Banyak peringatan politik bagi Partai Republik muncul beberapa bulan terakhir. Selain perang di Iran, situasi domestik mengkhawatirkan karena harga bensin naik.
26 Mar 2026 16:00 WIB · Internasional
AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/CHIP SOMO
WASHINGTON, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump yakin akan tetap meraih kemenangan dalam pemilihan paruh waktu pada November 2026. Keyakinan teguh ini muncul meski banyak masalah timbul selama pemerintahannya, termasuk perang AS-Israel melawan Iran yang terus bergejolak.
Trump pada Rabu (25/3/2026) waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia menyatakan, Partai Republik akan meraih suara mayoritas di Kongres yang lebih besar saat pemilu sela. Dia berjanji akan berkampanye untuk setiap kandidat Republikan.
Namun, ia mengakui peluang untuk menang tidak mudah. Sebab, presiden petahana biasa kehilangan kursi mayoritas di Kongres saat pemilu sela, terlepas dari apakah presidensi tersebut sukses.
”Mulai sekarang hingga November, kita akan berjuang. Kita akan memiliki mayoritas yang lebih besar di DPR dan Senat daripada yang kita miliki saat ini,” kata Trump dalam acara penggalangan dana tahunan Komite Kongres Republikan Nasional (NRCC) di Union Station, Washington DC.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/26/474ed235-9758-4891-915d-2e2133642e01_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/26/e659680c-6f54-49a7-89da-39df3515d5fb_jpg.jpg)
Banyak peringatan politik muncul beberapa bulan terakhir. Meski Trump mengklaim ”menang besar” dalam perang di Iran, sebagian warga AS tidak sependapat. Jajak pendapat The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research, Rabu, mendapati, sekitar 59 persen warga AS mengatakan serangan militer AS di Iran berlebihan.
Pemilih juga khawatir karena kurangnya komunikasi dari pemerintah. Senator Republikan Lisa Murkowski mengatakan, konstituennya di Alaska bertanya tentang langkah selanjutnya pemerintahan Trump di Iran, khususnya apakah Trump akan mengerahkan pasukan di sana.
”Ada banyak hal yang ingin diketahui orang, tentang bagaimana hal itu dikomunikasikan di media, atau bagaimana hal itu dikomunikasikan di Kongres, saya pikir saat ini masih kurang,” kata Murkowski.
Untuk menenangkan situasi, Trump sudah menyatakan, perang akan segera berakhir walau tidak jelas apa saja tujuan dari perang tersebut. Pada kenyataannya, situasi saat ini bertentangan dengan realitas yang terjadi.
Pada awal pekan ini, Trump masih menunda serangan ke pembangkit listrik Iran selama lima hari, sementara pasukan darat AS bergerak ke kawasan. Jika serangan itu terjadi, Iran bakal membalas keras terhadap fasilitas energi, air, dan bisnis yang berada di negara-negara kawasan.
Ditambah lagi, kondisi dalam negeri saat ini belum membaik sesuai dengan pernyataan Trump. Para pemilih mulai menyoroti masalah keterjangkauan. Inflasi kembali meningkat, termasuk harga bensin, setelah perang terjadi.
Jajak pendapat AP-NORC menemukan, 45 persen ”sangat” atau ”cukup” khawatir tentang kemampuan untuk membeli bensin dalam beberapa bulan ke depan. Angka ini naik dari 30 persen dalam jajak pendapat AP-NORC yang dilakukan setelah Trump menang dalam pemilu presiden lalu.
Harga bensin di AS berada pada 3,12 dolar AS per galon ketika Presiden Joe Biden selesai menjabat. Harga bensin sempat di bawah 3 dolar AS sebelum AS-Israel menyerang Iran. Menurut Asosiasi Otomotif Amerika (AAA), rata-rata harga bensin sekarang ialah 3,98 dolar AS.
Harga bensin yang lebih tinggi di SPBU cenderung berdampak pada perekonomian. Sebab, harga di toko bahan makanan, sektor jasa, dan bidang lainnya bakal terdampak. Artinya, dampak politik terburuk mungkin akan terjadi beberapa bulan sebelum perhelatan pemilu.
Padahal, suku bunga jangka panjang sedang naik sehingga berdampak pada pinjaman hipotek, pinjaman mobil, dan pinjaman bisnis. Sementara pasar tenaga kerja melemah. Perusahaan-perusahaan memangkas 92.000 pekerjaan, bulan lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/26/071655ff-3abc-4be6-80da-e3e9213be404_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/26/97c7af12-b076-4e0e-a665-d7656be1b589_jpg.jpg)
Kampanye keras Trump melawan imigran gelap turut tetap menimbulkan kekhawatiran. Sudah beberapa nyawa berjatuhan karena bentrok antara warga dan agen Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) selama operasi.
Masalah politik lain adalah Pemerintah AS menghentikan sebagian kegiatan operasional pemerintahan (shutdown) selama lima pekan. Kongres dari Demokrat memblokir pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri guna membatasi agenda imigrasi Trump. Beberapa bandara mengalami kekacauan karena karyawan Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) berhenti kerja.
”Rakyat lelah dengan kekacauan. Mereka lelah dengan alasan-alasan, dan mereka lelah menyaksikan Washington gagal,” tutur anggota DPR Mark Alford dari Partai Republik, Selasa (24/3/2026), dalam konferensi pers untuk menyalahkan Demokrat.
Tanda bahaya terbaru bagi Republikan adalah kemenangan Demokrat di Florida. Anggota legislatif tingkat negara bagian, Emily Gregory dari Demokrat, unggul dalam pemilihan khusus walau ia harus mencalonkan diri lagi pada November. Trump memiliki perkebunan Mar-a-Lago, Palm Beach, di negara bagian itu, tempat ia sering menghabiskan akhir pekan.
Sejauh ini, Trump kebanyakan menanggapi kekhawatiran pemilih dengan terus merujuk pada pasar saham yang mencapai rekor tertinggi serta harga bensin yang sempat rendah. Ia bersikukuh bahwa guncangan ekonomi dan politik bersifat sementara.
”Kita harus membasmi kanker itu. Kanker itu adalah Iran dengan senjata nuklir, dan kita telah membasminya,” kata Trump beralasan.
Ia juga menyalahkan media atas opini negatif warga AS tentang perang Iran. Media-media tidak menggemakan klaim kemenangan AS, termasuk bahwa militer Iran hancur. Sejak memasuki pekan keempat perang, Iran tetap mampu mempertahankan kemampuan menyerang di kawasan dan menutup Selat Hormuz yang berdampak pada perdagangan minyak global.
”Jika mendengarkan berita, Anda berpikir kita kalah dalam perang di Iran, padahal kita menghancurkan pihak lain,” ujar Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/26/9c02d853-0da8-451b-a1f7-02faae52e4dd_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/22/4edb0354-dd12-49af-af5c-13751385d854_jpg.jpg)
Terkait situasi di dalam negeri, Trump kembali menyalahkan Demokrat atas shutdown. ”Mereka tidak ingin berdamai. Mereka menginginkan kekacauan,” ucapnya.
Anggota DPR Nick LaLota dari Partai Republik berpendapat, perang di Iran adalah upaya Trump untuk memikirkan keamanan jangka panjang AS. Karena masih dini untuk mengambil kesimpulan, ia menyarankan untuk mengambil pendekatan ”tunggu dan lihat” menjelang November.
Dampak apa pun yang muncul, kata dia, bergantung pada apakah AS telah menghentikan ambisi nuklir Iran dan membuka kembali Selat Hormuz. ”Saya pikir ini bisa menjadi hal yang memperkuat pendekatan konservatif terhadap keamanan nasional,” ujarnya.
Ketua DPR Mike Johnson memberi isyarat bahwa Partai Republik akan bangkit atau jatuh bersama Trump, November nanti. ”Kita akan lihat bagaimana hasilnya, tetapi rencana permainan persis sama. Kami akan keluar dan menjual janji, janji-janji yang telah ditepati, rekam jejak kami yang baik, dan kami sangat antusias dengan kampanye nanti,” ucapnya. (AP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji