EKONOMI

Perang Iran Semakin Membebani Dunia

Krisis energi berdampak kepada semua aspek kehidupan dan kegiatan. Krisis juga menimbulkan biaya tinggi yang juga semakin membebani.

03 Apr 2026 08:00 WIB · Internasional

ap/Altaf Qadri

Oleh Helena Fransisca Nababan

Dampak perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran sudah merembet ke banyak sektor di seluruh dunia. Industri besar, industri kecil, perdagangan, pangan, pertanian, jasa logistik, hingga industri transportasi merupakan sebagian sektor yang semakin tertekan oleh dampak perang yang meletus pada 28 Februari 2026.

Di AS, perang AS-Iran sudah mengganggu kelangsungan usaha kecil. Perang mengakibatkan biaya pengiriman barang atau produk menjadi lebih mahal. Pada saat yang sama, konsumen semakin hemat.

Situasi saat ini mengingatkan para pelaku usaha kecil AS dengan pandemi Covid-19. Pandemi membuat gangguan pada rantai pasok sangat parah. Para pelaku usaha khawatir, jika perang terus berlarut, gangguan yang terjadi bisa menyamai gangguan saat pandemi.

”Biaya meningkat, rute berubah, dan kapasitas semakin terbatas. Semua terjadi bersamaan, dan itu adalah badai sempurna bagi bisnis kecil,” kata Brandon Fried, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengangkutan Udara AS (Airforwarders Association).

Dari sektor pertanian, salah satu produk pertanian AS yang terkenal adalah kacang pistachio. Data Departemen Pertanian AS menyebutkan, AS merupakan pengekspor kacang pistachio terbesar di dunia.

Salah satu perusahaan penanam dan pengolah pistachio AS adalah Nichols Farms, di Hanford, California. Sekitar 50 persen produk pistachio Nichols Farms memenuhi pasar luar negeri. Perusahaan ini mengekspor pistachio ke Eropa, China, dan semakin banyak ke Timur Tengah.

Penutupan efektif Selat Hormuz, kata Kepala Operasional Nichols Farms Jared Lorraine, membuat pengiriman pistachio ke beberapa pelanggan menjadi tidak mungkin. Ketika perang meletus, Lorraine memperkirakan pistachio senilai 5 juta dolar AS terkatung-katung di perairan. Penutupan Selat Hormuz membuat pistachio itu tidak dapat dikirimkan kepada pelanggan di Arab Saudi, Iran, dan Uni Emirat Arab (UEA).

”Meskipun sebagian besar perhatian publik terfokus pada minyak, yang memang signifikan, menurut saya kerusakan sistem pangan sama seriusnya,” kata Lorraine, seraya menambahkan bahwa 70-80 persen makanan di Timur Tengah diimpor.

Jake Wilson, pemilik Top Class Lawn Care, menuang pupuk ke dalam wadah sebelum disebar ke halaman rumput pada Kamis (26/3/2026) di Kansas City, Missouri, AS.

Melalui sejumlah upaya seperti perubahan rute pengiriman, Nichols Farms berhasil mengirim sebagian pistachio. Satu pengiriman diturunkan di Jeddah, Arab Saudi, untuk diangkut dengan truk ke UEA. Dua pengiriman lainnya berhasil sampai ke pelabuhan Oman setelah dimuat ulang ke dalam kontainer yang lebih kecil di India.

Akan tetapi, pistachio senilai 3,5 juta dolar AS masih belum jelas nasibnya di laut. ”Sebagian besar dalam keadaan tidak pasti,” kata Lorraine.

”Secara harfiah, pistachio itu sudah menganggur selama tiga minggu terakhir dan kami hanya berkata, OK, apa yang harus kita lakukan?” imbuh Lorraine.

Perang juga membuat Matthew Tran harus membayar lebih mahal biaya pengiriman sepatu yang ia produksi. Tran merupakan pendiri Birchbury, jenama alas kaki minimalis yang berbasis di Los Angeles.

Perusahaan ini memproduksi sepatu di Vietnam dan mengirimkannya ke pelanggan di seluruh AS, Inggris, Australia, dan Kanada. Sebelum perang, Tran membayar sekitar 3.500 dolar AS per kontainer untuk pengiriman dari Vietnam. Namun, sejak perang meletus, Tran harus merogoh kocek hingga 7.000 dolar AS per kontainer untuk pengiriman.

Berlipatnya biaya muncul karena pengirim harus menghadapi pengalihan rute dan biaya asuransi yang lebih tinggi. Waktu tunggu pengiriman juga meningkat tiga hingga empat minggu. ”Lamanya waktu pengiriman seperti kemacetan lalu lintas,” kata Tran.

Tran membandingkan gangguan saat ini dengan gangguan saat pandemi Covid-19. Saat pandemi, rantai pasok sangat buruk karena semua berhenti. Dengan perang AS-Iran, Tran terus mempertanyakan sampai berapa lama perang akan berlangsung.

Sebagai pelaku usaha, Tran mengkhawatirkan daya beli masyarakat. Perang sudah menimbulkan krisis energi, dengan dampak kenaikan harga bahan bakar di sejumlah negara. Ia khawatir pembeli lebih memilih membeli bahan bakar daripada membeli sepasang sepatu.

Penutupan Selat Hormuz juga sudah mengganggu pasokan pupuk ke AS. Menurut Asosiasi Pupuk Internasional, Timur Tengah memasok hampir 30 persen ekspor pupuk global.

Penutupan selat membuat harga pupuk terancam melambung. Bagi Jake Wilson, pelaku usaha perawatan taman di Kansas City, kenaikan harga pupuk adalah masalah.

Sebagai perawat hampir 400 halaman rumput di bawah bendera Top Class Lawn Care, Wilson menetapkan harga untuk perawatan halaman rumput selama setahun. Sekitar 70 persen pelanggannya sudah membayar di muka pada awal tahun.

Satu atau dua hari setelah perang meletus, ujar Wilson, dua pemasok pupuk mengirim surel kepadanya. Mereka mengatakan kemungkinan kenaikan harga pupuk dan menyarankan agar ia melakukan pemesanan sebelum kenaikan harga.

Alhasil, Wilson lantas berusaha mengamankan pasokan pupuk. Ia juga terpaksa harus menaikkan biaya perawatan tamannya.

Dalam arsip foto yang diambil pada 27 September 2019, di pusat pengiriman Airbus di Colomiers, Perancis barat daya, terlihat pengiriman Airbus A350 pertama Air France-KLM. Imbas kenaikan harga bahan bakar jet akibat perang Iran membuat Air France-KLM mengumumkan kenaikan harga tiket pesawat.

Tiket pesawat

Perang Iran turut menekan industri transportasi udara. Krisis energi membuat maskapai harus menaikkan harga tiket. Maskapai penerbangan yang bersiap menaikkan harga tiket adalah maskapai Taiwan, Eva Air.

Eva Air akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar sekitar 27,50 dolar AS untuk penerbangan internasional jarak pendek dan 71,50 dolar AS untuk penerbangan internasional jarak jauh.

”Kenaikan biaya ini akan diberlakukan mulai Selasa (7/4/2026),” kata Direktur Administrasi Penerbangan Sipil (CAA) Taiwan Ho Shu-ping, Rabu (1/4/2026), seperti dikutip Taipei Times.

Kebijakan itu diambil akibat lonjakan harga bahan bakar jet dampak dari kenaikan harga minyak internasional. ”Besaran biaya tambahan tersebut didasarkan pada perkiraan harga minyak awal oleh CPC Corp, Taiwan, dan belum secara resmi diajukan oleh maskapai penerbangan,” kata CAA dalam sebuah pernyataan.

Rencana kenaikan biaya tambahan ini akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar untuk penerbangan internasional yang berangkat dari Taiwan menjadi 45 dolar AS dari sebelumnya 17,50 dolar AS untuk penerbangan jarak pendek. Adapun untuk penerbangan internasional jarak jauh, biaya tambahan menjadi 117 dolar AS dari sebelumnya 45,50 dolar AS.

Ho menambahkan, CAA menginstruksikan maskapai penerbangan untuk memberikan informasi yang relevan dan transparan kepada para penumpang, agen perjalanan, dan pemilik kargo. Langkah demikian membantu mengurangi sengketa konsumen.

Selain Taiwan, Nepal pada Selasa (31/3/2026) malam waktu setempat sudah menaikkan harga bahan bakar penerbangan hingga dua kali lipat. Akibatnya, harga tiket pesawat naik tajam.

Nepal Oil Corporation menaikkan harga bahan bakar sebesar 84,7 persen untuk penerbangan internasional dari Kathmandu, sebesar 116,2 persen untuk jet yang beroperasi dari Pokhara, dan 117,4 persen dari Bhairahawa. Nepal Oil beralasan, kenaikan dilakukan karena perlu melakukan pembayaran kepada perusahaan penyulingan Indian Oil Corporation untuk pasokan.

Nepal Oil Corporation juga menaikkan harga bahan bakar jet untuk penerbangan domestik sebesar 97,6 persen. ”Hal ini mengakibatkan lonjakan harga tiket pesawat domestik hingga 50 persen,” kata Otoritas Penerbangan Sipil Nepal.

Dari China, maskapai nasional Air China juga berencana menaikkan biaya tambahan bahan bakar mereka mulai hari Minggu. Maskapai penerbangan lain, seperti Air France-KLM, Air India, Qantas, dan SAS, sudah menaikkan tarif mereka untuk menyesuaikan dengan kenaikan harga bahan bakar jet. Dengan kenaikan itu, penumpang pesawat mesti siap-siap menghadapi mahalnya tiket pesawat. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji