Penurunan di bursa AS, antara lain, diseret tujuh saham emiten besar teknologi. Pasar cemas resesi akibat perang dagang yang dipicu Trump.
11 Mar 2025 08:38 WIB · Internasional
NEW YORK, SELASA — Bursa Amerika Serikat dan berbagai negara anjlok di tengah kekhawatiran resesi akibat perang dagang yang dilancarkan Donald Trump. Tujuh saham utama di Wall Street menyeret kejatuhan saham hingga mata uang kripto.
Dalam penutupan perdagangan Senin (10/3/2025) sore waktu New York atau Selasa dini hari WIB, seluruh indeks harga saham dan komoditas bursa AS rontok. S&P 500, Dow 30, Nasdaq, dan Russel 2000 terpangkas lebih dari 2 persen. Nasdaq paling parah, anjlok 4 persen. Ini penurunan paling buruk sejak 2022.
Penurunan di bursa AS, antara lain, diseret tujuh saham emiten besar teknologi atau dikenal sebagai ”Magnificent Seven”. Saham itu adalah Nvidia, Tesla, Alphabet, Amazon, Meta, Apple, dan Microsoft. Saham Tesla, salah satu perusahaan yang dikendalikan Elon Musk, terkoreksi paling buruk, yakni 15,43 persen.
Sejak Trump menang pemilu AS pada 5 November 2024, saham Tesla terus terkoreksi. Musk secara terbuka mendukung, lalu menjadi bagian pemerintahan Trump.
Dalam empat bulan terakhir, harga tertinggi Tesla tercatat 481 dollar AS per saham pada 17 Desember 2024. Pada penutupan perdagangan 10 Maret 2025, harganya terkoreksi menjadi 222,15 dollar AS per saham.
Tak cuma di AS, koreksi pasar juga dialami Eropa dan Asia. Kecuali Jepang, penurunan di bursa Eropa dan Asia tidak separah bursa AS. Di Asia, Nikkei Jepang paling buruk karena anjlok 2,23 persen setelah kehilangan 824,57 poin pada pembukaan perdagangan, Selasa.
Koreksi besar-besaran juga terpantau di pasar mata uang kripto. Kini, setiap bitcoin diperdagangkan pada 77.080 dollar AS. Pada 2 Maret 2025, harganya menyentuh 94.423 dollar AS. Dalam sebulan terakhir, harga bitcoin telah turun 19,68 persen.
Ethereum malah lebih buruk lagi, kehilangan 30,3 persen dalam sebulan terakhir. Dalam perdagangan, Senin, Ethereum ditutup turun 10,94 persen ke 1.814 dollar AS.
Padahal, kemenangan Trump pernah disambut gempita oleh pelaku pasar mata uang kripto. Pasar itu semakin meriah kala Trump mengumumkan AS akan membuat cadangan mata uang kripto. Walakin, hanya dalam hitungan hari, harga aneka mata uang kripto terkoreksi lagi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/11/6702dbbd-79f4-4827-a606-9cd10eb780b1_jpg.jpg)
Pasar bereaksi negatif setelah Trump tak mau menyanggah peluang resesi di AS. Peluang dikhawatirkan terbuka akibat gangguan rantai pasok yang dipicu perang dagang Trump.
Meski maju mundur, Trump mengenakan tarif bea masuk impor (BMI) atas komoditas-komoditas dari berbagai mitra dagang utama AS. Sebagai balasan, mitra dagang AS juga mengenakan BMI untuk berbagai komoditas AS.
Trump berkilah, BMI akan memaksa produsen membuka pabrik di AS. Sejumlah produsen memang sudah mengumumkan investasi miliaran dollar AS untuk menghindari BMI atas produk mereka ke AS. Juru bicara Gedung Putih Kush Desai malah menyebut, total komitmen investasi sejak Trump dilantik telah mencapai triliunan dollar AS.
Soal peluang resesi, Trump menyebut AS sedang periode peralihan. Di periode itu, beberapa hal mungkin menyakitkan. ”Saya benci memprediksikan hal-hal seperti itu,” katanya saat ditanya soal peluang resesi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut ekonomi AS sedang dalam tahap pembersihan diri. Selama ini, perusahaan AS dinilai terlalu bergantung pada belanja pemerintah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/11/5a8b93bd-8897-4e7a-83ea-2aa46833aa54_jpg.jpg)
Di era Trump, belanja pemerintah sedang berusaha dikurangi. Trump juga menggalakkan deportasi imigran dan mengurangi PNS federal.
Namun, pasar berpendapat lain. BMI akan membuat harga jual naik, baik untuk komoditas ekspor maupun impor. Saat harga naik, konsumsi cenderung melambat. Dampaknya, pendapatan produsen dan distributor juga berkurang. Potensi pengurangan pendapatan bisa memangkas dividen para pemegang saham.
Oleh karena itu, investor menilai lebih baik melepaskan saham segera daripada tak mendapat dividen yang layak. Jika investor ramai-ramai melakukan itu, harga saham terkoreksi.
Investor tak cuma mempertimbangkan BMI. Data pengangguran juga menjadi perhatian. Pengurangan PNS berarti menambah jumlah orang yang kehilangan penghasilan. Orang yang kehilangan penghasilan cenderung menahan konsumsi.
Deportasi massal juga menjadi masalah. Sebab, selama ini imigran menjadi salah satu sumber tenaga kerja di AS. Deportasi membuat berbagai sektor kekurangan pekerja yang bisa digaji murah. Berbagai sektor hanya akan bisa merekrut tenaga bergaji lebih tinggi. Hal itu berarti peningkatan pengeluaran produsen atau distributor dan ujungnya bisa memangkas keuntungan mereka.
Kombinasi berbagai faktor itu membuat sejumlah pihak memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS. Analis Goldman Sachs memangkas dari 2,2 persen menjadi 1,7 persen saja. ”Pasar keberatan dengan tarif,” kata Direktur Pengelola E-Trade dari Morgan Stanley, Chris Larkin. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .