TIMUR TENGAH

Situs Warisan Dunia, Jiwa Bangsa Iran yang Terancam Kecamuk Perang

Iran menjadi rumah bagi 29 situs Warisan Dunia UNESCO. Karena serangan AS-Israel, beberapa di antaranya mengalami kerusakan.

13 Mar 2026 15:00 WIB · Internasional

Kompas/Sarie Febriane

Oleh Luki Aulia

Iran mewarisi jejak peradaban bangsa Persia yang besar. Situs-situs bersejarah bertebaran di berbagai penjuru negeri menandai perjalanan bangsa itu hingga kini. Selain bernilai sejarah, situs-situs itu menjadi tujuan wisatawan.

Namun, perang yang kini berkobar kala Iran melawan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel merusak banyak situs sejarah dan budaya yang dilindungi. Ikon-ikon bersejarah itu telah bertahan melewati gejolak zaman, dan kini kembali diuji ketahanannya.

”Bagi saya, monumen kuno sama pentingnya dengan nyawa manusia karena monumen itu menghubungkan saya dengan masa lalu saya. Menghancurkannya berarti menghancurkan ingatan saya,” kata Mojtaba Najafi, cendekiawan dan peneliti terkemuka Iran, dalam unggahan di media sosial, dikutip The New York Times, Rabu (11/3/2026).

Iran menjadi rumah bagi 29 situs Warisan Dunia UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa). Banyak di antaranya berada di Isfahan. Mereka yang pernah mengunjungi Isfahan punya pendapat sama: ini kota paling magis di Iran. Kota ini salah satu kota terpenting di Asia Tengah dan titik kunci di jalur perdagangan Jalur Sutra.

Di Isfahan terdapat Masjid Jameh, masjid tertua di Iran. Masjid Jameh berusia lebih dari 1.000 tahun, dengan menara dan kubah berwarna cerah yang dihiasi kaligrafi Persia. Bangunan ini termasyhur sebagai permata arsitektur Persia dan Islam. Masjid Jameh menunjukkan perkembangan seni Islam selama 12 abad.

Sayangnya, masjid indah ini turut menjadi korban serangan AS-Israel. The New York Times melaporkan, gelombang ledakan pada Senin (9/3/2026) menyebabkan ubin warna pirus dari Masjid Jameh yang ikonik berjatuhan. Kepulan asap membubung dari belakang masjid.

Damage caused by U.S. and Israeli strikes on Iran is seen at the Qajar-era Golestan Palace in Tehran, Iran, March 3, 2026. (ISNA via AP)

Keindahan warisan peradaban besar Iran lainnya yang terkena serangan adalah Istana Golestan yang mewah dari masa Dinasti Qajar (1789-1925) di Teheran. Menurut penjelasan di laman UNESCO, istana ini dipilih sebagai kediaman para raja Persia dan pusat kekuasaan Dinasti Qajar. Istana ini bukti keagungan peradaban Iran pada abad ke-19.

Istana Golestan menunjukkan pengenalan gaya Eropa dalam seni Persia. Shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi, mengadakan upacara penobatan di istana itu pada 1969.

Karena serangan AS-Israel, pecahan kaca dari langit-langit cermin istana berserakan di lantai. Jendela istana yang sering dibandingkan dengan Istana Versailles di Perancis itu hancur berserakan di bawah dinding mozaik kaca.

Setidaknya ada empat situs Warisan Dunia UNESCO di Iran yang dikonfirmasi rusak. Selain Masjid Jameh dan Istana Golestan, situs lain di Isfahan, yakni Istana Ali Qapu dan Istana Chehel Sotoun, turut mengalami kerusakan.

Lapangan Naqsh-e Jahan di Isfahan, Iran, 5 Februari 2023.
Lapangan Naqsh-e Jahan di kota Isfahan, Iran, 5 Februari 2026.

Kedua bangunan ini warisan dari Dinasti Safavid pada abad ke-17. Istana Ali Qapu terletak di sisi barat Alun-alun Naqsh-e Jahan, awalnya dimaksudkan sebagai gerbang masuk istana utama. Sementara Istana Chehel Sotoun dikenal karena taman hijau megah di tengahnya dan labirin pasarnya. Istana ini menjulang tinggi dengan kubah pirus serta menara yang dihiasi kaligrafi Persia.

Di istana itu, 20 menara tecermin di kolam biru dangkal di taman, menciptakan ilusi 40 menara. Ini menjelaskan namanya, yakni chehel sotoun yang dalam bahasa Persia berarti 40 kolom.

UNESCO menetapkan istana dan alun-alun tersebut sebagai Situs Warisan Dunia karena pentingnya nilai budaya dan sejarahnya. Namun, Istana Chehel Sotoun rusak gara-gara ledakan di Alun-alun Naqshe Jahan akibat gempuran AS-Israel.

Berdasarkan video dan gambar di televisi pemerintah, terlihat lukisan dinding istana roboh, ubin bermotif bunga pecah berkeping-keping, panel kayu ukiran tangan hancur. Cermin-cermin kecil yang disusun menjadi bintang dan segi enam berornamen hancur dan berserakan di lantai.

Istana Chehel Sotoon di Isfahan, Iran, 5 Februari 2023.

Di luar situs-situs Warisan Dunia, tempat-tempat bersejarah di Iran juga rusak akibat serangan AS-Israel. Salah satunya di dekat Lembah Khorramabad. Di lokasi itu ada lima goa prasejarah dan sebuah tempat berlindung di bebatuan yang membuktikan manusia tinggal di daerah itu sejak 63.000 tahun sebelum Masehi.

Pada Minggu (8/3/2026), kastil kuno di puncak bukit dan barak militer dari era Sasaniyah Persia (220-650 Masehi) rusak akibat serangan udara AS-Israel. Kastil kuno itu dikenal sebagai Kastil Shapur Khast dan Falak ol-Aflak itu yang berada di Khorramabad, Provinsi Lorestan.

Identitas pemersatu

Warga Iran bersedih dan marah atas rusaknya warisan budaya dan dunia akibat perang. Isfahan adalah kota kelahiran Nasim Alikhani, pemilik dan koki Sofreh, restoran Persia terkenal di Brooklyn, AS. Ia terpukul ketika mendengar tentang serangan di Isfahan.

”Alun-alun Naqsh-e Jahan bukan hanya situs bersejarah yang luar biasa, melainkan juga jantung dan jiwa setiap orang Iran. Tempat itu selamat dari invasi yang tak terhitung jumlahnya,” ujar pria keturunan Iran-AS ini.

Shabnam Emdada (35), warga AS keturunan Iran di New York, menyesalkan situs-situs warisan dunia yang rusak akibat perang. Sebab, situs itu penting artinya, terutama bagi warga Iran yang ada di luar Iran. ”Kami butuh konteks budaya. Kita perlu tahu siapa kita dan dari mana kita berasal,” ujarnya.

Ia pernah mengunjungi Istana Chehel Sotoun bersama ayahnya, beberapa tahun sebelum ayahnya meninggal. ”Itu kenangan terindah saya tentang ayah. Saya tak akan pernah lupa. Merusak situs itu sama saja merusak kenangan saya. Saya merasa seperti kehilangan sebagian dari diri saya,” tutur Emdada.

Gubernur Isfahan Mehdi Jamalinejad menyebut serangan terhadap kotanya sebagai tindakan barbar. ”Mereka menargetkan simbol-simbol peradaban tertua di dunia dengan persenjataan paling canggih,” tulisnya di media sosial.

Damage caused by U.S. and Israeli strikes is seen on the facade of the Qajar-era Golestan Palace in Tehran, Iran, March 3, 2026. (ISNA via AP)

Guru Besar Sejarah Timur Tengah dan Direktur Penelitian di Crown Center for Middle East Studies Universitas Brandeis, Naghmeh Sohrabi, menjelaskan situs-situs warisan dunia itu membawa memori sejarah yang melampaui ideologi.

”Mereka adalah monumen hidup yang bernapas bagi keindahan dan kreasi, bukan hanya untuk orang Iran, melainkan juga untuk kita semua di dunia,” kata Sohrabi kepada The New York Times.

Direktur Pusat Warisan Dunia UNESCO Lazare Eloundou Assomo khawatir terhadap nasib situs-situs bersejarah di Iran, Lebanon, Israel, dan seluruh Timur Tengah. Ia mendesak semua pihak untuk melindungi situs-situs itu. Sebelum konflik dimulai, UNESCO sudah memberikan koordinat geografis situs warisan budaya kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk mencegah kerusakan.

”Kami minta semua situs yang bernilai budaya penting ini dilindungi. Situs-situs ini menceritakan sejarah semua perabadan dari 18 negara di kawasan ini,” kata Assomo.

Damage caused by U.S. and Israeli strikes on Iran is seen at the Qajar-era Golestan Palace in Tehran, Iran, March 3, 2026. (ISNA via AP)

Kementerian Kebudayaan dan Warisan Iran telah memasang bendera biru di semua situs warisan budaya dan warisan. Ini untuk memberi sinyal kepada pesawat AS atau Israel bahwa situs-situs itu dilindungi.

Namun, upaya itu sia-sia. Bendera biru itu sesuai dengan protokol perang internasional. Militer Israel mengklaim tidak dengan sengaja menyasar situs-situs budaya itu.

”Perang ini merusak identitas bersama suatu komunitas lokal yang sering kali penting untuk menyatukan orang-orang,” kata peneliti di Divisi Persenjataan di Human Rights Watch, Bonnie Docherty.

Situs-situs bersejarah di Iran tetap bisa berdiri tegak meski mengalami gejolak sejarah. Mereka sudah mampu bertahan selama berabad-abad di bawah pemerintahan raja yang berbeda, invasi, kudeta, Perang Dunia II, Revolusi Islam, perang delapan tahun dengan Irak, dan gelombang protes terhadap pemerintah saat ini.

(Reuters/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji