes soal tarif baru juga datang dari sebagian anggota UE. Jerman, raksasa industri UE, menolak mendukung kebijakan itu. Padahal, kasus Volkswagen menunjukkan industri otomotif Jerman juga terpukul dengan kehadiran mobil listrik China di pasar UE.
Bagi Jerman, kasus Volkswagen adalah konsekuensi dari sistem perdagangan bebas global. Sistem itu terus digaungkan UE dan sekutunya.
Tarif tambahan merupakan langkah mundur bagi perdagangan global yang bebas dan dengan demikian bagi kemakmuran, pelestarian lapangan kerja, dan pertumbuhan di Eropa,” kata Presiden Asosiasi Industri Otomotif Jerman Hildegard Mueller.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/10/06/8fed7cd6-4270-475a-9a9c-0ca89c8ba186_jpg.jpg)
Kementerian Perekonomian Jerman menyatakan mendukung negosiasi lanjutan yang tengah berlangsung antara UE dan China. Berlin berharap ada resolusi diplomatik untuk meredakan ketegangan dan juga melindungi industri Eropa.
”Pemerintah Federal mendukung pasar terbuka. Karena Jerman khususnya, sebagai ekonomi yang saling terhubung secara global, bergantung pada hal ini,” kata kementerian dalam sebuah pernyataan.
Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban juga pernah mengeluarkan pernyataan keras soal kebijakan ini. Dia memandang kebijakan tersebut akan membawa UE menuju masa perang dingin ekonomi dengan China.
Perancis mendukung keputusan tersebut. ”Uni Eropa mengambil keputusan penting untuk melindungi dan mempertahankan kepentingan perdagangan kami, pada saat industri mobil kami membutuhkan dukungan kami lebih dari sebelumnya,” kata Menteri Keuangan Perancis Antoine Armand dalam sebuah pernyataan.
Asosiasi Mobil Perancis (PFA) juga mendukung keputusan tersebut. Mereka mengatakan mendukung perdagangan bebas selama hal itu dilakukan dengan adil. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Kris Mada