TIMUR TENGAH

Situasi Kian Tak Menentu, AS Bersiap ”Akhiri” Perang

Keterangan  AS soal target perang ke Iran selalu berubah. Saat eskalasi berlanjut, Trump menyatakan siap mundur dari Timur Tengah. Iran terus membalas serangan.

22 Mar 2026 10:51 WIB · Internasional

AFP

Oleh Iwan Santosa

WASHINGTON, MINGGU — Di tengah kekacauan global yang dipicu agresi Amerika Serikat-Israel ke Iran, Presiden AS Donald Trump menyatakan siap meninggalkan Timur Tengah. Ia mengatakan, Washington mempertimbangkan untuk segera ”mengakhiri” perang.

Perang sudah memasuki pekan keempat, Minggu (22/3/2026). Dalam unggahan di akun Truth Social, Sabtu, Trump mengatakan, AS hampir mencapai target dalam operasi militer besar-besaran yang dilancarkan terhadap Iran.

Namun, pemerintahan Trump terus memberikan keterangan yang berubah-ubah, dari soal tujuan perang hingga soal cara mengakhiri perang. Terkadang, dalam pidato atau unggahan di media sosial, pernyataan yang dilontarkan bertentangan. Trump mengirimkan serangkaian sinyal yang membingungkan tentang perang di Iran sehingga menimbulkan lebih banyak pertanyaan soal arah konflik dan strategi pemerintahannya.

Para pengamat pun semakin meyakini, kombinasi pernyataan dan tindakan yang membingungkan itu menegaskan tidak ada strategi yang jelas dalam perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran. Perang tetap berada di jalur yang tidak dapat diprediksi.

Selama waktu ini, Trump mengatakan AS bersiap mundur dari Timur Tengah. Pada saat yang sama pemerintahannya mengonfirmasi pengiriman lebih banyak pasukan ke Timur Tengah.

Hanya 24 jam setelah mengatakan AS sedang mempertimbangkan untuk menarik diri dari konflik tersebut, Trump mengeluarkan pernyataan kontradiktif lainnya pada Sabtu malam. Ia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tidak sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam.

”Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dengan yang terbesar terlebih dahulu,” katanya di Truth Social.

A cargo ship sails in the Arabian Gulf towards Strait of Hormuz in United Arab Emirates, Sunday, March 15, 2026. (AP Photo/Altaf Qadri)

Sebuah kapal kargo berlayar di Teluk Arab menuju Selat Hormuz, 15 Maret 2026.

Ancaman Trump akan memperluas cakupan serangan AS ke infrastruktur yang memengaruhi kehidupan sipil sehari-hari di Iran.

Menanggapi ancaman itu, markas komando militer Khatam al-Anbiya Iran, Minggu, mengatakan, jika AS menyerang infrastruktur bahan bakar dan energi, Iran akan menargetkan semua fasilitas energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik AS di kawasan Timur Tengah.

Rudal balistik

Sebelumnya Iran telah meluncurkan dua rudal balistik dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, perairan Samudra Hindia. Militer Israel mengatakan, ini pertama kali Iran menggunakan rudal jarak jauh sejak perang meletus pada 28 Februari lalu.

FILE - This image released by the U.S. Navy shows an aerial view of Diego Garcia in the Chagos Island group. (U.S. Navy via AP, File)

”Rudal-rudal ini tidak dimaksudkan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa: Berlin, Paris, dan Roma, semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung,” kata Kepala Militer Israel Eyal Zamir dalam pernyataan.

Pemerintah Inggris mengatakan serangan terjadi sebelum Inggris menyatakan memberi izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan militer strategis tersebut untuk ”pertahanan”.

Trump berpendapat, AS telah cukup melemahkan kemampuan angkatan laut, rudal, dan industri Iran serta mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Ia juga menyebutkan, AS dapat menarik diri dari perang di Iran tanpa menstabilkan situasi di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Ia mendesak negara lain mengambil alih operasi AS dalam mengawasi Selat Hormuz yang ditutup Iran. ”Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, jika perlu, oleh negara-negara lain yang menggunakannya. Amerika Serikat tidak,” ujarnya.

Sebelumnya, Trump merajuk pada Pakta Pertahanan Atlanik Utara (NATO) karena tidak mau membantu agresi yang dilancarkan AS-Israel di Iran. Negara-negara NATO menyatakan tidak mau terlibat perang yang tidak pernah dikonsultasikan kepada mereka. Secara aturan hukum AS, Trump menabrak aturan dengan tidak meminta izin Konggres untuk melancarkan perang.

Lebih dari 2.000 orang di Iran tewas sejak AS-Israel menyerang. Israel mengklaim menyerang pabrik rudal dekat Kota Teheran. Sekurangnya tiga anggota keluarga di Iran di Kota Ramsar tewas akibat serangan terbaru Israel.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan tengah mempersiapkan serangan lebih besar dalam beberapa hari ke depan. ”Kami terus menyerang rezim Iran untuk menghabisi para pemimpinnya dan menghambat kemampuan mereka membahayakan AS dan Israel,” kata Katz.

Sementara di Israel, sirene serangan udara meraung-raung sejak pagi, mengakibatkan warga bersembunyi di bunker bawah tanah. Iran menyerang sasaran di dekat pusat penelitian nuklir utama Israel. Serangan itu sebagai balasan atas serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz.

Ini kedua kalinya Natanz diserang sejak AS dan Israel melancarkan agresi ke Iran. Pada pekan pertama, Natanz telah menjadi target serangan AS-Israel. Natanz juga menjadi sasaran dalam Perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025.

Infografik-Rudal Balistik Apa Saja yang Dimiliki Iran dalam Gudang Senjatanya?

Komunitas internasional khawatir perang akan berkepanjangan dan tidak menentu. Perang AS-Israel versus Iran mengakibatkan krisis energi berlanjut.

Di Eropa, harga gas naik 35 persen setelah Israel menghantam ladang gas terbesar dunia milik Iran-Qatar di South Pars. Iran membalas dengan menghantam berbagai fasilitas migas di Timur Tengah yang mengakibatkan kekacauan harga dan pengiriman bahan bakar minyak.

India, yang mengalami kesulitan pasokan gas, mendekati Iran agar tanker tujuan India diizinkan melintas Selat Hormuz. Sudah dua tanker pengangkut LNG ke India diizinkan melintas dan dua tanker bersiap sejak Jumat.

Jepang menjadi salah satu negara yang mendapatkan ”lampu hijau” dari Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan telah berkomunikasi dengan Jepang terkait kemungkinan pembukaan Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang memasok energi negara itu. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra