Eskalasi terus meningkat antara Hizbullah dan Israel di wilayah perairan Lebanon tempat Satgas Maritim Kontingen Garuda XXVIII-P UNIFIL akan bertugas.
19 Des 2024 20:54 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — TNI kembali mengirimkan Satuan Tugas Maritim atau Maritime Task Force (MTF) Kontingen Garuda XXVIII-P ke Lebanon. Eskalasi yang terjadi di negara tujuan penugasan satgas membuat MTF TNI fokus pada peningkatan kemampuan di lapangan, khususnya kemampuan melakukan peperangan elektronik.
”Situasi Lebanon sekarang sedikit beda. Jadi, koordinasi-koordinasi di lapangan ditingkatkan. Ada tugas-tugas rutin, tapi ada tugas-tugas lapangan harus kita cari sebagai bagian dari diplomasi,” kata Inspektur Jenderal TNI Letnan Jenderal Muhammad Saleh Mustafa, Kamis (19/12/2024), di Jakarta, saat melepas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-P UNIFIL.
Dalam tugasnya, satgas ini akan menggunakan KRI Sultan Iskandar Muda-367 (SIM). Tim ini akan menggantikan satgas sebelumnya yang menggunakan KRI Diponegoro-365. Total ada 120 anak buah kapal dan 15 orang lainnya seperti pilot helikopter dan tim, perwira intelijen, bagian psikologi, penerangan, kopaska, dan penyelam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/19/49dc2472-d050-4879-8a4e-9ad84e609545_jpg.jpg)
”Kedua belah pihak sama-sama meningkatkan intensitas kegiatan. Ada indikasi meningkatnya pancaran gelombang elektromagnetik yang menandakan meningkatnya ancaman peperangan elektronika,” kata komandan satgas yang juga Komandan KRI SIM Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah.
Karena itu, tambah Anugerah, KRI SIM mengalami peningkatan kemampuan anti-peperangan elektronik. Selain ada tambahan alat sebagai cadangan dari alat-alat peperangan elektronik yang telah terpasang di SIM, satgas juga mempersiapkan berbagai tindakan. ”Jadi, kalau diperlukan, kita bisa bertindak sesuai dengan aturan pelibatan Satgas MTF di Lebanon,” kata Anugerah.
Ada indikasi meningkatnya pancaran gelombang elektromagnetik yang menandakan meningkatnya ancaman peperangan elektronika.
KRI SIM akan melalui beberapa fase, yaitu operasi penyeberangan dari Indonesia menuju Lebanon. Perjalanan dimulai dari Surabaya, lalu mampir ke Jakarta dan Batam sebelum lanjut ke Colombo, Salalah, Pintu Salalah Suez, dilanjutkan ke Port Said dan terakhir Beirut. Selanjutnya, MTF akan melakukan alih komando dan pengendalian di bawah Satgas Maritim PBB di Lebanon, dilanjutkan melaksanakan operasi selama 365 hari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/19/82f1fcb7-3e62-4c64-8385-063e573ef74d_jpg.jpg)
Saleh mengatakan, MTF TNI itu memiliki empat tugas operasi. Yang pertama adalah melaksanakan pemantauan maritim dan operasi interdiksi maritim. Operasi yang dilaksanakan bersama AL Lebanon ini untuk mencegah masukanya senjata ilegal atau material terkait ke wilayah Lebanon lewat laut. Kedua, membantu AL Lebanon untuk meningkatkan kapabilitas agar nantinya bisa melaksanakan tanggung jawab secara independen dan otonom di wilayah Lebanon. Ketiga, membantu AL Lebanon dalam penerapan konsep logistik dan pelatihan kru.
”Terakhir, ikut berperan dalam penyediaan gambar udara yang komprehensif di atas area operasi maritim,” kata Saleh.
Anugerah mengatakan, untuk melaksanakan tugas tersebut, MTF TNI sudah punya rencana operasi. Tugas-tugas dirincikan dalam prosedur standar operasi. Hal-hal tersebut pun sudah dilatih selama 30 hari dalam latihan pratugas. Pada prinsipnya, KRI SIM akan berada di bawah komando MTF UNIFIL. Dengan demikian, semua aturan pelibatan dalam menghadapi berbagai eskalasi mengikuti perintah dari UNIFIL.
KRI SIM ada di bawah komando armada II juga dilengkapi dengan heli panther dari Penerbal.
”KRI SIM ada di bawah komando armada II juga dilengkapi dengan heli panther dari Penerbal,” kata Anugerah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/19/c77499f2-9b75-41cb-b2a7-f06fb3764086_jpg.jpg)
Penulis:
Edna Caroline PattisinaEditor:
Suhartono .