Bangkitnya kampus besar AS menolak perang Gaza disebut sebagai barometer kuat merosotnya pengaruh lobi Yahudi di AS
28 Jun 2024 11:00 WIB · Opini
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786_jpg.jpg)
Perang Gaza yang sudah berlangsung hampir 9 bulan (hingga akhir Juni 2024) sejak 7 Oktober 2023, cukup menggoyang, untuk tidak mengatakan merosotnya, pengaruh lobi Yahudi di AS (AIPAC).
Bangkitnya kampus-kampus besar AS menolak keras perang Gaza disebut sebagai salah satu barometer kuat tentang merosotnya pengaruh lobi Yahudi di AS. Sejumlah media dan pusat riset AS juga mulai menyerukan pentingnya gencatan senjata permanen di Jalur Gaza.
Baca juga: Mengenal Kelompok-kelompok Yahudi Anti-Zionis Israel yang Pro-Palestina
Beragam perkembangan terakhir itu menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Presiden AS Joe Biden pada 31 Mei 2024 mengumumkan proposal gencatan senjata di Jalur Gaza. Proposal gencatan senjata yang diumumkan Presiden Biden itu, merupakan salah satu indikator bergesernya kebijakan luar negeri AS yang lebih berimbang (tidak terlalu mendukung Israel secara membabi buta) terkait perang Gaza.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/29/1c9fa75a-d68a-4337-9edc-6d5a6aa612b6_jpg.jpg)
Selama ini AIPAC dikenal punya pengaruh kuat dalam ikut merancang kebijakan luar negeri AS yang sangat mendukung Israel. AIPAC yang dibentuk pada tahun 1953, merupakan lembaga lobi Yahudi paling sukses dalam merekatkan dan menjaga hubungan strategis AS-Israel.
Berkat AIPAC, Israel menjadi sekutu terdekat AS diluar negara-negara Eropa Barat, dan bahkan disebutkan kepanjangan negara AS atau menjadi bagian negara federal AS. AIPAC juga yang selama ini berhasil mencegah kedekatan hubungan AS dengan negara-negara Arab yang dianggap mengancam keamanan Israel.
Baca juga: Perang Gaza dan Gerakan Yahudi Anti-Zionis
Komite eksekutif AIPAC terdiri dari kelompok-kelompok utama Yahudi yang terdapat di 49 negara bagian AS. Anggota AIPAC lebih dari 100.000 orang dan ribuan lainnya dari simpatisan. Anggota AIPAC, selain warga Yahudi, juga terdapat anggota Kongres dari partai Demokrat dan Republik. Anggaran tahunan AIPAC tercatat sekitar 67 juta dollar AS dan memiliki 18 kantor yang tersebar di kota-kota besar AS.
Anggota AIPAC terdiri dari pemilik pabrik dan perusahaan besar dengan modal yang besar pula. Lebih dari 34 kelompok lobi Yahudi di AS bergerak secara sendiri maupun kerja sama untuk kepentingan Israel. AIPAC bergerak dengan cara menguasai kampus-kampus, lembaga riset dan konsultan, media, dan birokrasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/19/83861015-51a5-49b0-9a72-7565ddfde9d1_jpg.jpg)
Harian terkemuka Turki, Yenisafak pada 24 Juni 2024 menurunkan laporan investigasi tentang semakin sulitnya posisi lAIPAC di AS saat ini.
AIPAC merupakan Lembaga lobi Yahudi terkuat di AS sejak beberapa dekade terakhir ini yang berhasil meraih dukungan kuat dari dua partai politik dominan di AS, yakni partai Demokrat dan Republik. Berkat dukungan kuat dari partai Demokrat dan Republik itu, AIPAC selalu meraih kemenangan dalam voting suara di Kongres terkait isu kepentingan Israel dan selalu juga mendapat hak veto AS dalam setiap sidang DK PBB yang dianggap merugikan kepentingan Israel.
Baca juga: Refusenik, Generasi Muda Israel Penolak Perang
Bahkan AIPAC juga melakukan politik uang dalam kancah politik di AS, yakni dengan cara menstransfer uang secara langsung maupun tidak langsung untuk mencegah terpilihnya politisi yang dianggap tidak mendukung Israel sebagai anggota Kongres.
Sebaliknya AIPAC menstransfer uang kepada politisi yang dianggap bisa mendukung Israel sebagai anggota Kongres. Namun dukungan kuat terhadap Israel dari partai Republik dan Demokrat di Kongres terakhir ini, mulai retak menyusul aksi genosida Israel di Jalur Gaza yang mendapat kecaman keras masyarakat internasional.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/08/a9404342-4019-44da-a02b-b232e7d81551_jpg.jpg)
Menurut harian Yenisafak, AIPAC kini menghadapi masa paling sulit sejak tahun 1960an, menyusul terus merosotnya dukungan rakyat AS terhadap Israel terakhir ini. Merosotnya dukungan rakyat AS terhadap Israel itu, disebabkan perubahan komposisi penduduk di AS menyusul semakin bertambahnya anggota kongres dari partai Demokrat yang menganut ideologi progresif kiri. Anggota Kongres dari kelompok ini menolak kebijakan luar negeri AS yang mendukung secara membabi buta terhadap Israel.
Di kalangan partai Republik pun terakhir ini mulai muncul kelompok yang mengkritisi Israel. Padahal selama ini partai Republik jauh lebih kuat dari partai Demokrat dalam dukungannya terhadap Israel.
Mulai adanya pergeseran di kalangan partai Republik dengan munculnya kelompok kritis terhadap Israel, akibat munculnya para pemilih baru partai Republik yang menolak keras kucuran dana dari AS dalam perang yang tiada akhirnya atau bantuan luar negeri AS yang tidak ada kaitannya dengan keamanan nasional AS.
Harian Yenisafak melaporkan, AIPAC kini sedang menghadapi tantangan besar di AS, menyusul terjadi perubahan komposisi sosial dan politik di AS terakhir ini.
Gagalnya AIPAC mencegah dan kemudian menghentikan aksi unjuk rasa di kampus-kampus AS menentang perang Gaza saat ini, menunjukkan terjadinya pergeseran cukup signifikan dalam komposisi sosial dan politik di AS.
Sering terjadinya perbedaan pendapat antara Presiden AS Joe Biden dan PM Israel Benjamin Netanyahu dalam isu perang Gaza terakhir ini, juga melemahkan peran AIPAC, atau AIPAC gagal menjaga hubungan harmonis Biden-Netanyahu.*
Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022
Penulis:
MUSTHAFA ABD RAHMANEditor:
BONIFASIUS JOSIE SUSILO HARDIANTO